IHSG sempat Anjlok 5% di Awal Transaksi, Sentimen Global dan Risiko Fiskal Jadi Penekan
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) anjlok pada awal perdagangan pekan ini, Senin (9/3/2026). Bahkan, sempat turun lebih dari 5,9%.
Mengacu data BEI hingga pukul 09.35 WIB, IHSG merosot 325,53 poin atau turun 4,29% ke posisi 7.260,15. Rentang pergerakan 7.156 hingga 7.585 dengan nilai transaksi Rp 11,05 triliun.
Branch Manager Panin Sekuritas Elandry Pratama mengatakan, pelemahan IHSG hingga lebih dari 5% dipicu kombinasi sentimen global dan domestik. Dari sisi global, pasar berada dalam mode risk-off akibat meningkatnya tensi geopolitik yang sempat mendorong harga minyak melonjak hingga sekitar US$115 per barel serta penguatan dolar AS.
Baca Juga
“Kondisi ini membuat arus dana global cenderung keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga tekanan jual di pasar saham menjadi cukup besar,” kata Elandry, Senin (9/3/2026).
Dari dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati potensi risiko dari lonjakan harga minyak terhadap kondisi fiskal. Seperti yang disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya, jika harga minyak bertahan tinggi maka ada potensi tekanan pada APBN melalui kenaikan subsidi energi yang dapat memperlebar defisit fiskal.
“Kombinasi faktor eksternal dan kekhawatiran fiskal inilah yang membuat investor cenderung bersikap lebih hati-hati dalam jangka pendek, sehingga volatilitas IHSG masih berpotensi berlanjut sambil menunggu stabilisasi sentimen global,” jelas Elandry.
Dalam jangka pendek, Elandry menilai sektor energi masih dapat dicermati, terutama emiten seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan PT Elnusa Tbk (ELSA) yang secara fundamental lebih sensitif terhadap pergerakan harga minyak. Namun demikian, penguatan yang terjadi berpotensi bersifat sementara mengingat risiko volatilitas pasar masih cukup tinggi.
Tiga Sentimen
Sementara itu, Pengamat Pasar Modal Reydi Octa menilai penurunan dalam IHSG hari ini dan dalam beberapa hari terakhir dipicu oleh tiga tekanan sentimen utama.
“Pertama, meningkatnya tensi geopolitik global yang mendorong sentimen risk-off, sehingga dana asing cenderung keluar dari pasar emerging markets termasuk Indonesia,” kata Reydi.
Ia juga menyoroti kekhawatiran pasar terkait penurunan bobot Indonesia di indeks MSCI Emerging Markets Index. Bahkan, muncul spekulasi potensi perubahan status dari emerging market menjadi frontier market yang dapat memicu penyesuaian portofolio investor global.
Baca Juga
Analis: Laba BBCA Diprediksi Lanjut Tumbuh di 2026, Potensi Dividen dan Harga Saham Menguat
Selain itu, meningkatnya perhatian investor terhadap risiko kredit juga menjadi sorotan, terutama setelah sejumlah lembaga pemeringkat memberi sinyal kehati-hatian terhadap outlook ekonomi.
“Mungkin imbasnya akan berlanjut hingga libur panjang Idul Fitri, pasar domestik rasanya akan mengamankan asetnya sebelum hari libur,” tambahnya.
Senada, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menilai pergerakan IHSG masih dipengaruhi sentimen negatif dari konflik Amerika Serikat dan Iran yang mendorong investor global mengurangi risk appetite dan beralih ke aset safe haven.
“Selain itu, Fitch Ratings yang menurunkan outlook kredit Indonesia dari stable menjadi negative telah menimbulkan kekhawatiran investor terkait arah kebijakan fiskal dan stabilitas makro dari pemerintah,” ujar Nafan.

