Analis Ungkap Sejumlah Faktor Pemicu Kejatuhan IHSG hingga 3%
JAKARTA, investortrust.id – Indeks hargq saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) menyentuh level terendah baru dalam 10 bulan terakhir pada perdagangan sesi I, Kamis (30/4/2026). Penurunan dipicu oleh sejumlah sentimen negatif yang menekan pasar.
Mengacu pada data BEI hingga pukul 13.42 WIB pada perdagangan sesi II, Kamis (30/4/2026), IHSG anjlok 203,28 poin atau 2,86% ke level 6.897,94. Bahkan, awal sesi II semapt anjlok lebih dari 3% ke bawah 6.900. Koreksi tersebut sekaligus menjadi posisi terendah IHSG dalam 10 bulan terakhir.
Baca Juga
BRI (BBRI) Salurkan KUR Rp 47,09 Triliun di Kuartal I 2026, Mayoritas ke Sektor Pertanian
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana alias Didit menilai penguatan IHSG masih cenderung terbatas dan berpotensi kembali melemah ke depan.
“Dari sisi sentimen, nilai tukar Rupiah yg masih melemah terhadap dolar AS di Rp 17.390 masih menjadi sentimen pasar modal, kemudian pergerakan bursa regional Asia pun cenderung koreksi ditambah dengan emiten2 perbankan dan energi yang membebani pergerakan IHSG,” kata Didit saat dihubungi investortrust.id, Kamis (30/4/2026).
Didit memandang arus dana investor asing masih cenderung keluar (outflow) seiring tingginya ketidakpastian global, ditambah adanya penurunan outlook terhadap perbankan Indonesia.
Baca Juga
Bumi Resources (BUMI) Sukses Dongkrak Pendapatan dan Laba di Kuartal I-2026
Senada, Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris Mu’tashim, menjelaskan pelemahan rupiah menjadi faktor pemberat bagi IHSG, maupun pasar obligasi.
“Hal ini terlihat dari Goverment Bonds Yield 10 tahun yang naik hingga 6,96%. Sehingga memicu outflow dari pasar saham dan juga obligasi,” kata Ahmad Faris kepada investortrust.id Kamis, (30/4/2026).
Baca Juga
RUPST Tugu Insurance: Laba Bersih Tahun 2025 Melejit Jadi Rp 711 Miliar
Selain itu, menurutnya outflow dari investor asing membuat IHSG melemah, tercatat seminggu terakhir sudah tercatat outflow Rp 9,66 triliun. “Seiring dikeluarkannya BREN dan DSSA dari konstituen MSCI Indonesia karena kedua emiten tersebut masuk dalam HSC list,” terangnya.
Dari sisi dana pasif, Ahmad Faris mengatakan tidak adanya penambahan konsituten MSCI pada rebalancing Mei membuat Indonesia memiliki potensi penguarangan bobot di MSCI.
“Dari segi makro, pelemahan Rupiah yang menjadi trigger outflow di saham perbankan menjadi concern dari investor asing,” tuturnya.

