Perencana Keuangan Ungkap Dua Tipe Korban Pinjol, Paling Bahaya 'Kemakan' Gengsi!
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Fenomena pinjaman online (pinjol) bukan hanya menjerat masyarakat yang sedang kesulitan ekonomi. Perencana Keuangan, Ligwina Hananto mengungkapkan, tidak sedikit orang yang terjebak pinjol justru demi memenuhi tuntutan gaya hidup dan pengakuan sosial.
Menurutnya, persoalan pinjol kini sudah ditemukan di berbagai lingkungan kerja, mulai dari perusahaan swasta, BUMN, perusahaan multinasional, hingga kementerian. Dia menilai pinjol ilegal menjadi salah satu persoalan serius yang perlu mendapat perhatian.
“Pinjol ini masalah yang besar banget,” ujar Ligwina di Jakarta, Sabtu (31/10/2026). Ia pun membagi korban pinjol ke dalam dua kelompok besar yakni mereka yang terdesak kebutuhan hidup dan kedua mereka yang meminjam uang untuk mengikuti gaya hidup lingkungan pergaulannya.
"Korban yang kedua adalah korban validasi. Ingin dapat validasi dari orang luar. Jadi pinjol kadang juga muncul pada orang-orang yang butuh validasi dari orang luar. Yang kayak gitu tentu saja enggak lebih gampang ngeberesinnya," ungkapnya.
Fenomena inilah yang membuat banyak orang terjerat pinjol. CEO & Lead Financial Trainer QM Financial itu pun mengibaratkan pinjol sebagai predator yang terus menerus memburu mangsanya.
Baca Juga
951 Entitas Sudah Ditindak, Mengapa Pinjol Ilegal Terus Bermunculan?
"Pinjol itu adalah salah satu produk predatori menurut aku. Jadi benar-benar predator. 'Aku akan makan dia sampai habis,æ gitu loh, dia memburu," sambungnya.
Bedakan pinjol, dan bayarlah utang!
Ligwina pun mengingatkan masyarakat agar memahami perbedaan pinjaman daring legal dan layanan ilegal yang beroperasi lintas negara. Ia menyebut bahwa praktik penagihan oleh pinjol ilegal bahkan dapat menjangkau media sosial dan menimbulkan tekanan bagi peminjam.
Untuk menyelesaikan persoalan utang, Ligwina menyarankan peminjam memetakan seluruh kewajiban dan memprioritaskan pembayaran dengan bunga tertinggi. Jika tidak sanggup membayar, peminjam perlu mencari jalan keluar melalui negosiasi atau restrukturisasi, sembari mempertimbangkan bantuan psikologis apabila perilaku berutang sudah sulit dikendalikan.
"Jika ditanya solusinya apa? Utang itu solusinya satu: bayar," tegasnya.
