Rupiah Melemah ke Rp 16.222 per Dolar AS di Penutupan Perdagangan Akhir Pekan
JAKARTA, investortrust.id - Mata uang rupiah kembali terdepresiasi dalam penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (26/4/2024). Dalam pantuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah melemah 14 poin ke level Rp 16.222/USD.
Dalam pantauan perdagangan spot antarbank, dilansir dari Yahoo Finance hingga pukul 17.00 WIB mata uang rupiah melemah ke level Rp 16.205/USD. Setelah sebelumnya rupiah berada pada posisi Rp 16.184/USD dalam penutupan perdagangan Kamis (25/4/2024).
Melansir hasil analisis PT Laba Forexindo Berjangka, Kementerian Perdagangan Amerika Serikat (AS) merilis produk domestik bruto (PDB) negeri Paman Sam tersebut tumbuh 1,6 secara tahunan di kuartal pertama, namun lambat dari tingkat pertumbuhan 2,4% yang diprakirakan konsensus Reuters. Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa inflasi yang diukur dengan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) inti naik 3,7% pada kuartal pertama, melampaui perkiraan kenaikan 3,4%.
"Kejutan inflasi menempatkan fokus yang lebih besar dari biasanya pada rilis data indeks harga PCE untuk bulan Maret pada hari Jumat," kata analis rupiah yang sekaligus Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi, Jumat (26/4/2024).
Indeks PCE, dan indeks PCE inti yang memperhitungkan harga pangan dan energi merupakan salah satu ukuran paling penting yang digunakan oleh The Fed dalam mengukur perilaku harga. Inflasi masih berada di atas target inflasi bank sentral AS sebesar 2%.
Menyusul data PDB, pasar suku bunga berjangka AS memperkirakan peluang penurunan suku bunga Fed sebesar 58% pada bulan September, turun dari 70% pada hari Rabu, menurut alat FedWatch CME Group (NASDAQ:CME). Pedagang suku bunga berjangka pada hari Kamis memperhitungkan kemungkinan 68% bahwa penurunan suku bunga pertama The Fed sejak tahun 2020 dapat terjadi pada pertemuannya di bulan November.
Likuiditas Maret
Sebelumnya BI merilis data likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Maret 2024. Posisi M2 pada Maret 2024 tercatat sebesar Rp 8.888,4 triliun atau tumbuh sebesar 7,2% year on year (YoY), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya 5,3% year on year (YoY).
"Perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 7,9% (YoY) dan uang kuasi sebesar 6,2% (YoY)," tulis BI dalam keterangan resminya.
Perkembangan M2 pada Maret 2024 terutama dipengaruhi oleh perkembangan penyaluran kredit dan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat. Penyaluran kredit pada Maret 2024 tumbuh sebesar 11,8% (YoY), meningkat dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 11,0% (YoY).
Tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat tumbuh sebesar 18,0% (YoY), setelah terkontraksi sebesar 1,0% (YoY) pada Februari 2024. Sementara itu, aktiva luar negeri bersih terkontraksi sebesar 1,1% (YoY), setelah tumbuh sebesar 2,3% (YoY) pada bulan sebelumnya.

