Begini Proyeksi Harga Saham GoTo (GOTO) Usai Lepas dari Jerat ‘Gocap’
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) memasuki fase baru setelah batas harga Rp 50 per saham dibuka. Perhatian investor kini tertuju pada seberapa lama tekanan jual berlangsung dan apakah harga saham GoTo dapat menemukan level keseimbangan baru.
Tekanan jual saham GOTO terpantau dapat mencapai 1 miliar lot per hari. Investor masih perlu mencermati apakah volume transaksi mulai mereda dan harga saham mampu bertahan setelah lepas dari batas bawah Rp 50.
Analis menilai bahwa pasar modal menilai pergerakan awal saham GOTO setelah batas ‘gocap’ dibuka berpotensi berlangsung tajam. Saham yang sebelumnya sulit diperdagangkan di pasar reguler kini memiliki ruang untuk mencari harga keseimbangan baru.
Baca Juga
Tiga Hari Harga Saham GOTO di Bawah ‘Gocap’, Ini Kata Analis soal Prospek Bisnisnya
“Kalau harga saham GoTo berada di Rp 28, pasar seolah-olah hanya menghargai aset likuidnya dan tidak memberikan nilai pada bisnis yang sedang berjalan. Padahal GoTo punya bisnis dengan pendapatan yang tumbuh dan profitabilitas yang terus membaik. Karena itu, menurut kami harga tersebut belum mencerminkan fundamental perusahaan,” ujar Edo dari Phillip Sekuritas Indonesia.
Edo menunjuk kisaran harga wajar saham GoTo berdasarkan konsensus di level Rp 65–74 per saham. Kisaran tersebut menggambarkan besarnya selisih antara harga pasar dan estimasi nilai GoTo.
Dari harga Rp28 per saham, kisaran Rp 65–74 mencerminkan potensi kenaikan sekitar 132%–164%. Namun, potensi tersebut bukan jaminan bahwa harga saham GOTO akan segera mencapai level tersebut.
“Selisihnya memang lebar. Namun, potensi kenaikan itu baru akan lebih mudah terealisasi ketika tekanan jual mereda dan investor kembali menilai GoTo berdasarkan kinerja bisnisnya,” kata analis itu.
Kinerja Terus Membaik
Dari sisi operasional, GoTo telah membukukan laba bersih selama dua kuartal berturut-turut. Pada kuartal II 2026, pendapatan bersih perseroan mencapai Rp5,7 triliun. Sementara itu, EBITDA Grup yang disesuaikan melampaui Rp1 triliun untuk pertama kalinya.
GoTo juga menargetkan EBITDA Grup yang disesuaikan sebesar Rp3,2–3,4 triliun sepanjang 2026. Menurut analis, capaian dan target tersebut menunjukkan bahwa GoTo sedang membangun bisnis untuk jangka panjang, terlepas dari gejolak harga saham dalam waktu dekat.
“Sulit mengatakan GoTo tidak memiliki nilai bisnis ketika operasinya menghasilkan pendapatan triliunan rupiah dan profitabilitasnya membaik. Pada harga Rp28, saham ini terlihat murah apabila kemajuan tersebut dapat dipertahankan,” ujarnya.
Baca Juga
Gelontorkan Rp 547,98 Miliar, Morgan Stanley Borong Puluhan Miliar Saham GOTO di Harga Bawah
Selain memperbaiki kinerja bisnis, GoTo telah memperoleh persetujuan untuk melakukan pembelian kembali saham atau buyback dengan nilai maksimal Rp 3,5 triliun. Persetujuan tersebut memberikan ruang bagi perseroan untuk membeli kembali saham sesuai ketentuan dan kondisi pasar.
GoTo juga mengusulkan pembatalan sekitar 32 miliar saham treasuri. Jika disetujui dan dilaksanakan, langkah tersebut akan mengurangi jumlah saham yang beredar. Analis menilai pasar akan mencermati pelaksanaan kedua aksi korporasi tersebut bersama perkembangan laba dan arus kas GoTo.
Dalam waktu dekat, harga saham GOTO masih berpotensi bergejolak selama tekanan jual tetap tinggi. Namun, apabila tekanan jual mulai terserap dan kinerja GoTo terus membaik, investor dapat kembali menilai saham GOTO berdasarkan prospek bisnis, bukan hanya harga yang terbentuk pada masa penyesuaian setelah lepas dari gocap.
