NPI Defisit, Kurs Rupiah Melemah Kembali Dekati Rp 16.000/USD
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada Senin siang (20/5/2024), kembali mendekati level psikologis Rp 16.000/USD. Sementara itu, mata uang hard currency seperti euro tercatat menguat terhadap greenback.
Mata uang Garuda tercatat berada di posisi Rp 15.974/USD hingga pukul 11.28 WIB, seiring rilis neraca pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan I 2024 yang berbalik arah menjadi defisit 6,0 miliar dolar AS. Sebelumnya, pada triwulan IV 2023, NPI masih mencatatkan surplus mencapai 8,6 miliar dolar AS, berdasarkan data Bank Indonesia.
“Kendati demikian, kinerja NPI pada triwulan I 2024 tetap terjaga. Defisit transaksi berjalan juga tetap rendah, di tengah kondisi perlambatan ekonomi global. Sementara itu, transaksi modal dan finansial mencatatkan defisit yang terkendali, seiring dampak peningkatan ketidakpastian pasar keuangan global,” kata Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam keterangan di Jakarta, 20 Mei 2024.
Baca Juga
Ditopang Berbagai Sentimen Positif, Harga Minyak Terus Melaju Bullish
Merujuk data Yahoo Finance, kurs rupiah melemah terhadap dolar AS sebesar 25 poin atau 0,16% pada siang ini dibanding hari perdagangan sebelumnya. Sedangkan secara year to date, rupiah melemah 3,84%.
Sementara itu, nilai tukar euro tercatat menguat 0,0010% terhadap dolar AS siang ini ke level 0,9188/USD, dibanding hari perdagangan sebelumnya. Namun, secara ytd masih melemah 1,58%.
Sentimen Global
Analis Cheril Tanuwijaya mengatakan, perhatian investor masih tertuju pada data inflasi Amerika Serikat. "Penurunan inflasi periode April 2024 di negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu masih membuat pelaku pasar optimistis dengan kemungkinan pemangkasan suku bunga The Fed di tahun ini," ucap analis Cheril Tanuwijaya saat membeberkan hasil analisis Tim Riset InvestasiKu, Jakarta, Senin (20/5/2024).
Sementara itu, rilis kinerja kuartal I 2024 emiten AS baik, dengan 90% perusahaan anggota indeks S&P 500 melaporkan kenaikan earnings per share (EPS) sebesar 7,3%. Bahkan 72% dari anggota S&P 500 melaporkan kenaikan margin laba bersih yang lebih baik dari perkiraan pasar. Hal ini menghapus ekspektasi awal bahwa era suku bunga yang tinggi akan menekan kinerja emiten.
Di Asia, pelaku pasar cenderung netral terhadap rilis data ekonomi Tiongkok yang variatif. Penjualan ritel dan investasi aset tetap tumbuh di bawah ekspektasi, produksi industri naik, dan pengangguran turun.
Namun, pasar menyambut positif dukungan Bank Sentral Tiongkok (PBoC) yang kembali memberikan stimulus untuk sektor properti. Ini berupa down payment serendah 15% untuk pembelian properti perdana dan 25% untuk pembelian properti kedua.
"Kebijakan tersebut juga turut direspons positif oleh harga komoditas logam dasar yang menguat. Ini seiring ekspektasi kenaikan permintaan," paparnya.
Di Eropa, pelaku pasar meragukan pemangkasan suku bunga di Benua Biru itu akan berjalan mulus. Pasalnya, anggota Dewan Eksekutif Bank Sentral Eropa (ECB) Isabel Schnabel di Jumat lalu mengatakan bahwa pemangkasan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB) mungkin saja terjadi di bulan Juni nanti, namun perlu berhati-hati akan pemangkasan suku bunga yang terlalu dini.
"Hari ini pelaku pasar akan mencermati keputusan PBoC terkait suku bunga. Selain itu, komentar dari para pejabat The Fed (Bostic dan Waller)," imbuhnya.
Baca Juga
Langkah Berani Tiongkok Dorong Harga Emas Kembali Ukir Rekor All Time High

