Maret, Dana Asing Masif Keluar, Kurs Rupiah Berlanjut Melemah ke Rp 15.870/USD
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah bergerak melanjutkan pelemahanterhadap dolar Amerika Serikat pada Kamis (28/03/2024). Mata uang Garuda juga melemah terhadap yuan Cina.
Mata uang Garuda tercatat melemah terhadap 0,12% terhadap greenback ke 15.870/USD hingga pukul 11.47 WIB. Berdasarkan data Yahoo Finance, secara year to date, rupiah melemah 0,14%.
Baca Juga
Sementara itu, nilai tukar rupiah tercatat juga melemah terhadap yuan Cina Kamis ini, menjadi Rp 2.196,6 per yuan hingga pukul 12.06 WIB. Sedangkan dalam sepekan ini melemah 0,16%.
Cermati Bank Sentral Global
Saat ini, para pelaku pasar masih mencermati kebijakan bank-bank sentral utama di dunia. "Anggota Dewan Eksekutif Bank Sentral Eropa (ECB) Piero Cipollone memberikan komentar dovish yang mengatakan optimismenya terhadap target inflasi Eropa di level 2% akan tercapai pada pertengahan 2025, dengan mempertimbangkan pertumbuhan upah melambat. Pasar berasumsi ECB akan menurunkan suku bunga 2-3 kali di tahun 2024, seperti yang akan dilakukan Bank Sentral Amerika Serikat," kata analis Cheril Tanuwijaya saat membeberkan hasil analisis Tim Riset InvestasiKu, Jakarta, Kamis (28/3/2024).
Baca Juga
Asing Kembali Net Sell Saham Rp 0,86 Triliun Rabu, Net Sell SBN Rp 5,28 Triliun
Pelaku pasar juga mengkhawatirkan akan berlanjutnya konflik perang dagang antara AS dan Tiongkok pascaberbagai lembaga survei menunjukkan dominansi suara terhadap Capres Donald Trump. Dalam kampanyenya, Trump berencana akan kembali meningkatkan pajak secara signifikan terhadap produk-produk dari Tiongkok.
Di sisi lain, Biro Statistik Nasional (NBS) merilis data laba industri manufaktur Tiongkok menunjukkan kenaikan 10,2% year on year, untuk periode Januari-Februari 2024. Meski data ini menunjukkan perkembangan positif dari perekonomian Tiongkok, pelaku pasar menilai kenaikan signifikan tersebut terjadi karena penurunan kinerja di tahun lalu dan masih melihat tantangan yang besar untuk krisis properti Tiongkok.
Cina merupakan negara asal barang impor dan tujuan ekspor produk Indonesia yang terbesar. Negeri komunis ini juga banyak melakukan investasi di Indonesia, termasuk di sektor pertambangan nikel dan hilirisasi baik untuk bahan baku stainless steel maupun baterai kendaraan listrik.
Maret, Dana Asing Masif Keluar
Pelemahan rupiah ini terjadi seiring masifnya dana asing keluar dari pasar keuangan. Dana asing kembali mengalir keluar dari pasar saham domestik pada Rabu (27/3/2024), dengan mencatatkan net sell Rp 0,86 triliun. Hal ini melanjutkan penjualan bersih Rp 0,41 triliun sehari sebelumnya di Bursa Efek Indonesia.
Namun, sepanjang Maret ini, asing masih mencatatkan pembelian bersih saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) month to date senilai Rp 8,23 triliun. “Sedangkan secara year to date, asing mencatatkan net buy saham Rp 26,67 triliun,” papar BEI dalam keterangan di Jakarta pada Rabu (27/3/2024) sore.
Hal yang perlu dicermati terjadi di pasar Surat Berharga Negara (SBN), dengan data terbaru yang dirilis Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) adalah transaksi pada Senin (25/3/2024). Nonresiden di pasar SBN melakukan penjualan neto Rp 5,28 triliun.
Secara month to date, asing sudah mencatatkan penjualan bersih Rp 24,76 triliun di SBN rupiah yang dapat diperdagangkan hingga Senin lalu. Sedangkan secara year to date, asing mencatatkan penjualan bersih hingga Senin lalu menembus Rp 27,53 triliun.

