NPI Membaik, BI Perlu Pertahankan Suku Bunga 6%
JAKARTA, Investortrust.id - Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) masih mengalami defisit, namun dengan tingkat defisit yang relatif membaik, didorong neraca modal finansial dan perdagangan yang terus membaik, serta kenaikan suku bunga BI yang mampu meredam tekanan terhadap rupiah.
"Terkait NPI defisit ini memang sudah relatif membaik karena didorong neraca modal finansial dan perdagangan yang terus membaik," kata Pengamat Ekonomi Makro Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UI, kepada Investortrust.id, Rabu (22/11/2023).
Baca Juga
Berat, Selama Suku Bunga The Fed Tinggi, NPI Berpotensi Didera Defisit
Riefky mengatakan NPI yang membaik salah satunya didorong modal asing yang terus masuk dan didukung berbagai instrumen yang dibuat Bank Indonesia (BI) seperti SVBI dan SUVBI.
Sekadar informasi, SVBI adalah surat berharga dalam valuta asing yang diterbitkan oleh Bank Indonesia sebagai pengakuan utang berjangka waktu pendek dengan menggunakan underlying asset berupa surat berharga dalam valuta asing milik Bank Indonesia. Sementara SUVBI adalah Sukuk Valuta Asing Bank Indonesia (SUVBI) atau sukuk dalam valuta asing yang diterbitkan oleh Bank Indonesia dengan menggunakan underlying asset berupa surat berharga dalam valuta asing berdasarkan prinsip syariah milik Bank Indonesia.
Ia juga mengatakan kenaikan suku bunga acuan Bank Idonesia menjadi 6% yang tidak terduga pada bulan lalu tampaknya juga berhasil meredakan tekanan terhadap rupiah.
Baca Juga
Stafsus Menkeu Sebut Defisit Fiskal dan Rasio Utang RI Baik, Negara Ini Pembandingnya
"Meskipun arus modal keluar diperkirakan masih terjadi karena meningkatnya ketidakpastian di pasar global, melambatnya permintaan global, dan sikap ‘higher for longer’ oleh The Fed untuk jangka waktu yang lebih lama, rupiah kini relatif terkendali dan menunjukkan pola apresiasi selama sebulan terakhir," ujar dia.
Di sisa tahun, Riefky memperkirakan The Fed tidak akan mengubah suku bunga acuannya. Dengan kondisi ini, kata dia, memberi ruang bagi BI untuk tidak mengubah suku bunganya.
"BI perlu mempertahankan suku bunga kebijakannya di level saat ini sebesar 6,00% pada pertemuan bulan November," ujar dia.
Ia juga menyampaikan bahwa tingkat inflasi yang berada di bawah 3% dan surplus neraca perdagangan juga menjadi alasan bagi BI untuk mempertahankan suku bunga pada level saat ini. Dia menyebut pertumbuhan di bawah 5% pada Oktober lalu juga memberikan faktor pendukung lain bagi BI untuk mempertahankan tingkat suku bunga.
Dengan kondisi demikian, Riefky menduga pada kuartal-IV tahun ini arus modal asing yang masuk ke Indonesia akan terasa deras. (CR-7)

