Pria ini Selamatkan Owa Jawa dan Lingkungan dengan Kopi, Astra Ambil Bagian
Petungkriyono, investortrust.id – Pria paruh baya itu tersenyum lebar dan sedikit tersipu saat mengetahui Investortrust telah menunggunya. Ia bergegas masuk melalui pintu belakang dan mengabaikan panggilan yang memintanya tidak perlu mengganti baju.
Tasuri, demikian namanya, siang itu baru saja selesai mencari rumput untuk kambing-kambingnya ketika Investortrust tiba di sanggar kopinya di Dukuh Sokokembang, Petungkriyono, Pekalongan. Sanggar kopi yang baru, sekaligus kantor bagi Swara Owa, organisasi nirlaba dari Yogyakarta yang peduli terhadap Owa Jawa.
Sebelumnya Tasuri menjual kopi di rumahnya, beberapa puluh meter di bawah. Masih di dukuh yang sama. Sanggar kopi yang baru ini, diberi nama Swara Owa, berdiri di lahan seluas kurang lebih 200 meter persegi, dilengkapi kolam ikan, kandang kambing dan dua kamar untuk tamu. Hawanya sejuk karena dikelilingi hutan hujan tropis di ketinggian kurang lebih 700 mdpl.
Enam tahun lalu ketika Investortrust pertama kali mengunjungi pak Tasuri, ia masih melayani pembeli kopinya di rumah tempat tinggalnya. Kini ia lebih sering tinggal di Sanggar Swara Owa karena lebih representatif menurutnya.
"Kalau di rumah bawah, saya nggak enak dengan tetangga. Parkirnya pun sempit. Tamu jadi kurang nyaman. Tetangga, meski nggak pernah komplain, juga jadi terganggu."
Di tempat yang baru Tasuri mengakui bahwa yang menyediakan lahan dan membangun sanggar ini adalah mas Wawan dari Swara Owa. "Saya dipasrahi untuk menjaga, membersihkan dan berjualan kopi di sini oleh mas Wawan." tuturnya. Wawan adalah nama panggilan untuk Arif Setiawan, peneliti UGM Yogyakarta sekaligus pendiri Swara Owa yang berfokus pada pelestarian Owa Jawa (Hylobates moloch) di Sokokembang.
Letak sanggar kopi ini memang lebih tinggi dari jalan. Pengunjung memarkir kendaraan di lahan yang cukup untuk sekitar 10 sepeda motor, di tepi jalan sedikit menjorok ke dalam. Kemudian menaiki tangga menuju Sanggar Swara Owa. Siang itu sepasang suami istri dan kedua anaknya tengah menikmati kopi Owa.
Wangi kopi semerbak begitu masuk ke ruang depan. Di sudut ruangan ada satu mesin roasting kopi dan satu mesin giling. Di meja besar beragam makanan kecil tersaji di dalam toples. Sejurus kemudian segelas kopi dengan asap mengepul terhidang di atas meja. Wanginya sedap.
"Kami dari Pekalongan pak, ingin mengajak anak-anak main di sungai tapi mampir dulu di sini untuk makan siang." demikian Andi dan istrinya, Ummu Tia ketika berkenalan dengan Investortrust. Andi dan keluarganya memang kerap 'ngopi' di kedai pak Tasuri. Andi mengenal pak Tasuri sejak ia masih bujang, sekitar tahun 2015. Andi sering bersepeda ke arah Dieng dan mampir ngopi di Sokokembang dari Pekalongan. "Sekarang sudah punya anak dan istri, nggak 'gowes' lagi pak. Tapi naik motor sekalian mengajak mereka piknik." Tukas Andi.
Itu sekilas obrolan kami saat menunggu pak Tasuri yang sedang mencari rumput dan kami dijamu oleh istrinya, Mak Pah. "Mak Pah saja pak panggilnya, biar gampang diingat." jawabnya saat Investortrust menanyakan nama lengkapnya. Belakangan Investortrust mengetahui nama lengkap Mak Pah, yaitu Kunapah.
