Saat IHSG Terjun, Saham Emiten Milik Prajogo Ini (BREN) justru Cetak ATH hingga Market Cap 'Pepet' BBCA
JAKARTA, investortrust.id – Saat mayoritas saham berguguran hingga picu penurunan dalam indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (19/4/2024), sebanyak 79,48 (1,11%) menjadi 7.087,32, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) justru cetak penguatan ke level tertinggi baru sepanjang masa atau all time high (ATH).
Bedasarkan data BEI, saham BREN torehkan penguatan sebanyak Rp 200 (2,52%) ke level tertinggi baru sepanjang masa Rp 8.125. Saham emiten Prajogo Pangestu ini torehkan pergerakan dalam rentang Rp 7.550-8.125 sepanjang hari ini.
Baca Juga
Dipicu lompatan harga tersebut, kapitalisasi pasar (market cap) saham BREN kian tebal menjadi Rp 1.087,01 triliun atau berada diurutan kedua kategori market cap terbesar di BEI. Bahkan, posisinya kian mendekati market cap PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) senilai Rp 1.168,03 triliun.
Lalu, bagaimana sepak terjang emiten terbesar Prajogo Pangestu ini? BREN merupakan emiten pembangki listrik geothermal terbesar di Indonesia dengan kapasitas mencapai sebanyak 886 MW melalui anak usahanya, Star Enegy Geothermal yang mengoperasikan pembangkit listrik panas bumi Salak, Darajat, dan Wayang Windu.
Hingga akhir 2023, Barito Renewables (BREN) membukukan peningkatan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebanyak 17,87% menjadi US$ 107,41 juta pada 2023, dibandingkan periode sama tahun lalu US$ 91,12 juta.
Baca Juga
Saat IHSG Melorot, Kekayaan Prajogo Pangestu justru Makin Tebal, Ternyata Ini Penopangnya
Pertumbuhan tersebut sejalan dengan kenaikan pendapatan perusahaan yang dikendalikan Prajogo Pangestu ini sebesar 4,4% dari US$ 569,78 juta menjadi US$ 594,93 juta. Sedangkan beban keuangan melesat dari US$ 85,07 juta menjadi US$ 136,48 juta tahun 2023. Pendapatan bunga naik dari US$ 2,88 juta menjadi US$ 11,39 juta.
Dirut BREN Hendra Soetjipto sebelumnya mengatkaan, perseroan juga berhasil mendiversifikasi portofolio di luar panas bumi melalui akuisisi aset pembangkit listrik tenaga bayu/angin (PLTB). Sedangkan penyumbang utama kenaikan kinerja tahun lalu didukung peningkatan produksi listrik panas bumi sebanyak 3,4%. Kenaikan juga didukung pertumbuhan tarif listrik dari Salak, Drajat, dan Wayang Windu.
Ke depan, dia mengatakan, BREN membidik pengoperasian pembangkit listrik dengan kapasitas sebesar 1.300 MW tahun 2028. Target ini akan dicapai melalui pengembangan unit-unit baru di wilayah operasi panas bumi yang sudah ada dan pengembangan kawasan greenfield energi panas bumi maupun tenaga angin.
Pengendali Saham
Taipan asal Kalimantan, Prajogo Pangestu, tecatat sebagai pengendali utama BREN. Prajogo Pangestu secara tidak langsung bertindak sebagai pengendali BREN melalui PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang menggenggam sebanyak 86,51 juta saham BREN atau 64,67%.
Prajogo Pangestu sendiri bertindak sebagai pengendali dengan kepemilikan sebanyak 71,19% saham BRPT. Meski saham anak usahanya melesat, pergerakan harga saham BRPT sendiri terpantau cenderung terkoreksi dalam beberapa pekan terakhir.
Baca Juga
Pemegang saham lainnya adalah Green Era Energy Pte yang menguasai sebanyak 31,57 juta atau 23,61% saham BREN. Ada juga Jupiter Tiger Holdings dan Prime Hill Fund yang mengenggam masing-masing 4,36% saham BREN.
Berkat lompatan harga saham BREN, nilai kekayaan Prajogo kembali bertambah menjadi US$ 52,8 miliar atau setara dengan Rp 8.500 triliun dengan kurs Rp 16.100 per dolar AS. Angka tersebut memperkokoh posisinya sebagai orang terkaya di Indonesia dan peringkat 26 di dunia.
