Wacana Pengambialihan Saham BCA Tak Akan Ganggu Kinerja
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Wacana pengambilalihan kembali saham PT Bank Sentral Asia Tbk (BCA) oleh negara perlu disikapi dengan hati-hati karena sejauh ini belum ada informasi yang valid. Tapi, siapapun pemegang saham pengendalinya, kinerja BCA diyakini tetap solid karena komitmen dan sinergi antara pemilik dan manajemen dalam menjaga governance, pertumbuhan kredit, dan konsistensi strategi bisnis.
Pengamat pasar modal Elandry Pratama berpendapat bahwa yang penting dilihat bukan hanya siapa pemegang sahamnya, tetapi bagaimana komitmen pemilik dan manajemen menjaga governance, kualitas aset, pertumbuhan kredit, serta konsistensi strategi bisnis BCA.
“Sampai saat ini, perubahan di tingkat pengendali terakhir tidak berdampak material terhadap operasional, kondisi keuangan maupun kelangsungan usaha BCA. Jadi market akan lebih melihat apakah track record dan strategi tersebut tetap terjaga ke depan,” kata dia kepada Investortrust, Minggu (27/9/2026). Dia menanggapi wacana pengambilalihan saham BCA oleh negara yang sempat rampai diberitakan.
Baca Juga
Elandry menegaskan, posisi pemegang saham pengendali tetap penting karena memberikan kontinuitas dan visibility terhadap arah strategis bank, terutama bagi investor institusi. Namun untuk BCA, kepercayaan investor juga sangat ditentukan oleh fundamental bank, kualitas manajemen profesional, governance, dan konsistensi kinerja.
“Dengan struktur saat ini, saya melihat investor akan tetap mencermati bagaimana sinergi antara pemegang saham pengendali dan manajemen dipertahankan tanpa mengubah karakter BCA yang selama ini menjadi perhatian utama investor,” tuturnya.
Terkait isu masuknya pihak lain (negara) atau perubahan kepemilikan, menurut Elandry, investor sebaiknya tetap mengacu pada keterbukaan informasi resmi. BCA sendiri baru-baru ini menegaskan bahwa isu akuisisi saham BCA oleh pihak tertentu yang beredar di media sosial tidak benar. Jadi untuk saat ini, market sentiment terhadap BCA lebih relevan dikaitkan dengan fundamental dan corporate governance perseroan daripada spekulasi mengenai perubahan pengendali.
Sebagai informasi, pada 2002, FarIndo Investment (Mauritius) Limited yang terafiliasi dengan Grup Djarum yang dimiliki Keluarga Hartono membeli 51% saham BCA dari BPPN dengan nilai sekitar Rp5,3 triliun atau Rp1.775 per saham. Dalam klarifikasi kepada Bursa Efek Indonesia pada 20 Agustus 2025, BCA menolak tudingan bahwa pembelian 51% saham dengan nilai sekitar Rp5 triliun merupakan transaksi yang melanggar hukum. Sekretaris Perusahaan BCA ketika itu, I Ketut Alam Wangsawijaya, menjelaskan bahwa tender dilaksanakan pemerintah melalui BPPN secara transparan dan akuntabel. Menurut perseroan, nilai transaksi mencerminkan kondisi pasar saat itu.
Proses perubahan pengendali juga berada dalam pengawasan regulator. Pemberitaan mengenai struktur FarIndo mencatat keterlibatan Bank Indonesia dalam pemeriksaan calon pemilik. Pada Januari 2007, manajemen BCA menyatakan perubahan kepemilikan FarIndo telah disampaikan kepada Bank Indonesia dan Bapepam. Fakta tersebut memperlihatkan bahwa perubahan kepemilikan berlangsung melalui jalur korporasi dan pelaporan kepada otoritas.
Hingga penelusuran informasi pada Minggu (27/09/2026), belum ditemukan pengumuman resmi mengenai keputusan negara mengambil alih BCA. Wacana serupa pernah muncul pada Agustus 2025 dan ketika itu dibantah oleh CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani serta Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad. Karena itu, pembahasan mengenai hostile takeover terhadap BCA harus ditempatkan sebagai penilaian atas risiko suatu gagasan, bukan laporan bahwa pemerintah sedang menjalankan pengambilalihan tersebut.
