Berat, Selama Suku Bunga The Fed Tinggi, NPI Berpotensi Didera Defisit
JAKARTA, Investortrust.id – Bank Indonesia menyampaikan bahwa kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan III- 2023 membaik di tengah meningkatnya ketidakpastian di perekonomian global.
Disampaikan Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Erwin Haryono, NPI pada triwulan III 2023 menunjukkan perbaikan signifikan dengan mencatat defisit US$ 1,5 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan defisit pada triwulan sebelumnya sebesar US$ 7,4 miliar dolar AS. Kondisi tersebut ditopang oleh defisit neraca transaksi berjalan dan transaksi modal dan finansial yang membaik.
“Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa pada akhir September tercatat tetap tinggi sebesar 134,9 miliar dolar AS, atau setara dengan pembiayaan 6,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor,” kata Erwin dalam pernyataan tertulisnya Selasa (21/11/2023).
Namun jika melihat dalam periode empat tahun terakhir, setelah mengalami surplus neraca pembayaran selama empat tahun sejak 2019 – 2023, pada periode Januari – September 2023 Indonesia tercatat mengalami defisit sebesar US$ 2,3 miliar. Angka tersebut lebih besar ketimbang periode yang sama di tahun 2022 yang sebesar US$ 0,7 miliar.
Baca Juga
Vice Director INDEF Eko Listyanto menyebutkan, memang ada sedikit perbaikan di neraca pembayaran yang tingkat defisitnya telah berkurang dibanding periode kuartal sebelumnya.
“Posisinya memang defisit dan esensinya benar, lampu kuning. Karena biasanya neraca pembayaran posisinya surplus. Namun belakangan mengalami defisit walaupun membaik. Namun tetap ia melemah dibanding periode sebelumnya, khususnya tahun lalu,” kata Eko saat dihubungi.
“NPI kita sangat bertumpu pada harga komoditas, tahun lalu harga komoditas tinggi, dan tahun ini turun, agak dalam. Sehingga dukungan dari transaksi berjalan berkurang. Ekspor impor memang masih surplus, tapi tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya,” tuturnya.
Berikutnya tingkat confidence pada nilai tukar rupiah juga sempat melorot, walaupun belakangan telah menguat kembali. “Karena topangan dari transaksi berjalan yang neracanya bisa dihitung tiap bulan tersebut berkurang. Fudamentalnya di situ, ada harga komoditas yang turun, berpengaruh ke transaksi beraca pembayaran, khususnya di posisi current account yang akhirnya membuat deficit,”imbuhnya.
Baca Juga
Eko sendiri mengaku pesmisitis pemerintah bisa membalikkan neraca pembayaran kembali surplus di tahun depan. Berat buat pemerintah untuk bisa mencetak surplus di tengah turunnya harga komoditas yang sebelumnya menjadi berkah kas negara.
Serangan berikutnya pada kas pemerintah datang dari kenaikan suku bunga The Fed. Kenaikan ini berimbas pada dari sisi neraca transaksi keuangan, terutama pertofolio investasi di pasar modal domestik. Kenaikan bunga The Fed otomatis telah mendorong para investor non residen memindahkan alokasi investasinya keluar dari instrumen berdenominasi rupiah.
“Dugaan saya, sampai pertengahan tahun depan masih berat untuk membalikkan keadaan. Karena suku bunga The Fed masih akan tinggi, walaupun diperkirakan tidak akan naik lagi. Turunnya kapan? Banyak yang memprediksi semester kedua 2024. Itu bergantung pada inflasi di AS. Itu yang membuat tidak dalam waktu dekat neraca pembayaran akan berbalik arah,” tuturnya.
Secara keseluruhan, Pemerintah akan punya kerja yang cukup berat untuk membalikkan situasi ke surplus seperti tahun lalu. “Butuh variabel lain. Suku bunga The Fed yang turun.. Kalau turun maka investasi di AS tak lagi menarik dalam portofolio, dan masuk lagi ke negara-negara berkembang seperti Indonesia. Masuk ke neraca finansial kita,” ujarnya.
Berikutnya, ekspor impor Indonesia secara tidak langsung akan ikut tertopang, dengan aliran dana dalam bentuk investasi yang masuk, yang berikutnya akan menggerakkan neraca berjalan. “Suku bunga The Fed turun, investasi sektor riil meningkat, akan banyak produk negara berkembang seperti komoditas akan kembali bergerak,” kata Eko.