Melestarikan Owa Jawa dengan Kopi
Tasuri adalah nama yang gampang ditanyakan dan dicari di Dukuh Sokokembang. Juga di kalangan pecinta alam dan cendekiawan. Pria sederhana ini adalah penggiat lingkungan yang juga satu-satunya pengelola kopi hutan liar di Petungkriyono. Tasuri dan istrinya juga sering menemani peneliti asing yang hendak melakukan riset di hutan Sokokembang yang datang bersama tim Swara Owa dari Yogyakarta.
Pada tahun 2012, bersama Tasuri, Yayasan Swara Owa meluncurkan Program Kopi untuk Konservasi, yaitu mengajak warga masyarakat yang tinggal di sekitar hutan Petungkriyono untuk memanfaatkan kopi liar yang tumbuh di bawah naungan pohon tanpa merusak hutan, sekaligus melindungi habitat Owa Jawa. Dengan demikian, masyarakat dapat mendapatkan manfaat ekonomi sekaligus melestarikan alam.
Sebelumnya, Tasuri adalah pemburu liar yang menangkap berbagai hewan di hutan Petungkriyono. Ia, meski tidak mengenyam pendidikan tinggi, kemudian menyadari bahwa lama kelamaan hewan-hewan itu bisa habis dan punah. Ia kemudian beralih profesi menekuni hasil kopi.
Bila pembaca penasaran dengan hutan Petungkriyono dan ingin membuat buku atau ensiklopedia tentang hutan ini, cari saja pak Tasuri. Ia tahu dan hafal betul setiap lekuk kontur hutan lindung Petungkriyono; apa saja flora dan fauna di dalamnya, berapa populasi satwanya, apa saja keanekaragaman hayatinya, dan banyak lagi.
"Mungkin saya lebih kenal hutan Petungkriyono ketimbang kenal istri saya." Selorohnya sambil terbahak. Tentu saja saat itu istrinya sedang di dapur.
Tasuri yang telah menyadari bahwa perburuan liar dapat merusak lingkungan, kemudian melakukan pendekatan yang lunak dan mengajak para pemburu liar tersebut untuk mencari kotoran luwak dan menampungnya. Pada saat itu, dia menyadari hutan Sokokembang banyak sekali ditumbuhi kopi hutan liar yang menjadi makanan alami bagi kawanan luwak dan surili liar.
Surili berbeda dengan kera ekor panjang. Di Jawa mereka lebih sering dikira sebagai lutung. Lutung juga terancam punah. Keduanya, surili dan lutung menyandang status satu tingkat lebih baik dari Owa Jawa, yakni rentan (vulnerable) dalam pengelompokan oleh International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN). V (vulnerable) mengindikasikan jumlah spesies yang kurang dari 1.000 individu dewasa dan luas habitat yang kurang dari 20km2. Sedangkan luwak masuk kategori Least Concern atau berisko rendah. Jumlahnya banyak di Petungkriyono.
"Harga kotoran kopi luwak lebih menguntungkan ketimbang kalian menangkap luwak atau hewan lainnya. Hewan-hewan itu kalian buru, lama-lama habis dan kalian bekerja apalagi? Lebih baik melestarikan luwak ini, kotorannya jauh lebih berharga dan ada terus (berkelanjutan)." Demikian Tasuri menceritakan himbauannya kepada para pemburu liar tersebut.
Tak hanya kotoran luwak, ia juga mendorong para pemburu liar itu untuk memanen kopi yang tumbuh secara liar di hutan Petungkriyono. Memang benar. Begitu memasuki hutan lindung Petungkriyono, kanopi pohon besar menutupi jalan dan di sepanjang jalan itu mudah ditemukan pohon kopi. Dan juga kera ekor panjang.
"Saya katakan kepada mereka untuk memetik hanya biji kopi yang sudah merah, jangan yang masih hijau atau kuning. Sebab harganya lebih tinggi dan juga supaya kualitas kopi lokal ini ada terus (berkesinambungan). Jadi saya hanya mau membeli buah kopi yang sudah merah (cherry) dari para pemburu liar itu yang kini telah beralih profesi." Ujar pria 58 tahun ini lebih lanjut.
