IHSG Melonjak 7,57% Hari Ini, Analis Ungkap Sejumlah Faktor Penopang Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak 404 poin atau 7,57% pada penutupan perdagangan Selasa (9/6/2026) ke level 5.722. Penguatan tersebut menjadi salah satu kenaikan harian terbesar lebih dari lima tahun terakhir.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai, lonjakan IHSG merupakan respons pasar terhadap kondisi oversold yang didukung sejumlah katalis positif. Meski demikian, reli tersebut belum dapat dianggap sebagai sinyal bahwa seluruh persoalan fundamental pasar telah terselesaikan.
"Ketika IHSG turun tajam selama berminggu-minggu, kita bertanya-tanya siapa yang masih mau membeli. Ketika IHSG tiba-tiba melonjak lebih dari 7% dalam sehari, pertanyaan yang muncul tidak jauh berbeda, apakah ini benar-benar awal pemulihan atau hanya jeda sementara di tengah masalah yang belum selesai," kata Liza kepada investortrust.id, Selasa (9/6/2026).
Baca Juga
Demi Selamatkan Ekonomi RI, JK Bilang Anggaran MBG Harus Dipangkas
Secara teknikal, Liza menjelaskan, IHSG sebelumnya menyentuh area support jangka panjang pada kisaran 5.318-5.430. Area tersebut merupakan garis tren yang terbentuk sejak krisis global 2008 dan sempat menjadi titik penting pada periode pandemi 2020. Dari level itu, pasar mulai mengalami rebound.
Menurutnya, terdapat dua faktor utama yang mendorong penguatan IHSG. Pertama, munculnya sinyal dukungan pemerintah terhadap pasar modal melalui pembahasan peluang buyback saham BUMN yang melibatkan DPR, Danantara, bank-bank Himbara, INA, dan sejumlah institusi BUMN.
"Terlepas apakah buyback saham tersebut nantinya direalisasikan atau tidak, pasar menangkap pesan yang lebih penting, yaitu pemerintah mulai menunjukkan kesadaran bahwa kondisi pasar saham sudah memasuki fase yang mengkhawatirkan dan memerlukan respons yang lebih konkret," ujar Liza.
Baca Juga
Demi Selamatkan Ekonomi RI, JK Bilang Anggaran MBG Harus Dipangkas
Faktor kedua berasal dari langkah Bank Indonesia yang menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% disertai berbagai kebijakan untuk menjaga stabilitas rupiah dan menarik kembali aliran dana asing.
"Pasar melihat Bank Indonesia tidak akan tinggal diam menghadapi pelemahan rupiah dan berlanjutnya outflow asing. Dalam situasi seperti sekarang, keberanian dan kredibilitas kebijakan justru lebih dihargai dibandingkan sekadar level suku bunga," jelasnya.
Diminta Realistis
Meski demikian, Liza mengingatkan investor untuk tetap realistis. Menurutnya, rupiah masih berada di sekitar Rp18.000 per dolar AS, sementara arus keluar dana asing secara year to date masih mencapai sekitar Rp72,8 triliun. Selain itu, persepsi risiko terhadap Indonesia juga belum sepenuhnya membaik.
Baca Juga
BI Rate Naik 5,5%, OJK Menilai Stabilitas Sektor Keuangan Masih Terjaga
Oleh karena itu, kenaikan IHSG saat ini lebih tepat dipandang sebagai relief rally yang ditopang katalis jangka pendek, bukan bukti bahwa seluruh tantangan pasar telah terselesaikan.
Untuk perdagangan selanjutnya, Liza menilai IHSG masih berpeluang melanjutkan rebound selama mampu bertahan di area support 5.430-5.318. Sementara itu, level 5.900 menjadi target penguatan jangka pendek yang perlu ditembus sebelum pasar memasuki fase pemulihan yang lebih berkelanjutan.
"Dengan kata lain, setiap pembelian saat ini masih lebih cocok dikategorikan sebagai akumulasi bertahap atau speculative buy dibandingkan strategi buy and hold jangka panjang yang agresif," tuturnya.

