Pasar Saham Masih Tertekan, Ini Saran Eastspring Investments
JAKARTA, investortrust.id - Pada penutupan perdagangan Senin (10/2/2025), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah untuk empat hari beruntun, turun sebesar 94,43 poin atau 1,40% ke level 6.648,14. Pelemahan IHSG di awal pekan, masih dibayangi oleh tekanan pada saham-saham grup perusahaan Prajogo Pangestu, terutama PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), serta sentimen eksternal yang kurang kondusif.
Beberapa saham yang mengalami koreksi terdalam hari ini adalah TLKM (-5,79%), BREN (-5,34%), BMRI (-2,91%), BBCA (-2,14%), dan CUAN (-19,87%). Rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengumumkan tarif sebesar 25% pada impor baja dan aluminium dari semua negara, yang akan diumumkan Senin waktu setempat, memperburuk sentimen pasar.
Selain itu, pidato semi-tahunan Ketua The Fed Jerome Powell di kongres menjadi salah satu fokus pasar pekan ini untuk melihat apakah ada perubahan pada rencana pelonggaran moneter, yang mempengaruhi arus investasi asing.
Baca Juga
Di sisi lain, dilansir dari riset Eastspring Investments, Senin (10/2/2025), dolar AS menguat dan imbal hasil UST turun setelah data nonfarm payrolls bulan Januari catat kenaikan sebesar 143.000, mencerminkan pasar tenaga kerja yang moderat namun tetap sehat. Sedangkan nilai tukar rupiah melemah 0,46% menjadi Rp 16.358 per dolar AS, seiring penguatan indeks dolar.
Adapun pergerakan kelas aset menunjukkan tren yang berbeda antara obligasi dan saham. Dalam satu minggu terakhir hingga 7 Februari 2025, saham dengan menggunakan IHSG turun 5,16%, sementara obligasi naik 0,84%.
Baca Juga
The Fed Khawatir Inflasi, Ini yang Terjadi di Pasar Obligasi
Imbal hasil obligasi turut mencatat penurunan yang substansial sebesar 12 basis poin dalam seminggu ini. Ancaman tarif Trump yang berkelanjutan meningkatkan risiko volatilitas pada aset berisiko seperti saham, sementara obligasi cenderung lebih stabil dan memiliki risiko lebih rendah.
"Ke depan, diversifikasi kelas aset menjadi strategi penting untuk mengelola risiko di tengah tingginya volatilitas. Penurunan saham saat ini bisa menjadi peluang untuk mendapatkan saham berkualitas dengan harga yang lebih murah seiring menjaga tujuan investasi jangka panjang," tulis riset tersebut.

