Rupiah Melemah Terhadap Dolar AS Mendekati Rp 18.000 per Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah bergerak melemah 0,08% menjadi Rp 17.994 per dolar AS pada Rabu (8/7/2026).
Pelemahan ini senada dengan pergerakan mata uang di Asia. Yuan China melemah 0,09%, dolar Hong Kong melemah 0,01%, ringgit Malaysia melemah 0,26%, dolar Singapura melemah 0,06%, baht Tailan melemah 0,14%.
Kepala ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mencatat menguatnya Indeks Dolar AS (DXY) mendekati level 101 setelah mencatat pelemahan tipis dalam dua sesi sebelumnya, menunjukkan respons yang relatif terbatas terhadap kenaikan harga minyak yang kembali terjadi.
Baca Juga
Mata Uang Asia dan Rupiah Bergerak Melemah Terhadap Dolar AS
Sementara itu, harga minyak naik setelah muncul laporan mengenai serangan terhadap kapal-kapal di dekat Selat Hormuz, yang menyoroti rapuhnya kondisi keamanan di Timur Tengah serta potensi risiko terhadap pasokan energi global.
Kenaikan harga minyak kembali memicu kekhawatiran terhadap inflasi dan mendorong pelaku pasar meningkatkan ekspektasi secara moderat terhadap tambahan kenaikan suku bunga The Fed pada tahun ini.
Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 8,18 bps menjadi 4,55%.
Baca Juga
Probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan September, sebagaimana tercermin dari harga pasar, meningkat menjadi sekitar 58%, naik dari 56% sehari sebelumnya. Investor kini menantikan risalah rapat FOMC yang akan dirilis pada Rabu untuk memperoleh petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter The Fed, menyusul sikap bank sentral yang lebih hawkish pada pertemuan Juni.
Ekspektasi inflasi median masyarakat AS untuk satu tahun ke depan naik 0,2 poin persentase menjadi 3,7% pada Juni 2026, level tertinggi sejak September 2023.
Ekspektasi inflasi untuk tiga tahun ke depan juga meningkat 0,2 poin menjadi 3,3%, tertinggi sejak Juni 2022, sementara ekspektasi untuk lima tahun ke depan tetap stabil di 3,0%. Di sisi lain, ekspektasi pertumbuhan harga bensin turun 3,5 poin menjadi 1,5%, level terendah sejak Agustus 2022.
Defisit neraca perdagangan AS melebar tajam menjadi US$ 77,6 miliar pada Mei 2026 dari revisi US$ 54,6 miliar pada April, sejalan dengan ekspektasi pasar sebesar defisit US$ 78,5 miliar. Defisit tersebut merupakan yang terbesar sejak Maret 2025, seiring impor meningkat 3,3% menjadi US$ 395,3 miliar, level tertinggi dalam lebih dari satu tahun.
Pemberi kerja sektor swasta di AS menambah rata-rata 21.000 lapangan kerja per minggu dalam empat pekan yang berakhir pada 20 Juni 2026, menurut ADP Research Institute. Angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang mencatat rata-rata 24.250 lapangan kerja per minggu.
Ini menjadi pekan kedua berturut-turut perlambatan pertumbuhan lapangan kerja, sejalan dengan laporan ADP bulan Juni yang menunjukkan sektor swasta hanya menambah 98.000 pekerjaan, terendah dalam tiga bulan dan di bawah perkiraan pasar sebesar 113.000.
