Canggih! TNI AL Bakal Terima Fregat Dengan Kemudi Ala Formula 1
Jakarta, investortrust.id – Awal tahun 2025 jika tidak ada aral melintang, TNI AL akan bertambah ototnya dengan kedatangan 1 unit fregat PPA (Pattugliatore Polivalente d’Altura) Paolo Thaon di Revel class dari Italia yang dibeli pada masa Prabowo Subianto menjadi Menteri Pertahanan yang diberi nama KRI Brawijaya 320. Beberapa bulan kemudian akan disusul KRI dengan kelas yang sama dengan nama KRI Prabu Siliwangi 321 .
Meski designasi awal kapal ini adalah Offshore Patrol Vessel (OPV), namun berbagai teknologi yang dijejalkan menjadikan KRI Brawijaya akan menjadi kapal kapal kombatan permukaan paling besar, paling modern, yang dimiliki oleh Indonesia dengan dimensi panjang 143 meter. Sebuah alutsista yang belum pernah ada dalam daftar arsenal TNI AL sejak purnanya KRI terbesar TNI AL, KRI Irian pada masa konfrontasi dengan Belanda. Perlu diketahui, saat ini fregat terpanjang TNI AL adalah KRI RE Martadinata 331 dengan panjang 105 meter.
KRI Brawijaya memiliki panjang panjang 143 meter, lebar (beam) 16.5 meter, bobot full-load ±6.300 ton, kecepatan maksimal 32 knots, dan mampu menjelajah sejauh ±9.200 km di kecepatan ekonomis 15 knots. Persenjataan dan sensornya pun benar-benar disiapkan untuk peperangan modern.
Inilah dua fregat PPA (Pattugliatore Polivalente d’Altura) Paolo Thaon di Revel class buatan Fincantieri yang menjadi platform KRI Brawijaya 320 dan KRI Prabu Siliwangi 321 yang akan tiba di Tanah Air awal tahun 2025. Foto: Dok. Fincantieri.
Taring Tajam Fregat Baru TNI AL
Tersemat beragam senjata seperti meriam Oto Melara 127/64 Vulcano, Oto Melara 76/62 Strales Sovraponte, lalu Remoted Weapon System (RWS) Oto Melara KBA B06 kal 25mm, dan tersedia 16 cell Vertical Launching System (VLS) untuk misil Aster. Senjata KRI Brawijaya di atas merupakan konfigurasi Ligth plus dan masih bisa dilanjutkan dengan skema Fit For But Not With (FFBNW) untuk mencapai versi Full Combat.
Lantas apa saja senjata yang bisa digotong bila KRI Brawijaya siaga dalam versi Full Combat? Ada rudal anti-kapal sekaligus rudal jelajah jenis Teseo/Otomat MK2/E untuk sasaran permukaan dan darat, torpedo launcher Leonardo B515/3 (2x) Black Arrow 324 mm untuk Anti Kapal Selam, dan decoy system Leonardo ODLS 20 untuk pertahanan. Tentu saja dengan penambahan senjata-senjata tersebut harus disertai pembelian sensor dan radar pemandu.
Canon Oto Melara 127/64 yang menjadi meriam utama KRI Brawijaya dan KRI PRabu Siliwangi dari Fregat kelas Paolo Thaon di Revel. Foto: Dok. Fincantieri.
Canon utama Oto Melara 127/64 membuat KRI Brawijaya menjadi KRI dengan meriam paling besar kalibernya di jajaran TNI AL. Meriam Oto Melara 127/64 memiliki jangkauan mendekati 100 kilometer dengan munisi Vulcano. Dengan konfigurasi full combat, KRI Brawijaya memiliki kemampuan yang sama dengan Frégate Européenne Multi-Mission (FREMM) atau Fregat Multi Peran Eropa yaitu fregat yang dirancang untuk berperang melawan sasaran Udara, permukaan dan kapal selam.
Untuk mendukung operasi anti kapal selam (AKS), tersedia hanggar dan flight deck yang dapat menampung hingga 2 Unit Helikopter NH90 atau 1 Unit Helikopter EH101 di buritan KRI Brawijaya. Pada bagian tengah kapal terdapat crane yang bisa mengangkat dan menurunkan perahu Rigid Hull Inflatable Boat (RHIB) untuk misi patroli dan penyelamatan.
Dua zona modular di bagian tengah dan belakang berfungsi sebagai area logistik, modul operasi, sick bay dan residential atau akomodasi awak kapal. Kapan jenis PPA Paolo Thaon di Revel class ini juga mampu mengolah air laut menjadi air minum dan listrik 2.000kW yang bisa disalurkan ke darat bila dibutuhkan seperti pertolongan pertama pada bencana alam atau keperluan darurat lainnya.
