Tiga Hari Harga Saham GOTO di Bawah ‘Gocap’, Ini Kata Analis soal Prospek Bisnisnya
JAKARTA, investortrust.id – Harga saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) telah bertahan di bawah Rp 50 atau ‘gocap’ selama tiga hari setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) membuka batas harga minimum saham menjadi Rp 1. Di tengah tekanan tersebut, fundamental GoTo justru menunjukkan perbaikan ditunjukkan dengan tren kenaikan laba bersih selama dua kuartal berturut-turut.
Berdasarkan data BEI, harga saham GOTO telah turun dari level Rp 50 pada 25 September 2026 menjadi Rp 32 pada sesi I, Rabu (30/9/2026).
Analis Phintraco Sekuritas Aditya Prayoga menilai investor tidak perlu panik menyikapi pergerakan saham GOTO di bawah level gocap. Menurut dia, penurunan tersebut sudah menjadi bagian dari ekspektasi pasar setelah BEI mengubah batas bawah harga saham.
Baca Juga
Telkomsel Tak Khawatir Saham GOTO "Gocap", Investasi Berorientasi Jangka Panjang
“Ketika batas Rp 50 dibuka, pasar memang membutuhkan waktu untuk menyesuaikan harga. Pergerakan dalam beberapa hari pertama ini tidak bisa langsung disimpulkan sebagai perubahan pada prospek bisnis GoTo,” ujar Aditya.
Menurut dia, penghapusan batas harga Rp 50 justru dapat menjadi perkembangan positif bagi saham GOTO dalam jangka panjang. Dengan harga yang dapat bergerak mengikuti penawaran jual dan beli, pasar memiliki ruang lebih terbuka untuk membentuk harga saham.
“Sekarang proses price discovery bisa terlihat lebih jelas. Investor dapat menilai pada harga berapa saham GOTO benar-benar diperdagangkan, lalu menggunakan informasi itu untuk mengambil keputusan investasi,” katanya.
Likuiditas Saham GOTO
Aditya menjelaskan, kejelasan pembentukan harga menjadi penting bagi investor institusi yang mempertimbangkan masuk ke suatu saham. Mereka perlu menilai harga masuk, risiko, hingga kemungkinan keluar dari posisi investasi berdasarkan transaksi yang dapat diamati di pasar.
Sebelum batas harga Rp50 dibuka, harga saham GOTO yang tertahan di level tersebut membuat likuiditas di pasar reguler menyusut. Mengacu data BEI, sebagian transaksi berlangsung di pasar negosiasi, sementara aktivitas perdagangan di pasar reguler belum sepenuhnya mencerminkan minat beli dan jual yang ada.
Baca Juga
Gelontorkan Rp 547,98 Miliar, Morgan Stanley Borong Puluhan Miliar Saham GOTO di Harga Bawah
Dengan terbukanya batas harga, Aditya memperkirakan transaksi saham GOTO berpeluang kembali meningkat di pasar reguler. Likuiditas yang lebih baik dinilai dapat membantu saham GOTO diperdagangkan berdasarkan perkembangan kinerja perusahaan setelah tekanan penyesuaian jangka pendek mereda. “Perdagangan di pasar reguler berlangsung secara terbuka, berkesinambungan, dan lebih mudah diakses. Ini penting terutama bagi investor,” ujar Aditya.
Ia menambahkan, saham yang aktif diperdagangkan juga lebih mudah dipertimbangkan oleh kelompok investor yang lebih luas. Bagi sebagian investor institusi, kedalaman pasar dan kemampuan menjual kembali saham menjadi pertimbangan sebelum membangun posisi investasi.
Fundamental Menguat
Di sisi fundamental, Aditya menilai harga saham GOTO saat ini belum sepenuhnya mencerminkan perkembangan bisnis perseroan. GoTo telah mencatat laba bersih positif selama dua kuartal berturut-turut, sementara pendapatan dan profitabilitas perusahaan terus menunjukkan perbaikan.
“GoTo sedang membangun perusahaan untuk jangka panjang. Karena itu, investor perlu melihat kemampuan bisnisnya untuk terus tumbuh dan menghasilkan laba, selain mencermati pergerakan harga saham harian,” katanya.
Baca Juga
Sahamnya ARB ke Rp 43, Manajemen GOTO Soroti Aturan Baru BEI
Menurut Aditya, volatilitas saham GOTO masih mungkin terjadi hingga pasar menemukan titik keseimbangan harga baru. Namun, jika likuiditas di pasar reguler kembali pulih dan kinerja GoTo terus membaik, fundamental perusahaan berpeluang kembali menjadi faktor utama dalam penilaian saham GOTO.
Sementara itu, Head of Corporate Affairs GoTo Audrey Petriny sebelumnya menegaskan bahwa harga saham perseroan saat ini tidak mencerminkan fundamental bisnis yang terus menguat. “Penurunan harga saham lebih disebabkan oleh aspek teknis menyusul aturan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait batas bawah harga saham yang tidak lagi di Rp50,” katanya dalam keterangan resmi.
Audrey menegaskan, kinerja bisnis GoTo terus menunjukkan pertumbuhan positif. Pada kuartal II-2026, perseroan kembali mencetak laba bersih sebesar Rp252 miliar sehingga membukukan laba selama dua kuartal berturut-turut. Pendapatan bersih GoTo tercatat sebesar Rp5,7 triliun, sedangkan adjusted EBITDA mencapai lebih dari Rp1 triliun.
