IHSG Ambruk Hampir 5%, Ada Apa dengan Pasar Indonesia?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) anjlok hampir 5% pada perdagangan sesi I Rabu (3/6/2026), seiring meningkatnya tekanan dari pelemahan nilai tukar rupiah, penguatan dolar AS, hingga aksi jual investor asing yang masih berlanjut di pasar domestik.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG pada penutupan sesi I turun 305,94 poin atau 4,94% ke level 5.889,48.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana alias Didit mengatakan koreksi IHSG saat ini dipicu oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang telah menyentuh level Rp 17.900 per dolar AS.
Baca Juga
IHSG Jatuh Hampir 4%, Analis Soroti Rupiah dan Kekhawatiran Ekonomi Global
“Kami perkirakan koreksi yang terjadi di JCI saat ini disebabkan oleh adanya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, yang saat ini sudah mencapai 17.900,” kata Didit saat dihubungi investortrust.id, Rabu, (3/6/2026)
Selain itu, pergerakan IHSG juga terbebani oleh saham-saham konglomerasi yang dalam dua hari terakhir mengalami penguatan signifikan, bahkan beberapa di antaranya sempat menyentuh auto reject atas (ARA).
“Di sisi lain, pergerakan IHSG dibebani oleh emiten-emiten konglomerasi yang selama dua hari belakangan ini bergerak menguat signifikan, bahkan mengalami ARA,” ujar dia.
Secara teknikal, Didit menilai tren pergerakan IHSG masih berada dalam fase penurunan dan belum menunjukkan sinyal pembalikan arah yang valid.
“Pergerakan JCI masih berada di fase downtrend-nya dan belum menunjukkan adanya tanda-tanda pembalikan arah yang valid,” ungkapnya.
Senada dengan Didit, pengamat pasar modal Reydi Octa menilai koreksi IHSG masih dipengaruhi oleh penguatan dolar AS, tingginya suku bunga global, serta meningkatnya preferensi investor terhadap aset-aset yang dianggap lebih aman.
Baca Juga
IHSG Intraday Sesi I Anjlok 3,57%, Saham Prajogo dan Big Bank Amblas
“Pelemahan rupiah menurunkan minat investor terhadap aset berisiko sehingga memicu tekanan jual juga di pasar saham. Di saat yang sama, arus keluar dana asing makin memperbesar tekanan jual IHSG,” kata Reydi kepada investortrust.id, Rabu, (3/6/2026).
Menurutnya, dari sisi domestik, pelaku pasar juga masih mencermati prospek pertumbuhan ekonomi nasional serta tingkat risiko investasi di Indonesia. Kombinasi sentimen eksternal dan internal tersebut membuat tekanan terhadap pasar saham domestik masih cukup besar dalam jangka pendek.