Peneliti dari Yayasan Swara Owa Arif Setyawan mengatakan, ia melihat masih banyak warga yang melakukan perambahan hutan dan perburuan satwa saat melakukan penelitian Owa di hutan Petungkriyono pada tahun 2006. Pembukaan hutan untuk perluasan budidaya kopi juga masih terjadi.
“Daripada meningkatkan produksi kopi dengan melakukan ekspansi ke dalam hutan dan menebang pohon yang bisa mengancam konservasi hutan dan membahayakan satwa, saya berpikir mengapa tidak mengoptimalkan produksi yang ada,” kata Arif Setyawan seperti dilansir Suara Merdeka.
Berdasarkan penelitian, tanaman kopi robusta yang tumbuh di hutan Petungkriyono sangat toleran dengan sinar matahari dan bisa tumbuh dengan baik di bawah naungan (shade grown coffee). “Tanaman kopi dengan tipikal shade grown coffee kualitasnya jauh lebih bagus dibandingkan kopi yang dibudidayakan di perkebunan,” sambung Arif.
Petungkriyono adalah rumah terbesar kedua bagi owa jawa setelah Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNHS) di Jawa Barat. Hingga kini, di tahun 2026 telah terdapat 120 keluarga owa jawa yang semula hanya 50 keluarga pada tahun 2007. Setiap keluarga owa jawa terdiri atas 3-5 ekor. Mereka mendiami hutan heterogen tropis yang dikelola oleh Perhutani dan hutan rakyat seluas 6000 hektar dengan ketinggian beragam mulai 400 mdpl hingga 1400 mdpl.
"Di hutan sini paling nggak satu keluarga Owa Jawa bisa 3 sampai 4 ekor lah (anggota keluarganya). Itu data sementara aja, pakenya untuk ngiden (mengidentifikasi) itu pake, apa, teritorial. Jadi waktu itu dilakukan penelitian dengan metode, apa ya, dibikin ada, ada orang 3 kelompok, jadi di titik 1 dan titik 2 itu jaraknya sampai 20 meter. Jadi itu yang diambil datanya itu pake data suara. Suaranya bisa beda-beda." Tasuri menjelaskan metode yang digunakan peneliti Owa Jawa dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta.
"Itu nanti, sama yang di titik sini untuk pengamatan jam 10 lebih 10 menit bersuara, yang di titik 2 jam 10 sampai jam 10.25 berarti kan udah berbeda. Tapi kalau yang didengar jam 10, 10 menit berarti itu sama." Tambahnya.
Tasuri juga menjelaskan mengapa sanggar kopi yang ia kelola diberi nama Swara Owa. Karena menurutnya, Owa Jawa termasuk primata pemakan kopi tapi hanya kulit kopi yang sudah matang saja, tidak seperti luwak yang ditelan. Tidak hanya Owa, primata lain seperti kera ekor panjang juga memakan kulit kopi. Keduanya turut membantu penyebaran biji kopi ke seantero hutan di Petungkriyono.
Mengutip situs IUCN, (International Union for Conservation of Nature), Owa Jawa masuk dalam golongan EN (Endangered) atau genting. Peluangnya hanya 50% untuk bisa selamat hingga satu dekade ke depan apabila tidak ada tindakan ekstrim dari pemerintah dan masyarakat. Populasinya diperkirakan hanya tersisa 4 ribu ekor saja di seluruh Jawa Barat dan Jawa Tengah. Hewan ini adalah hewan endemik (menyebar terbatas) di Jawa Tengah dan Jawa Barat.
