Pasar Saham Anjlok, Perencana Keuangan Bagikan Saran Ini ke Investor
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kejatuhan pasar saham belakangan ini menyisakan kekhawatiran mendalam, terutama bagi kalangan investor pemula dari generasi Z (Gen Z). Penurunan tajam nilai portofolio kerap memicu kepanikan hingga munculnya imbauan khusus dari regulator maupun pemerintah untuk menjaga kesehatan mental para investor. Tak hanya di Indonesia, bahkan di Korea Selatan pun, sang presiden Lee Jae Myung, meminta warganya tak putus asa dan mengakhiri hidup di tengah tekanan ekonomi dan keuangan, hingga kejatuhan pasar saham yang terjadi.
Menanggapi fenomena kejatuhan pasar ini, Perencana Keuangan yang juga Presiden & Ketua Chapter IARFC Indonesia (International Association of Registered Financial Consultants) Aidil Akbar Madjid membagikan sejumlah saran strategis dalam mengelola keuangan dan portofolio di tengah volatilitas pasar.
1. Menahan Diri dan Hindari Strategi Dollar Cost Averaging (DCA) Terlalu Dini
Aidil menyarankan para investor untuk tidak terburu-buru melakukan Dollar Cost Averaging (DCA) atau menambah posisi (averaging down) saat harga saham jatuh. Menurutnya, kondisi ketidakpastian pasar saat ini masih membutuhkan waktu untuk pemulihan fundamental.
"Jangan masuk dulu, jangan dollar cost averaging dulu karena kita belum tahu seberapa lama kondisinya. Secara fundamental, pemulihan pasar itu akan memakan waktu paling cepat 3 bulan hingga 6 bulan," ujar Aidil kepada investortrust.id, dikutip Kamis (22/10/2026).
Baca Juga
IHSG Dibuka Babak Belur Lebih dari 100 Poin, Saham Big Cap Kembali Jatuh
2. Jangan Terprovokasi Narasi 'Serok' di Media Sosial
Aidil secara tegas mengingatkan investor agar tidak mudah terpengaruh oleh ajakan atau provokasi di media sosial untuk melakukan buy on weakness atau 'serok bawah'. Ia menekankan bahwa tekanan yang terjadi saat ini berakar dari masalah fundamental, bukan sekadar teknikal harian.
"Aturan nomor satu, jangan terprovokasi dengan statement yang mengajak 'serok'. Kondisi sekarang ini adalah kondisi fundamental dari akumulasi kerusakan pasar modal yang sudah berlangsung lama," tegasnya.
3. Lakukan Rebalancing Portofolio ke Aset Berrisiko Rendah
Bagi investor yang mengalami kerugian besar (floating loss), langkah terbaik yang bisa dilakukan saat ini adalah melakukan penataan ulang (rebalancing) portofolio. Investor disarankan mengalihkan alokasi dana ke instrumen berisiko rendah guna menjaga likuiditas.
"Ya sudah, berarti sekarang masuk ke produk-produk keuangan atau produk investasi yang risikonya rendah, ya kumpulkan likuiditas lah, ya. Tabungan, deposito, emas," kata Aidil.
Baca Juga
4. Gunakan 'Uang Dingin' atau Gambling Money Jika Ingin Berspekulasi
Bagi investor yang tetap ingin memanfaatkan momentum penurunan harga untuk membeli di bawah, Aidil mengingatkan agar memastikan kondisi keuangan pribadi sudah stabil terlebih dahulu. Ia menekankan agar dana yang digunakan murni merupakan "uang sisa" atau dana yang siap diikhlaskan jika terjadi risiko kerugian (gambling money). Sangat dilarang keras menggunakan uang untuk kebutuhan hidup harian, dana darurat, apalagi menggunakan pinjaman alias hutang.
"Jadi bukan uang investment, bukan uang buat biaya hidup, ya itu jangan banget. Apalagi terus hutang, itu jangan banget, gitu," tegas Aidil.
