Literasi Finansial dan Pendalaman Keuangan Harus Berjalan Paralel untuk Jaga Pertumbuhan Konsumsi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Literasi finansial dan pendalaman keuangan (financial deepening) dinilai perlu berjalan beriringan untuk menjaga pertumbuhan konsumsi generasi muda Indonesia tetap sehat. Peningkatan akses keuangan tanpa pemahaman finansial berisiko mendorong konsumsi tanpa kesiapan mengelola keuangan.
Ekonom ASEAN UOB Enrico Tanuwidjaja mengatakan sekitar 138 juta masyarakat yang masuk kelompok kelas menengah aspiratif memiliki potensi besar sebagai mesin konsumsi. "Potensi tersebut perlu diimbangi kemampuan memahami produk keuangan hingga menyiapkan dana untuk kebutuhan jangka panjang," kata Enrico dalam diskusi "Prospek Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Menuju 2030" di Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Enrico Tanuwidjaja, mengatakan literasi finansial di Indonesia masih belum optimal. Masyarakat perlu memahami produk dan layanan keuangan sebelum menggunakannya agar tidak mudah menganggap setiap layanan baru sebagai penipuan atau sebaliknya menggunakan produk tanpa memahami risikonya. "Financial literacy, financial deepening harus jalan secara paralel," ujar Enrico.
Menurut dia, akses masyarakat terhadap produk serta layanan keuangan, harus berkembang bersama literasi finansial. Keduanya menjadi fondasi untuk membangun financial readiness atau kesiapan seseorang dalam mengambil keputusan keuangan. "Kalau kita sudah dapat dua-duanya, financial readiness itu sudah gampang. Karena they know what they buy. They know what they use for," katanya.
Baca Juga
BPS: Konsumsi Rumah Tangga Tetap Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II-2026
Enrico menilai kondisi tersebut penting karena besarnya konsumsi domestik dapat menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi. Masyarakat yang memahami fungsi produk keuangan lebih mampu menentukan penggunaan pendapatan sesuai kebutuhan. "Mesin konsumsi kita itu luar biasa," kata Enrico.
Enrico juga menyoroti kelompok kelas menengah aspiratif yang mencapai sekitar 138 juta orang. Kelompok ini memiliki potensi besar dalam mendorong konsumsi domestik karena pendapatan dan aktivitas ekonominya terus berkembang. Menurut dia, potensi tersebut perlu dibarengi edukasi finansial agar peningkatan daya beli tidak hanya diterjemahkan menjadi konsumsi. Masyarakat juga perlu memahami bagaimana mengelola pendapatan, memilih produk keuangan, serta mempersiapkan kebutuhan masa depan.
Manufacturing Bisa Bangun Confidence
Enrico mengatakan pemerintah memiliki peran dalam membangun keyakinan tersebut melalui kebijakan ekonomi yang menciptakan lebih banyak kesempatan kerja. Salah satu sektor yang dinilainya memiliki efek pengganda tinggi adalah manufaktur. "Fiskal itu harus digerakkan ke arah yang tepat. Yang multiplier-nya tinggi. Manufacturing salah satunya," kata Enrico.
Ia menilai penguatan industri domestik dapat membantu menciptakan lapangan kerja sekaligus memperkuat aktivitas ekonomi dalam negeri. Pengembangan industri juga dinilai dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap barang impor.
Selain sektor manufaktur, Enrico menyoroti pentingnya stabilitas rupiah. Menurut dia, penguatan industri domestik dan pengurangan ketergantungan impor dapat membantu menciptakan struktur ekonomi yang lebih seimbang. "Pay in rupiah, earn in rupiah. No exchange rate please," ujarnya.
Sementara Director and Commercial Solutions Lead Visa Indonesia, Gede Widhi mengatakan digitalisasi pembayaran juga membawa perubahan terhadap proses transaksi antara konsumen dan pelaku usaha. Pembayaran yang berlangsung lebih cepat dapat mengurangi waktu yang sebelumnya digunakan untuk transaksi tunai dan rekonsiliasi.
Menurut dia, transaksi tunai membutuhkan sejumlah proses tambahan dari sisi penjual. Proses tersebut dapat mencakup pencatatan hingga penyelesaian administrasi pembayaran.
"Yang tadinya awalnya harus pembayaran tunai, kemudian ada proses rekonsiliasi di pihak merchant atau penjual, kemudian belum lagi nanti invoice-nya salah dan segala macam, itu kan sudah memakan waktu operasional tersendiri dari sisi penjual," kata Gede.
Gede menilai efisiensi tersebut dapat meningkatkan kapasitas transaksi dalam periode tertentu. Ketika transaksi berlangsung lebih cepat, aktivitas ekonomi yang dapat dilakukan dalam waktu yang sama juga berpotensi meningkat. "Jadi secara langsung itu akan juga mendukung pertumbuhan ekonomi," ujarnya.
Menurut dia, peningkatan transaksi juga diharapkan tidak hanya berasal dari konsumsi, tetapi dapat berkembang ke aktivitas produktif yang mendukung kegiatan usaha.
Gede juga mengatakan pengalaman atau experience menjadi salah satu kata kunci dalam pola belanja konsumen. Menurut Gede, perjalanan atau travel masih menjadi salah satu kategori dominan. Selain itu, pengeluaran untuk dining atau makan di luar rumah dan sektor food and beverage juga menunjukkan aktivitas yang tinggi.
"Travel, F&B atau dining, kemudian wellness," ujar Gede saat menjelaskan tren yang terlihat dalam data Visa.
Baca Juga
BPS: Indeks Literasi dan Inklusi Keuangan Alami Kenaikan pada 2026
Adapun Head of Consumer Banking UOB Indonesia, Herman Soesetyo, mengatakan UOB melihat empat pilar utama dalam pola spending atau pengeluaran nasabah kartu kredit. Tiga kategori yang paling umum adalah shopping, dining, dan travelling. Ketiganya menjadi bagian penting dalam aktivitas penggunaan kartu kredit karena berkaitan langsung dengan kebutuhan dan gaya hidup konsumen.
Selain tiga kategori tersebut, Herman mengatakan lifestyle atau entertainment menjadi pilar lain yang masih memiliki ruang untuk berkembang. Kategori ini mencakup pengeluaran yang berkaitan dengan hiburan dan pengalaman.
Herman mengatakan UOB melihat financial prosperity atau kesejahteraan finansial sebagai sebuah proses. Bank berupaya memahami kebutuhan nasabah berdasarkan tahapan kehidupan dan profil risiko sebelum menawarkan produk.