Hilangnya habitat akibat pembukaan hutan untuk berbagai keperluan dan perburuan liar dengan menangkap owa kanak-kanak (dan bila perlu membunuh induknya lebih dulu) menjadi ancaman bagi primata ini. Kanak-kanak owa jawa itu dijual di pasar gelap sebagai hewan peliharaan eksotis dan bergengsi. Di Indonesia, owa jawa telah dilindungi oleh Undang-undang Perlindungan Binatang Liar (Dierenbescherming-ordonnantie) semenjak tahun 1931.
Hutan Hujan Tropis Yang Sangat Kaya
Memasuki hutan lindung Petungkriyono dari arah Kecamatan Doro, Pekalongan Selatan, kita akan disambut monumen yang memperlihatkan nama Petungkriyono sebagai warisan alam. Lengkungan pokok pohon besar meneduhi jalan, menyaring sinar matahari dan memberikan keteduhan. Ada dua atau tiga air terjun kecil di tebing di sisi jalan. Flora-nya sangat beragam, dan kaya.
Kera ekor panjang (Macaca fascicularis) berlarian menjauhi sisi jalan ketika ada kendaraan yang lewat. Untuk bisa melihat primata endemik seperti Owa Jawa (Hylobates moloch), Lutung Jawa (Trachypithecus auratus), dan Surili atau Rekrekan (Presbytis comata) kita harus berjalan lebih jauh ke dalam hutan, itupun jika beruntung.
Penduduk setempat bahkan menuturkan pernah melihat sosok, jejak atau kotoran macan tutul atau macan kumbang. Sebagian penduduk mungkin menyalahartikan kucing besar itu sebagai harimau jawa yang dianggap telah punah.
Pada tahun 2019, kamera trap yang dipasang oleh mas Wawan dan teman-temannya menangkap sesosok macan tutul Jawa (Panthera pardus melas) di hutan Petungkriyono. Keberadaan predator puncak di hutan Petungkriyono itu juga diperkuat dengan survei lapangan oleh mas Wawan rekan-rekannya seperti dikutip dari jpnn.com.
Selain itu masih banyak kupu-kupu dan capung yang terbang dan hinggap bebas dari tanaman satu ke yang lain. Keberadaan dua serangga tersebut cukup untuk mengindikasikan kualitas udara yang masih sangat bersih.
Bila mau berhenti sejenak di tepi jalan pada pagi hari, kita bisa mendengar siulan owa jawa di kejauhan kalau beruntung. “Di Sokokembang ini, kami dibangunkan bukan oleh suara siulan owa jawa dari dalam hutan, bukan oleh kokok ayam jantan." kata Tasuri.
Tak hanya suara owa jawa, suara burung dan serangga juga riuh rendah meningkahi gemericik sungai. Bagi telinga yang sudah terbiasa, bisa jadi akan mampu mendengar suara lantang burung yang paling dilindungi, yakni Elang Jawa (Nisaetus bartelsi). Petungkriyono juga dikenal sebagai spot terbaik untuk birdwatching. Setidaknya ada tiga jenis burung yang terancam punah menghuni hutan ini, yakni Elang Jawa, Elang Hitam (Ictinaetus malayensis) dan burung Rajaudang Kalung-biru (Alcedo euryzona).
Ada beberapa air terjun kecil di sela tebing di tepi jalan. Di hutan ini pohon pohon besar dan tinggi serta tajuk-tajuknya bersentuhan membentuk kanopi yang sangat cocok bagi habitat primata. Hutan ini punya lereng curam yang menyediakan pakan bagi satwa sepanjang tahun. Hutan lindung Petungkriyono ini dinilai terbaik dari 25 lokasi hutan tempat penelitian di Indonesia. Belum ada penelitian khusus yang menghitung berapa jumlah spesies flora yang tumbuh di hutan Petungkriyono, namun diperkirakan jenisnya melebihi seribu spesies.
Biodiversitas yang tinggi di hutan Petungkriyono membuat para pegiat lingkungan seperti Swara Owa, Yayasan Relung, dan lainnya (termasuk pak Tasuri) bersama pihak terkait seperti Cabang Dinas Kehutanan, Perum Perhutani, dan BKSDA Jateng beberapa kali melakukan pertemuan untuk membahas penyelamatan kekayaan alam di Hutan Petungkriyono.
