CISDI: Saatnya Peralihan Pekerja Sektor IHT ke Industri yang Tidak Berisiko Kesehatan
JAKARTA, investortrust.id – Industri Hasil Tembakau (IHT) memiliki serapan tenaga kerja yang besar. Menurut data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), total tenaga kerja yang diserap di sektor ini sekitar 5,98 juta tenaga kerja.
Menanggapi data tersebut, Peneliti CISDI I Dewa Gede Karma Wisana mengungkapkan, angka tersebut mungkin terlihat besar, namun relatif kecil jika dibandingkan dengan sektor lainnya.
“Tergantung kita melihatnya seperti apa. Angka 5,98 juta itu bisa jadi sangat kecil jika dibandingkan dengan sektor lainnya, dan jangan lupa kita perlu lihat kondisi pekerjanya seperti apa? Beberapa di antara mereka adalah pekerja di sektor pertanian yang pendapatannya relatif rendah. Bahkan, banyak pula pekerja pabrik, yang mana kesejahteraannya patut kita pertanyakan,” ungkap Dewa.
Dia juga menekankan, masih banyak industri besar yang lebih bermanfaat dan bisa menampung peralihan tenaga kerja di IHT agar terhindar dari konsekuensi kesehatan di masa yang akan datang.
Baca Juga
“Disinilah kita perlu mencari industri-industri yang lebih bermanfaat dan lebih besar, misal industri yang padat teknologinya, padat skill atau keterampilannya. Akhirnya, bisa mendorong pekerja-pekerja dari sektor tembakau untuk bergeser ke sektor-sektor yang beri nilai tambah lebih banyak tanpa mengorbankan kesehatan di masa depan,” tegas Dewa.
Selain itu, Peneliti Senior untuk Advokasi Pengendalian Tembakau CISDI, Gea Melinda menyoroti konsekuensi kesehatan yang melekat pada industri tembakau.
Dia menerangkan, meskipun serapan tenaga kerja di IHT cukup signifikan terhadap penekanan angka pengangguran, namun bisa dialihkan untuk membuka lapangan pekerjaan yang baru untuk menghindari dampak buruk dari rokok terhadap konsekuensi kesehatan tersebut.
Baca Juga
CISDI Ungkap Konsumsi Rokok Dongkrak Angka Kemiskinan Nasional
“Secara umum kita garis bawahi serapan tenaga kerja di bidang tembakau ini spesifik signifikan, namun kita bisa berpikir lebih jauh bahwa ada konsekuensi kesehatan disitu. Sedangkan di tenaga kerja ini, sebenarnya kita punya opsi mengalihkan ke bidang lainnya, seperti menumbuhkan lapangan pekerjaan yang baru. Soalnya kalau konsekuensi kesehatan, kita sudah tidak punya opsi, sudah deadlock,” tutup Gea. (CR-3)
