IHSG Sempat ‘Ambles’ ke Bawah 5.000, Analis Ungkap Sejumlah Faktor Penekan Ini
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) tertekan pada perdagangan sesi I, Jumat (30/10/2026). Bahkan, indeks sempat merosot menembus level psikologis 5.000 di tengah tingginya tekanan jual dan ketidakpastian pasar modal domestik.
Berdasarkan data perdagangan BEI, IHSG ditutup melemah 65,618 poin atau 1,29% ke level 5.032,439 pada sesi I. Indeks sebelumnya dibuka di posisi 5.066,935. Sepanjang perdagangan, IHSG sempat menguat hingga menyentuh level tertinggi 5.116,008. Namun, tekanan jual yang semakin besar membuat indeks berbalik arah dan terus bergerak di zona merah.
Indeks saham dengan kinerja terburuk di dunia ini sempat menyentuh level terendah 4.979,342 atau terperosok ke bawah ambang psikologis 5.000.
Baca Juga
IHSG Sesi I Ditutup Jatuh 1,29%, Saham Emiten Prajogo Kembali Tersungkur
Tekanan di pasar saham domestik juga terlihat dari luasnya penurunan saham. Sebanyak 591 saham terkoreksi, sedangkan hanya 113 saham yang menguat dan 82 saham bergerak stagnan.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji Gusta memperkirakan sentimen IHSG masih cenderung negatif dan volatil. Risiko tekanan lanjutan masih besar, meskipun peluang terjadinya technical rebound tetap terbuka. “Dari sisi domestik, tekanan yang lebih signifikan justru berasal dari ketidakpastian klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI, serta berlanjutnya arus keluar dana asing,” ujar Nafan pada Jumat (30/10/2026).
Menurut dia, peringatan MSCI terhadap pasar modal Indonesia menjadi sentimen yang membuat investor cenderung berhati-hati dan berpotensi tetap menerapkan strategi defensif. Pelaku pasar juga mencermati rencana BEI mengecualikan saham dengan high shareholding concentration (HSC) dari perhitungan IHSG mulai 2 November 2026.
Baca Juga
Laba Atribusi Chandra Asri (TPIA) Anjlok 78,43% hingga September 2026, Ini Pemicunya
“Meski demikian, terdapat faktor buffer dimana dari sisi makroekonomi, penguatan nilai tukar Rupiah sebesar 0,32% pada Rp 18.132 per USD pasca keputusan The Fed yang mempertahankan suku bunga acuan, serta stabilnya harga komoditas minyak, menjadi penahan agar pelemahan indeks tidak terlalu signifikan,” papar Nafan.
Dari sisi eksternal, sentimen negatif datang dari meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek monetisasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Salah satu pemicunya adalah penurunan saham Alphabet, induk Google, sekitar 12,6% setelah kinerja laba kuartalannya tidak memenuhi ekspektasi pasar.
Koreksi tersebut mencerminkan meningkatnya selektivitas investor dalam menilai perusahaan teknologi yang agresif mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) untuk pengembangan AI. Investor mulai mempertanyakan seberapa cepat investasi besar tersebut dapat menghasilkan keuntungan.
Baca Juga
Kinerja Keuangan Cinema XXI (CNMA) Anjlok hingga September 2026, Ini Pemicunya
Tekanan terhadap saham teknologi juga berlangsung di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Meski The Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75%-4,00%, inflasi yang masih berada di atas target 2% berpotensi membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter.
Perekonomian AS masih menunjukkan ketahanan, tercermin dari pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal III sebesar 3,4%. Sementara itu, inflasi personal consumption expenditures (PCE) September tercatat meningkat 3,6% secara tahunan atau year on year (yoy), sedangkan inflasi inti PCE mencapai 3,1% yoy.
Di tengah kondisi pasar yang masih bergejolak, Nafan menyarankan investor untuk lebih selektif dalam menentukan strategi investasi. “Fokus dapat diarahkan pada saham-saham dengan fundamental solid, valuasi yang masih undervalued, serta saham yang mulai menunjukkan indikasi pembalikan arah atau reversal,” pungkas Nafan.