Kekayaan Petungkriyono tidak hanya hutan. Namun kini juga menjadi tujuan wisata domestik yang murah meriah. Dalam satu kawasan kita bisa menikmati trekking masuk hutan, birdwatching dan mengamati primata, ada hutan pinus yang dilengkapi flying fox dan beragam permainan, river tubing, jelajah black canyon, camping ala backpackers sampai glamping juga ada. Semua bisa dinikmati dengan menyesap segelas kopi Petung yang terkenal nikmat dan khas. Kopi Petung dikenal memiliki aroma yang kuat, cita rasa cenderung earthy, herbal, dan fruity. Sedap sekali.
Raja buah bernama durian tersedia di Pasar Doro, hanya beberapa kilometer ke selatan. Durian di Pasar Doro terkenal legit, manis sedikit pahit dan harganya terjangkau. Selain durian juga ada manggis, pete, pisang, nangka, alpukat. Jangan lewatkan kalau ada penjual madu hutan karena madu di Petungkriyono terkenal asli dan berkhasiat. Pak Tasuri juga menjual madu hutan.
Hutan Petungkriyono juga menghasilkan kapulaga, jahe, kunyit, kencur, dan serai yang wangi dan rasanya sangat berbeda dari spesies sejenis yang ditanam di kebun. Gula aren menjadi komoditas yang sangat berpotensi untuk dikembangkan karena meskipun belum banyak, pohon aren di hutan Petungkriyono mulai memberikan secercah harapan.
Jejak Kopi di Petungkriyono
Mengapa ada pohon kopi di Petungkriyono? Menurut penuturan yang didengar Tasuri, pada masa kolonial Belanda, mereka melakukan uji coba menanam bibit kopi di Petungkriyono. Diperkirakan dimulai pada awal abad ke-18. Setelah terjadinya Cultuurstelsel (tanam paksa). Namun entah mengapa lahan kebun kopi tersebut ditinggalkan begitu saja.
Pohon-pohon kopi inilah yang kemudian menyebar ke seluruh penjuru hutan lindung Petungkriyono dengan bantuan satwa liar. Sebenarnya kegiatan memanen biji kopi telah dilakukan masyarakat Petungkriyono sejak Tahun 80-an. Namun kala itu, Wong Petung, demikian warga setempat menjuluki diri mereka, tidak berani terlalu jauh masuk ke dalam karena status hutan lindung.
"Jadi orang dulu itu rata-rata di sini boleh dikata diprioritaskan kalau kopi itu. Karena untuk kebutuhan orang-orang di sekitar hutan, termasuk di Dukuh Sokokembang itu, kalau untuk kebutuhan untuk ngawinin anak atau nge-tanin (mengkhitankan) anak itu, nunggu pasca panen kopi. Zaman dulu itu seperti itu. Karena memang adanya produk lokal itu di sini memang.... Mungkin gimana ya? Sampai sekarang sebenarnya potensi banget untuk kopi. Tapi jenisnya kopi robusta." tutur bapak tiga anak itu.
Pria yang murah senyum ini juga menceritakan bahwa jauh di dalam hutan bahkan ada pohon kopi yang tumbuh liar hingga setinggi puluhan meter dan dijalari anggrek hutan sehingga sulit dikenali lagi kalau pohon itu adalah pohon kopi. Untuk memetik buah kopi yang matang diperlukan tangga bambu.
Bila rata-rata pohon kopi yang mudah kita temui di perkebunan kopi memiliki diameter sebesar lengan orang dewasa, di hutan Petungkriyono, menurut Tasuri, ada pohon kopi yang diameternya besar sampai seukuran satu pelukan orang dewasa. Usia pohon itu
Kopi Istimewa Tapi Terbatas
Beberapa tahun belakangan Petungkriyono yang juga kaya dengan berbagai destinasi wisata seperti air terjun, camping ground, river tubing hingga black canyon mulai menjadi tujuan wisata kopi bagi kaum urban. Terutama mereka yang gemar berburu specialty coffee lokal.
