Penguatan Indeks Dolar Tekan Rupiah Mendekati Rp 16 Ribu/USD
JAKARTA, investortrust.id - Penguatan indeks dolar yang luar biasa menekan rupiah mendekati Rp 16 Ribu/USD pada Selasa pagi (02/03/2024). Mata uang Garuda tercatat juga terkoreksi terhadap yuan Cina.
Kurs mata uang Garuda terhadap greenback mencapai Rp 15.945 per dolar AS pada Selasa ini pukul 10.39 WIB. Merujuk data Yahoo Finance, nilai tukar rupiah terkoreksi 51 poin atau 0,32% dibanding hari sebelumnya.
Nilai tukar rupiah juga melemah terhadap yuan Cina pada pagi ini, menjadi Rp 2.193,90 per yuan. Kurs rupiah terkoreksi 6 poin atau 0,29% dibanding hari sebelumnya.
US Dollar Index (DXY) atau Indeks Dolar AS tercatat menguat luar biasa, meski Amerika Serikat terus mencetak uang baru. Hal ini lantaran suku bunga acuan Fed funds rate belum diturunkan oleh Bank Sentral AS, The Fed, dan tapering off belum dimulai.
Kondisi tersebut mendorong penguatan dolar AS terhadap semua mata uang dunia, termasuk rupiah. Selain itu, menyebabkan terjadi net foreign capital outflow dari Surat Berharga Negara (SBN) RI pada Maret 2024 dan dari pasar saham Indonesia sepekan terakhir.
“Keperkasaan dolar AS tercermin dari pelemahan rupiah yang bahkan nyaris menyentuh level Rp 16.000 per dolar AS di pasar spot. Sepanjang Maret 2024, capital outflow asing di pasar (keuangan) Indonesia besar,” ujar Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Darmawan Junaidi dalam acara Silaturahmi Ramadan Manajemen Bank Mandiri dengan Pemimpin Redaksi Media Massa Nasional di Jakarta, Senin (1/4/2024) malam.
Berdasarkan data MarketWatch, US Dollar Index menguat ke 100,05 pada Selasa ini. Indeks meningkat 0,02 poin atay 0,02%.
Peningkatan indeks dolar itu diperkirakan mendorong dana asing masih mengalir keluar dari pasar saham domestik pada Senin (1/4/2024), setelah libur panjang, dengan mencatatkan net sell Rp 1,52 triliun. Hal ini melanjutkan penjualan bersih pada Kamis pekan lalu (28/3/2024) sebesar Rp 0,39 triliun di Bursa Efek Indonesia. Sedangkan secara year to date, asing masih mencatatkan net buy saham Rp 24,76 triliun, berdasarkan data BEI.
Baca Juga
Sementara itu, di pasar Surat Berharga Negara (SBN), data terbaru yang dirilis Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) adalah transaksi pada Kamis lalu (28/3/2024). Berbeda dengan di pasar saham, nonresiden di pasar SBN rupiah yang dapat diperdagangkan melakukan pembelian neto Rp 1,96 triliun. Namun, secara year to date, asing masih mencatatkan penjualan bersih hingga Kamis lalu Rp 31,34 triliun.
Tunggu Data AS
Analis Cheril Tanuwijaya mengatakan, para pelaku pasar menunjukkan sikap hati-hati terhadap rilis data ekonomi Amerika Serikat dan berbagai komentar pejabat The Fed pekan ini.
“Semalam, rilis data aktivitas manufaktur Amerika Serikat periode Maret 2024 berada di level 50,3, menunjukkan kondisi ekspansif pertama kali sejak terkontraksi 16 bulan terakhir dan di atas perkiraan pasar pada level 48,5. Kuatnya aktivitas manufaktur AS ini semakin memperkuat keyakinan pasar bahwa The Fed akan sangat waspada dalam menurunkan suku bunga Fed funds rate di bulan Juni 2024," katanya saat membeberkan hasil analisis Tim Riset InvestasiKu, Jakarta, Selasa (2/4/2024).
Selanjutnya, hari ini, pelaku pasar akan menanti rilis data tenaga kerja JOLTS yang diperkirakan sedikit menurun di periode Februari 2024. Pasar juga menanti komentar dari berbagai pejabat The Fed seperti Bowman, Williams, dan Mester.
Darmawan menilai, pemangkasan suku bunga acuan oleh bank sentral juga tergantung kondisi ekonomi makro. Kalau The Fed sebentar lagi akan memangkas suku bunga acuan, jika kondisi ekonomi makro Indonesia kondusif, seharusnya Bank Indonesia juga mulai memangkas suku bunga acuan.
“Kalau kita lihat rilis dari BPS (kemarin), inflasi itu within the range 2,5% plus minus 1%. Ini sesuai targetnya BI,” tuturnya.
Bila berbicara pasokan dolar, kata Darmawan, sebenarnya ada ketersediaannya di pasar. Tapi, secara nasional ada isu bahwa banyak dolar hasil ekspor tidak kembali.
“Padahal, ekspor yang dari (pembiayaan) Mandiri semuanya balik,ya sehingga dipasang bunga khusus. Makanya sekarang dana dolar kalau pakai skema term-nya Devisa Hasil Ekspor (DHE) tinggi sekarang (bunganya), karena BI bayarnya tinggi. Padahal kalau pakai mekanisme pasar, sekarang sebenarnya kan Singapura sudah tidak membayar tinggi,” ungkapnya.
