IHSG Terpangkas 6% dalam Sebulan, Faktor Ini Ditengarai Jadi Pemicu
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali anjlok pada penutupan sesi I, Jumat (15/11/2024), sebanyak 1,08% ke level 7.136. Bahkan, penurunan indeks telah lebih dari 6% dalam sebulan.
Pemodal asing juga mencatatkan penjualan bersih (net sell) saham senilai Rp 13,72 triliun. Net sell terbanyak melanda saham BBRI Rp 5,6 triliun, BBCA Rp 2,3 triliun, dan BMRI Rp 2,2 triliun.
Baca Juga
IHSG Sesi I Terjun ke Bawah Level 7.200, tapi Saham JSPT dan DAAZ Tetap ARA
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji Gusta mengatakan, penurunan indeks dipicu atas pengalihan dana dari pasar emerging market, termasuk Indonesia, ke Amerika Serikat (AS). Aksi eksodus ini dipengaruhi ekspektasi investor terhadap ekonomi AS akan lebih kuat di bawah presiden Donald Trump.
Selain factor tersebut, dia mengatakan, investor menyoroti pertumbuhan kinerja ekspor dan impor yang terus melambat. Meski masih mencatatkan surplus neraca perdagangan pada Oktober 2024, angka pertumbuhan makin mengecil, dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. “Data surplus yang terus mengecil juga menjadi penekan IHSG hari ini,” ujarnya kepada investortrust.id di Jakarta, hari ini.
Nafan memperhatikan bahwa penurunan jumlah impor Indonesia disebabkan tren penurunan permintaan (demand) akibat penurunan daya beli masyarakat. Sedangkan penurunan ekspor dipengaruhi tren pelemahan harga komoditas dunia, termasuk batu bara. “Kalau dari global, kita amati bahwa market sebenarnya beraksi ketika melihat data makroekonomi AS yang menunjukkan tanda-tanda perbaikan,” ucap Nafan.
Baca Juga
Utang Luar Negeri Indonesia Triwulan III US$ 427,8 Miliar, Naik 8,3%
Pelemahan indeks dalam sebulan terakhir, terang dia, juga dipengaruh kemungkinan perlambatan kebijakan pemangkasan suku bunga The Fed, seiring dengan kondisi ekonomi AS yang terus membaik. The Fed bakal mengedepankan prinsip kehati-hatian (prudent) dalam menjalankan kebijakan pelonggaran moneternya ke depan, mulai tahun 2025.
“Ini yang membuat kinerja pergerakan market relatively mengalami koreksi karena outflow terjadi. Sementara data Amerika sekarang bagus, kita melihat efeknya terhadap kenaikan USD yang membuat strengthening of the USD currency sehingga ada inflow pada market di United States,” papar dia.
Aksi jual saham, terang dia, tidak hanya melanda Indonesia, sejumlah negara di kawasan Asia ikut terseret.
Baca Juga
Trump Pro Kripto, China Berpotensi Aktifkan Lagi Pasar Aset Digital
Sementara itu, Technical Analyst MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyampaikan, secara teknikal, pergerakan IHSG memang masih dalam tren penurunan (downtrend). Bahkan, saat ini IHSG diperkirakan sedang berada pada skenario alternatifnya, karena menembus level support terdekatnya, yakni 7.182. “Maka IHSG masih rawan melanjutkan koreksinya,” tegas analis yang akrab disapa Didit tersebut.
Dia juga menekankan bahwa pelemahan IHSG sejalan dengan sinyal The Fed untuk menahan pemangkasan suku bunga setelah inflasi negara tersebut naik lagi. Hal ini dipengaruhi pertumbuhan ekonomi AS yang kuat, sehingga membuat indeks dollar (DXY) dan USD menguat terhadap Rupiah.
“Secara historikal selama 10 tahun, memang return IHSG pada November tercatat positif. Namun perlu diperhatikan bahwa dari 10 tahun tersebut, 6 tahun di antaranya return IHSG pada November tercatat negatif,” jelas Didit.
Grafik IHSG