Tingginya minat terhadap kopi Petungkriyono itu membuat warga desa sekitar banyak membuka lahan-lahan perkebunan rakyat demi kepentingan ekonomis. Dari situlah Tasuri ingin menyelamatkan hutan dan satwa Sokokembang melalui kopi.
"Jadi sebenarnya lahan hutan di sini bukan khusus kebun kopi. Nggak boleh karena tanamannya itu di hutan (milik) perhutani. Jadi (kita) numpanglah. Hewan-hewan di sini juga tidak boleh diburu. Tidak boleh berburu di hutan lindung ini." Tegasnya.
Tasuri kemudian menjelaskan bahwa arahan dari Perhutani adalah bila ada pancang (tunas) pohon keras tumbuh berdekatan dengan tunas pohon kopi, maka tunas pohon kopi harus mengalah atau dicabut.
"Anakan itu kalau yang nggak boleh itu dari pancang. Pancang itu kalau anakan pohon hutan sudah nggak boleh ditebang. Regenerasi kemudian kan ada pancang, tiang, pohon, berarti kan ini pancang itu kedepannya bisa jadi pohon, berarti nggak boleh." tandasnya.
Sejak meningkatnya minat masyarakat terhadap kopi Petungkriyono, sejumlah warga mulai membuka lahan untuk menanam kopi. Dari sinilah kepedulian Tasuri dimulai. Ia tak ingin naiknya permintaan kopi menjadi awal menurunnya kualitas hutan Petungkriyono. Tasuri melakukan pendekatan persuasif dan mengajak warga untuk memanfaatkan secara maksimal kopi yang telah ada di hutan.
Para penduduk sekarang telah sadar akan keberlanjutan hutan di lingkungan mereka. Warga senantiasa mengingat pesan para peneliti yang datang ke desa mereka dan mengatakan, “Rawat yang sudah ada dan jangan buka lahan baru karena akan merusak hutan dan membahayakan habitat satwa,” kata Tasuri menirukan pesan para peneliti.
Warga dan Kepala Desa bahkan telah menyepakati Peraturan Desa (Perdes) yang mengatur tentang larangan menangkap satwa yang dilindungi untuk diperjualbelikan dan menebang pohon di wilayah hutan desa dan di wilayah mata air yang akan berdampak pada rusaknya atau hilangnya mata air.
Kini warga setempat mulai menerapkan agroforestri berbasis kopi, kondisi tutupan pohon di hutan lindung Petungkriyono yang sebelumnya banyak terbuka akibat aktivitas perambahan, perlahan-lahan menunjukkan perbaikan. Wilayah Kabupaten Pekalongan pernah kehilangan tutupan pohon seluas 198 ha pada tahun 2001. Namun pada 2019, hilangnya tutupan pohon menyusut hingga seluas 93 ha seperti dilaporkan oleh Global Forest Watch dalam laman resminya.
Agroforestri berbasis kopi berperan dalam mengatur iklim lokal melalui proses penyerapan dan penyimpanan cadangan karbondioksida dengan adanya keanekaragaman pohon penaung, sehingga emisi karbondioksida dapat dikurangi.
Penelitian lain menyebutkan, agroforestri berbasis kopi juga berkontribusi terhadap konservasi keanekaragaman hayati dan berperan mempertahankan keberadaan spesies endemik seperti dikutip dari Suara Merdeka.
Hal yang lebih menarik lagi adalah, meski secara fisik, biji kopi hutan jauh lebih kecil dibanding kopi perkebunan, tetapi massa kopi dari hutan Petungkriyono lebih padat. Hal ini diketahui saat dilakukan penimbangan. Kopi hutan Petungkriyono juga menebar aroma yang lebih kuat karena hanya menggunakan ceri kopi merah.