Pusat Kendali Canggih
Ruang kemudi fregat Paolo Thaon di Revel class ini menjadi otak dari keseluruhan kapal. Semua kegiatan dan aktifitas termasuk Combat Management System terpusat di ruangan yang disebut "Naval Cockpit". Di sini semua pusat saraf dan intelijen KRI Brawijaya dikendalikan. Apa itu Naval Cockpit? Naval Cockpit adalah sebutan untuk sebuah sistem yang membuat mengemudikan kapal PPA ini jauh lebih mudah.
Inilah Naval Cockpit yang menjadi ruang kemudi kapal perang KRI Brawijaya 320/Paolo Thaon di Revel class buatan Fincantieri. Foto: Dok. Fincantieri.
Monitor besar dengan resolusi tinggi dan kemudi seperti mobil Formula 1 akan membuat kapal ini lebih mudah bermanuver dan kapten kapal juga akan semakin cepat membuat keputusan. Di belakang pengemudi kapal terdapat seat untuk Commanding Officer dengan tiga monitor pop-up besar yang menyediakan semua informasi termasuk pergerakan kapal, sistem kapal, sasaran tembak atau sistem manajemen pertempuran/Combat Management Sytem (CMS) lansiran Leonardo dari Jenis SADOC Mk4 dengan 28 Multifunction Console (20 MFC u/ Light Version) berlayar lebar dan bisa di assign ke beberapa peran agar mempermudah operatornya dalam penggunaan seluruh sistem yang ada.
Tiga pop-up monitor berukuran besar menjadi pemasok informasi bagi Commanding Officer KRI Brawijaya 320/Paolo Thaon di Revel class buatan Fincantieri. Foto: Dok. Marina Difesa.it.
PPA juga memiliki ruang kontrol IPMS kapal yang terintegrasi dengan kamera di seluruh kapal dan dapat mengatur permesinan kapal. sehingga dapat mempermudah dalam pemantauan seluruh kapal dan pemantauan terhadap penggunaan mesin kapal. Ketiga layar besar tadi bisa diturunkan bila tidak digunakan.
Saraf atau sensor KRI Brawijaya tergolong canggih dengan kemampuan penginderaan permukaan dan bawah laut. Sensor-sensor atau sistem elektronika yang tersemat adalah: Leonardo SADOC Mk.4 CMS, Leonardo SAAM-ESD Anti Air Warfare System, Leonardo SPS-732 LPI Radar, Leonardo static IRST (InfraRed Search and Track), Leonardo next generation IFF (Identification Friend or Foe) sensors with circular antenna, Leonardo Diver Detection Sonar dan Leonardo ATAS (Active Towed Array Sonar), Leonardo Black Snake Anti Torpedo Array, Leonardo Fire Control System, ADT NG NA30S Mk.2, 3D dual-band SATCOM antenna, Leonardo Underwater Telephone, Leonardo Thermograph Unit, dan terakhir tri-band SATCOM antenna. Leonardo adalah perusahaan asal Italia yang yang membangun kemampuan teknologi di bidang dirgantara, pertahanan & keamanan.
Bagaimana dengan kecepatan kapal perang ini? KRI Brawijaya mampu mencapai kecepatan maksimum 31,6 knots (58,5km/jam) pada konfigurasi CODAG (Combined Diesel and Gas) pada masa pertempuran dan 10 knots (19km/jam) dengan mengandalkan mesin diesel elektrik yang ekonomis pada saat patroli. Dengan kecepatan rata-rata 15 knots, KRI Brawijaya dapat menempuh jarak 9.300 km atau hampir dua kali jarak Sabang-Merauke.
KRI Brawijaya ditenagai dengan 1 x General Electric-Avio LM2500+ G4 Gas Turbine, 2x MTU 20V 8000 M91L Diesel Engine, 2x MTU 20V 8000 M91L Diesel Engine, 4x MAN 12V175D-MEM diesel engine generators, dan 4 x Isotta Fraschini 16V170C2ME diesel engine generators.
Seperti dikutip dari situs pertahanan Janes.com, Kementerian Pertahanan Indonesia telah mengamankan fasilitas pinjaman untuk mendanai akuisisi dua kapal patroli lepas pantai multiperan (Pattugliatore Polivalente d'Altura: PPA) dari pembuat kapal Italia Fincantieri. Untuk mempercepat proses akuisisi, dua kapal PPA milik AL Italia yang telah dilantik pada tahun 2022 dan 2023 diadopsi untuk menjadi kapal perang TNI AL dengan nama KRI Brawijaya 320 dan KRI Prabu Siliwangi 321. Fincantieri mengungkapkan pada bulan Maret 2024 bahwa mereka telah menandatangani kontrak senilai EUR1,18 miliar (USD1,29) untuk dua PPA dengan Kementerian Pertahanan Indonesia.
Proses sindikasi pinjaman untuk fasilitas senilai USD1,25 miliar tersebut dipimpin oleh BNP Paribas dengan melibatkan Crédit Agricole dan didukung oleh lembaga keuangan-asuransi Italia SACE, menurut dokumen yang diberikan oleh sumber tersebut. Sumber: Fincantieri, Janes.com, Kemhan RI.
