Dapat Anggaran Rp 197,8 triliun, Kemenkes Beberkan Rencana Penggunaannya
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan anggaran dana untuk kementerian kesehatan tahun 2025 mencapai Rp 197,8 triliun atau 5,5% dari total belanja negara.
“Untuk kementerian kesehatan sendiri Rp 90 triliun dan sisanya dialokasikan untuk pemerintah daerah dalam bentuk dana alokasi khusus dalam bentuk fisik maupun non fisik,” ujar Menkes Budi dalam Konferensi Pers Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara serta Nota Keuangan TA 2025 di Jakarta, Jumat (16/8/2024).
Dia membeberkan, terdapat tiga keinginan Presiden terpilih tahun ini untuk sektor Kesehatan. Pertama, menyediakan rumah sakit yang baik di seluruh kabupaten dan kota.
Baca Juga
“Jadi kita ada 514 kabupaten dan kota itu 70 diantaranya masih di tipe D dan akan dinaikkan menjadi tipe C supaya bisa diisi alat alat yang lebih canggih, dokter lebih canggih, supaya bisa melayani penyakit seperti penyakit stroke, jantung, dan cancer, dan akan dilakukan secara bertahap,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia memaparkan, sebanyak 20 rumah sakit bisa dinaikkan kelasnya tahun depan. Sisanya akan dilakukan 5 tahun kedepan. Kedua, presiden terpilih ingin menurunkan tingkat penyakit TBC. “Selain melakukan screening yang baik dari TBC, kita melakukan perubahan rezim obat yang baru supaya bisa lebih singkat, udah mulai jalan tahun ini, dan kita akan clinical trial vaksin TBC,” terangnya.
Dia mengatakan bahwa semua penyakit akan dapat diatasi lebih ampuh menggunakan vaksin. “Disini vaksinnya kuno sekali, semoga tahun ini kita akan mulai, Indonesia jadi level 3 untuk clinical trial vaksin TBC diharapkan 2028 bisa dilaunch bisa secara drastis menurunkan prevelensi TBC,” terangnya.
Baca Juga
Menkes Ungkap Harga Obat di Indonesia 5 Kali Lebih Mahal dari Malaysia
Ketiga, presiden terpilih ingin fokus preventif dalam hal screening untuk menjaga masyarakat untuk tetap sehat bukan hanya mengobati orang sakit. Ini adalah strategi kesehatan yang lebih murah dan juga menjaga kualitas hidup tetap baik.
“Kita sudah mengalokasikan cukup banyak, screening dilakukan untuk semua siklus hidup, ada sekarang screening jiwa untuk bullying, screening obesitas untuk anak anak banyak gula sejak kecil sehingga diabetes meningkat, untuk dewasa kita lakukan screening cardiovaskular paling banyak kematian stroke dan jantung, lalu cancer. Dan lansia discreening dimensia alzheimer dapat ketahuan, diharapkan masyarakat bisa dideteksi dini supaya perawatan lebih rendah dan kualitas hidup lebih baik,” pungkasnya.

