Indonesia Kembali Incar Fregat Mogami, Bakal Butuh Banyak untuk Kawal KRI Gajahmada?
Jakarta, Investortrust.id – Indonesia dilaporkan kembali mengisyaratkan minat terhadap tawaran fregat kelas Mogami (FFM) yang telah ditingkatkan dan diproduksi di Jepang dan di Indonesia. Minat Indonesia tersebut muncul setelah tersiar kabar Menteri Pertahanan (Menhan) Jepang Shinjiro Koizumi mempertimbangkan untuk mengunjungi Indonesia. Media Jepang, Kyodo, melaporkan bahwa Koizumi bakal ke Indonesia, kemungkinan pada 10 September 2026, untuk melakukan pembicaraan lebih lanjut yang bertujuan memperkuat kerja sama keamanan, kata sumber tersebut, di tengah meningkatnya aktivitas militer China di kawasan Indo-Pasifik.
Jika terwujud, maka hal itu menjadi kunjungan ketiga Koizumi ke Indonesia setelah kunjungan pada Mei dan Juni 2026. Kunjungan terakhir baginya adalah bertemu Presiden RI dan Menhan RI di Kertanegara, Jakarta Selatan. Dalam kunjungan kali ini, Koizumi bakal bertemu Menteri Sjafrie Sjamsoeddin untuk mempercepat diskusi tentang kemungkinan ekspor kapal perusak kelas Asagiri ke Indonesia. Pemerintah Jepang juga menjajaki kemungkinan kunjungan kehormatan kepada Presiden RI Prabowo Subianto selama kunjungan tersebut. Koizumi mungkin juga akan bertemu dengan personel Pasukan Bela Diri Jepang (JSDF) yang dikirim ke Indonesia sebagai bagian dari misi bantuan darurat internasional untuk membantu negara tersebut memerangi kebakaran hutan. Pasukan JSDF dikirim ke Kalimantan untuk membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Diketahui saat ini TNI AL bersiap menerima kedatangan kapal induk eks AL Italia, ITS Giuseppe Garibaldi 551, yang akan berganti nama menjadi KRI Gajahmada bila telah dioperasikan oleh TNI AL. Satu armada kapal induk terdiri dari beberapa kapal pengawal berkemampuan tinggi untuk tiga matra: permukaan, udara, dan bawah air. Meski peran KRI Gajahmada tidak diplot untuk operasi tempur ofensif konvensional, tetap saja aset strategis sekelas kapal induk dengan muatan berbagai alutsista canggih dan mahal memerlukan pengawalan ketat.
KRI Gajah Mada membutuhkan pengawalan kapal berkemampuan radar pertahanan udara mumpuni. Di masa depan, opsi ini bisa diisi oleh fregat kelas Mogami atau kapal perusak kelas Asagiri yang sedang dinegosiasikan dengan Jepang jika berhasil diakuisisi. Sementara untuk kemampuan bawah air, TNI AL mengandalkan fregat Kelas Martadinata (SIGMA 10514) atau fregat Kelas Ahmad Yani yang memiliki kemampuan sonar dan deteksi kapal selam yang baik.
Fregat Mogami yang ditawarkan untuk AL Australia akan membawa dua kali lebih banyak sel daripada sistem VLS Mk 41 dan telah menjadi dasar program fregat baru negeri Kanguru yang terdiri dari 11 kapal. Namun, khusus untuk TNI AL, pihak Kemhan RI belum memulai negosiasi kontrak karena pemerintah Indonesia diharapkan untuk menyelesaikan diskusi paralelnya mengenai hibah kapal perusak kelas Asagiri milik Angkatan Laut Jepang yang lebih dahulu ditawarkan oleh pemerintah Jepang.
Pada bulan Juni 2026, Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin dan Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi bertemu di Tokyo. Salah satu poin dalam pertemuan itu adalah kerja sama untuk memperkuat keamanan maritim serta mempercepat modernisasi armada TNI AL. Jepang berencana menghibahkan beberapa unit dari 8 kapal perusak kelas Asagiri yang akan segera dipensiunkan oleh AL Jepang.
Pembahasan antara Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin dan Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi baru berada pada tahap awal negosiasi strategis dan teknis. Kelompok kerja dari kedua negara masih menyusun peta jalan (roadmap) mengenai pelatihan kru, manajemen perawatan, serta skema pengadaannya. Langkah ini dimungkinkan setelah pemerintah Jepang melonggarkan regulasi terkait ekspor dan transfer teknologi militer ke luar negeri, termasuk rencana menjual 8 unit fregat canggih kelas Mogami yang, bila terealisasi, 4 unit di antaranya akan dibangun di fasilitas PT PAL Surabaya.
Empat Kapal Dibangun di Indonesia
Usulan Mogami bermula pada tahun 2021, ketika Jepang berencana untuk memasok empat kapal dari galangan kapal Jepang dan membangun empat kapal lagi oleh PT PAL Indonesia di Surabaya dalam paket senilai sekitar 300 miliar yen. Pembiayaan merupakan salah satu kendala karena peraturan Jakarta mensyaratkan pendanaan di muka sebesar 10-20 persen dari 300 miliar yen (sekitar 30-60 miliar yen) sebelum sisa biaya akuisisi dapat dialokasikan ke anggaran selanjutnya. Namun, usulan tersebut kehilangan momentum pada tahun 2021. Tetapi Jepang tidak menyerah dan memulai lagi diskusi ini dengan kunjungan kapal perang JS Kumano ke Indonesia pada tahun 2023, dan kunjungan JS Yahagi pada tahun 2025. Disusul kemudian dengan kunjungan terpisah pada tahun 2025 oleh Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dan Kepala Staf Angkatan Laut Indonesia, Laksamana Muhammad Ali, di atas kapal Kumano di Yokosuka, Jepang.
Kapal kelas Mogami versi awal memiliki panjang 133 m dan lebar 16,3 m, dengan bobot standar 3.900 ton dan sekitar 5.500 ton pada muatan penuh. Sedangkan fregat Mogami versi FFM meningkatkan panjang keseluruhan menjadi 142 m, lebar menjadi sekitar 17 m, bobot standar menjadi 4.880 ton, dan bobot muatan penuh menjadi sekitar 6.200 ton. Lambung yang diperbesar menciptakan ruang untuk baterai rudal yang lebih besar dan kapasitas listrik yang lebih besar, serta peralatan komando dan sensor tambahan. Perubahan tempur terbesar adalah sistem peluncuran vertikal (VLS Mk 41), di mana Mogami dasar membawa 16 sel, sedangkan FFM baru membawa 32 sel.
Mogami/FFM versi baru ditenagai oleh sistem propulsi CODAG, yang menggabungkan satu turbin gas Rolls-Royce MT30 dengan dua mesin diesel MAN 12V28/33D STC, menghasilkan sekitar 70.000 hp dan mencapai kecepatan maksimum lebih dari 30 knot. Bila kesepakatan ini terjadi, maka untuk pertama kali dalam sejarah TNI AL akan mengoperasikan kapal kombatan utama (pemukul garis depan) buatan Jepang. TNI AL telah menerima kapal-kapal buatan Jepang meski hanya berupa kapal pendukung seperti KRI Multatuli untuk dukungan kapal selam, KRI Tanjung Kambani untuk transportasi pasukan, kapal patroli cepat (FPB) yang diterima pada tahun 2025 dan kapal Riset Hidro-Oseanografi, KRI Jalanidhi yang telah pensiun.
