NPI Surplus, Transaksi Berjalan 2024 Defisit 0,1-0,9% PDB
JAKARTA, investortrust.id - Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 23-24 April 2024 memperkirakan, secara keseluruhan, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) surplus. NPI 2024 diprakirakan tetap terjaga, dengan transaksi berjalan dalam kisaran defisit rendah sebesar 0,1% sampai dengan 0,9% dari produk domestik bruto (PDB).
“Ketahanan eksternal ekonomi nasional juga didukung oleh surplus NPI. Ini ditopang antara lain oleh neraca perdagangan barang triwulan I-2024 yang kembali mencatatkan surplus, sehingga diprakirakan menjaga transaksi berjalan tetap sehat,” kata Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulan April 2024 dengan Cakupan Triwulanan, Rabu (20/3/2024).
Baca Juga
Transaksi Modal-Finansial akan Surplus
Sementara itu, transaksi modal dan finansial triwulan I-2024 diprakirakan mencatatkan defisit. Ini sejalan dengan menurunnya aliran modal asing akibat dampak memburuknya ketidakpastian pasar keuangan global.
"Investasi portofolio pada triwulan I-2024 mencatatkan net outflows sebesar 0,4 miliar dolar AS. Ini berlanjut hingga awal triwulan II-2024, sampai 22 April 2024, mencatatkan net outflows 1,9 miliar dolar AS," tutur Perry.
Ia juga menyebut, Indonesia memiliki ketahanan eksternal dari dampak rambatan global juga didukung oleh kuatnya koordinasi kebijakan moneter dan makroprudensial Bank Indonesia dengan kebijakan fiskal dan reformasi struktural yang ditempuh pemerintah. Selain itu, cadangan devisa dinilai tetap tinggi.
Baca Juga
Posisi cadangan devisa Indonesia akhir Maret 2024 sebesar 140,4 miliar dolar AS. Ini setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
“Sedangkan NPI 2024 diprakirakan terjaga dengan transaksi berjalan dalam kisaran defisit rendah, ini juga didukung neraca transaksi modal dan finansial yang diprakirakan mencatat surplus. Hal itu sejalan dengan prakiraan kembali meningkatnya aliran masuk modal asing, seiring meredanya ketidakpastian pasar keuangan global serta terjaganya persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang menarik,” paparnya.
Baca Juga
Rupiah Menguat Usai KPU Tetapkan Prabowo Presiden Terpilih dan BI Naikkan Bunga
Ia juga menjelaskan, kebijakan nilai tukar Bank Indonesia terus diarahkan untuk menjaga stabilitas rupiah dari dampak menguatnya dolar AS secara luas. Indeks nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama (DXY) tercatat menguat tajam mencapai level tertinggi 106,25 pada tanggal 16 April 2024, mengalami apresiasi 4,86% dibandingkan dengan level akhir tahun 2023.
"Perkembangan ini memberikan tekanan depresiasi kepada hampir seluruh mata uang dunia, termasuk nilai tukar rupiah. Yen Jepang dan dolar New Zealandmasing-masing melemah 8,91% dan 6,12% (ytd), sementara mata uang kawasan seperti baht Thailand dan won Korea masing-masing melemah 7,88% dan 6,55% (ytd)," ucapnya.

