Meski Neraca Perdagangan Juni 2024 Surplus, Pemerintah Diminta Waspadai Defisit Transaksi Berjalan
JAKARTA, investortrust.id - Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengungkapkan bahwa meski neraca perdagangan Indonesia Juni 2024 surplus, tapi torehan tersebut menjadi yang terendah selama empat bulan terakhir.
“Surplus neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2024 turunmenjadi US$ 2,39 miliar, dibandingkan Mei 2024 senilai US$ 2,92 miliar,” kata Josua, dalam keterangan resminya, Senin (15/7/2024).
Dia mengatakan, surplus pada Juni 2024 ini terkecil sejak Februari 2024. Data ini juga menunjukkan tren penurunan surplus neraca perdagangan akibat pertumbuhan ekspor yang mengecil, dibandingkan dengan pertumbuhan impor.
Baca Juga
Surplus Neraca Perdagangan US$ 2,39 Miliar Juni, Berlanjut 50 Bulan Berturut-turut
“Secara bulanan, ekspor mengalami kontraksi yang lebih tajam dibandingkan impor. Penurunan bulanan ini didorong oleh melemahnya aktivitas manufaktur baik secara global maupun domestik,” kata dia.
Seiring dengan surplus perdagangan yang terus menyusut, Josua mengatakan, ekspektasi defisit neraca transaksi berjalan (CAD) pada 2024 akan melembar menjadi -0,94% terhadap PDB tahun ini, dibandingkan -0,14% dari PDB tahun 2023.
“Proyeksi ini didasarkan pada beberapa faktor, termasuk laju normalisasi harga komoditas yang moderat dan potensi dampak peningkatan ketidakpastian global terhadap permintaan dari mitra dagang utama Indonesia,” kata dia.
Josua menambahkan, defisit transaksi berjalan yang melebar diperkirakan menekan rupiah dan cadangan devisa. Padahal, devisa sangat dibutuhkan di tengah ketidakpastian pasar global akibat faktor ekonomi dan politik.
Baca Juga
Sementara itu, ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk Hosianna Evalita Situmorang memperkirakan, surplus neraca perdagangan yang masih berlanjut hingga Juni 2024 akan berdampak positif terhadap stabilitas nilai tukar rupiah.
“Namun, kami mengantisipasi defisit transaksi berjalan yang semakin besar seiring dengan menurunnya surplus perdagangan, terutama karena melemahnya permintaan global terhadap produk ekspor,” kata dia.
Baca Juga
Sehubungan dengan stabilnya nilai tukar rupiah, dia mengatakan, Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan BI Rate sebesar 6,25% pada pertemuan 17 Juli 2024 mendatang.
BI mencatat transaksi berjalan mencatat defisit rendah di tengah kondisi perlambatan ekonomi global. Pada triwulan I 2024, transaksi berjalan mencatat defisit US$ 2,2 miliar (0,6% dari PDB), lebih tinggi dibandingkan dengan defisit US$ 1,1 miliar (0,3% dari PDB) pada triwulan-IV 2023.