Meski minat terhadap kopi Petung (nama yang populer untuk kopi dari kawasan ini), Tasuri mengaku hanya sanggup menjual 50kg kopi setiap bulannya. Jumlah itu adalah total bubuk kopi baik yang diminum di tempat maupun orang yang datang langsung membeli atau secara online.
Kiprah Tasuri Menarik Perhatian Korporasi
Tasuri mengaku beberapa kali mendapat bantuan dari perusahaan-perusahaan besar yang mengetahui kiprahnya. Ia pernah mendapatkan pembiayaan dari sebuah koperasi yang didirikan oleh sebuah perusahaan yang Tasuri enggan menyebutkan namanya. Namun ia bersemangat saat menceritakan kedatangan tim dari Astra International Perwaklian Semarang.
"Ya tahu-tahu datang saja ke sini satu mobil. Lalu saya tanya, Astra kan yang bikin motor ya? Saya minta Honda CRF untuk pengamatan hutan." Tuturnya sambil tertawa. "Kalau ke Salang Rumpung (nama sebuah wilayah di Petungkriyono) itu kan jalannya susah. Itu termasuk pedalaman Petung."
"Saya sih bebas mau CRF (sejenis motor trail) yang mana saja yang penting bisa (untuk blusukan)."
Tasuri menerangkan bahwa kedatangan tim dari Astra memberikan bantuan senilai Rp 300jt pada tahun 2025. Dan ia pun sudah mengutarakan keinginan untuk mendapatkan motor jenis CRF itu namun hingga kini belum ada kelanjutan.
Dana dari Astra International ia gunakan untuk membeli bibit dan polybag, menyewa lahan dan mendirikan bangunan untuk pembibitan. Juga membayar upah buruh yang menanam bibit jauh ke dalam hutan. Tasuri telah menyiapkan bibit-bibit dari pohon kecapi, rambutan, gintung, rauh, dan sebagian bibit kopi. Bibit-bibit itu telah ia tanam di dalam polybag, dan rencananya akan mencapai hingga lima ribu bibit.
Di seberang sanggar kopi Swara Owa ini memang ada sebidang tanah dan bangunan yang digunakan Tasuri sebagai lahan pembibitan. "Jadi ke depannya untuk pembibitan ini saya ingin tanam di (area) yang belum ada pohon-pohon pakan untuk satwa." Jelasnya.
Pak Tasuri bahkan menerima tantangan bila ada pihak yang menawarkan bibit pohon aren, ia dan teman-temannya siap menyebarkan ke seantero Petungkriyono. Menurut penuturannya, pohon aren sangat bagus menahan erosi karena akarnya yang menembus hingga jauh ke dalam tanah. Sementara buah, air, batang hingga daunnya menyimpan beragam manfaat. Ia telah menyemai bibit aren dari buah aren dan berhasil menumbuhkan ratusan bibit kemudian memberikan secara gratis bibit aren tersebut kepada warga yang membutuhkan.
"Saya beli buah aren satu karung, tapi dari satu karung itu hanya 700 butir yang berhasil saya jadikan bibit." ujarnya sesudah menyesap kopi. "Tapi kalau ada perusahaan atau siapa saja yang mau kasih saya bibit aren, saya siap menanamnya. Semoga aren ini juga bisa menjadi andalan Petungkriyono."
Petungkriyono adalah daerah tangkapan air penting untuk wilayah hilir Pekalongan. Kondisi di selatan kontras dengan pesisir utara Pekalongan. Sebagian wilayah Pekalongan Utara terendam air laut karena mengalami penurunan permukaan tanah dibarengi dengan naiknya permukaan laut.
Hutan Petungkriyono menyimpan nilai ekonomi besar selain sebagai penyerap karbon. Petungkriyono menyimpan potensi wisata alam dan argoforestri karena merupakan salah satu hutan hujan tropis yang tersisa di Jawa dengan air terjun, sungai, satwa langka dan komoditas kopi. Udara yang bersih, sejuk dan lanskap yang indah dapat dikemas menjadi wisata lingkungan berbasis komunitas lokal dengan kopi dan owa jawa sebagai maskot dan andalan.

