Kurs Rupiah Kembali Berlanjut Melemah Mendekati Rp 16 Ribu/USD. Apa Penyebabnya?
JAKARTA, investortrust.id - Indeks dolar Amerika Serikat (AS) yang dalam tren menguat memaksa mata uang rupiah terus melemah. Dilansir dari Yahoo Finance, mata uang Garuda dibuka pada level Rp 15.919 per USD, Rabu (3/4/2024) atau hampir mendekati angka Rp 16 ribu per USD.
"Aksi ambil untung jelang hari raya Idul Fitri dan keluarnya modal asing dari pasar dalam negeri juga menjadi penyebab pelemahan rupiah," kata Reny kepada Investortrust.id, dikutip pada Rabu (3/4/2024).
Dalam penutupan transaksi antarbank di pasar valas Indonesia yang dirilis Bank Indonesia pada Selasa (2/4/2024) sore, rupiah masih bertahan pada level Rp 15.909 per USD. Berdasarkan data kurs Jisdor, kurs terhadap greenback ini sama dengan penutupan perdagangan Senin lalu.
Baca Juga
Emas Capai Rekor Tertinggi Baru Setelah Rilis Data Ekonomi AS
Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Reny Eka Putri melihat depresiasi rupiah salah satunya disebabkan tekanan dari sentimen dalam negeri. Terdapat kekhawatiran akan melebarnya CAD atau defisit neraca transaksi berjalan) pada tahun 2024 menjadi 1,5% produk domestik bruto (PDB) dari sebelumnya defisit 0,11% PDB. "Ha; itu terutama disebabkan oleh menurunnya kinerja ekspor akibat melemahnya perekonomian global," katanya.
Kemudian, depresiasi rupiah juga dipengaruhi oleh repatriasi dividen pada kuartal 1-2024 yang cenderung meningkatkan permintaan USD. Tercatat total net capital outflow dari pasar saham dan obligasi dalam negeri mencapai sekitar Rp 27,9 triliun (m-to-date) atau Rp 6,6 triliun (year-to-date) hingga Maret lalu.
Posisi Utang Pemerintah
Sementara menurut analis sekaligus Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi, pasar terus memantau tentang posisi utang pemerintah RI yang tercatat berada di angka Rp 8.319,2 triliun hingga 29 Februari 2024. Jumlah ini naik dari posisi akhir Januari, yang senilai Rp 8.253,09 triliun atau bertambah Rp 66,13 triliun dalam kurun waktu satu bulan.
"Utang pemerintah ini setara dengan 39,06% PDB. Ini melanjutkan tren tertinggi sepanjang masa," kata Ibrahim dalam keterangan tertulis yang diterima Investortrust.id.
Sedangkan Kemenkeu mencatat dalam buku APBN Kita edisi Maret 2024, rasio utang pada Februari 2024 masih di bawah batas aman rasio utang, sesuai dengan Undang-Undang (UU) No 17/2023 yang sebesar 60%. PDB. Pengelolaan portofolio utang ini berperan besar dalam menjaga kesinambungan fiskal secara keseluruhan.
Oleh karena itu, Kemenkeu menyatakan, pemerintah konsisten mengelola utang secara cermat dan terukur. Hal ini dengan menjaga risiko suku bunga, mata uang, likuiditas, dan jatuh tempo yang optimal.
"Selain itu, pemerintah mengutamakan pengadaan utang dengan jangka waktu menengah-panjang. Kami juga melakukan pengelolaan portofolio utang secara aktif," tuturnya.
Pengelolaan utang yang disiplin dinilai turut menopang hasil asesmen lembaga pemeringkat kredit internasional, seperti S&P, Fitch, Moody’s, R&I, dan JCR. Hingga saat ini, mereka tetap mempertahankan sovereign rating Indonesia pada level investment grade di tengah dinamika perekonomian global dan volatilitas pasar keuangan.

