Rupiah Berakhir Melemah Terhadap Dolar AS di Sesi Penutupan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah melemah sebesar 0,12% terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada sesi perdagangan Selasa (1/9/2026).
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi menjelaskan pelemahan yang terjadi pada nilai tukar rupiah karena masih memanasnya situasi di Timur Tengah. Presiden AS, Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan lanjutan ke Iran.
Upaya mediator, termasuk Qatar dan Oman dalam menengahi kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz belum membuahkan hasil. Iran tetap menutup jalur pelayaran tersebut setelah AS dan Israel menyerang negara tersebut.
Risiko ini mengancam pelayaran dan pasokan minyak mentah. United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan adanya kapal tanker yang terkena tiga proyektil saat sedang berlayar keluar dari Selat Hormuz pada Selasa (1/9/2026).
Selain geopolitik, pidato Ketua The Fed, Kevin Warsh, di Simposium Jackson Hole, bernada hawkish yang memicu kembali ekspektasi bahwa bank sentral dapat menaikkan suku bunga paling cepat pada bulan September, serta mendorong lonjakan tajam pada nilai tukar Dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor pendek.
Baca Juga
Menurut perangkat CME FedWatch, pasar kini memperhitungkan peluang sekitar 66% untuk kenaikan suku bunga pada bulan September, naik dari sekitar 38% sebelum pidato Warsh.
Di dalam negeri, kinerja manufaktur Indonesia kembali mengalami tekanan pada Agustus 2026. Kondisi tersebut tecermin dari S&P Global Indonesia Manufacturing Purchasing Managers’ Index (PMI) yang turun ke level 49,8, dari 50,2 pada Juli 2026.
Penurunan PMI Manufaktur ke bawah ambang batas 50,0 menunjukkan bahwa kondisi operasional sektor manufaktur kembali mengalami kontraksi setelah sempat mencatatkan ekspansi tipis pada bulan sebelumnya.
S&P Global mencatat, pelemahan PMI manufaktur pada Agustus terutama dipengaruhi oleh kembali turunnya output dan penyerapan tenaga kerja membalikkan perbaikan yang tercatat pada bulan sebelumnya. Produksi dan ketenagakerjaan manufaktur Indonesia tercatat menurun dalam lima dari enam periode survei terakhir.
Indonesia mencatatkan inflasi sebesar 0,21% secara bulanan pada Agustus 2026, setelah sebelumnya mencatat deflasi 0,14% pada Juli 2026. Pada Agustus 2026, Indonesia mencatatkan inflasi 3,19% secara tahunan.
Selain itu, neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus pada Juli 2026 sebesar US$ 120 juta, usai sempat mengalami defisit pada Juni 2026 lalu sebesar US$ 450 juta.
