Trimegah Sebut Faktor Ini sebagai Pemicu Utama Lompatan IHSG 10,66% dalam Sebulan Terakhir
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Penopang utama penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebanyak 10,66% menjadi 7.624,25 dalam sebulan terakhir datang dari perjanjian dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat. Hal ini tercermin dari lonjakan IHSG mencapai 3,68% dalam sepekan sejak kesepakatan diumumkan. Penguatan tersebut merupakan yang tertinggi di antara bursa-bursa utama Asia.
Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menyebutkan bahwa sentimen pasar menjadi indikator paling cepat dalam menilai dampak dari suatu kesepakatan ekonomi. “Hasil kesepakatan dagang dari 32% menjadi 19% sudah membuat kita terhindar dari kemungkinan terburuk dari ketidakpastian berkepanjangan,” ujar Fakhrul dalam riset Selasa, (29/7/2025).
Baca Juga
IHSG Sesi I Ditutup Berbalik Naik Tipis, Tiga Saham ARA Dipimpin SWID
Meski muncul sejumlah pertanyaan terkait komitmen pembelian barang dari Amerika Serikat, Fakhrul menilai, dampaknya terhadap neraca dagang Indonesia bersifat netral. Menurutnya, pembelian pesawat dan produk pertanian dari AS pada dasarnya hanya menggantikan posisi vendor dari negara lain. “Kita harus paham, ini kondisinya berat. Re-wiring impor kita dari negara lain ke Amerika Serikat harus dilakukan,” jelas dia.
Lebih lanjut, Fakhrul menekankan, pentingnya menjaga prospek perdagangan dengan mitra lainnya, khususnya Uni Eropa melalui perjanjian EU-CEPA. Menurutnya, diversifikasi pasar sangat krusial agar ekspor Indonesia tetap terjaga.
Baca Juga
CEO Danantara Ungkap Alasan Suntik Dana ke Garuda dan Rencana Beli 50 Pesawat Boeing
“Negara tetap harus mengutamakan kepentingan Rakyat Indonesia, dan menurutnya, karena data adalah masa depan perekonomian dunia, kita harus tetap mengutamakan ketahanan nasional dan terus berusaha mencari implementasi yang win-win dengan mitra dagang kita,” bebernya.
Tak hanya itu, Fakhrul menyebut tiga langkah strategis yang perlu diperhatikan pemerintah untuk memperkuat ekonomi nasional pasca kesepakatan dagang. “Setelah kesepakatan dagang, hal yang harus diperhatikan selanjutnya untuk perbaikan ekonomi adalah tiga hal, yakni percepatan belanja pemerintah dan insentif, lalu penerbitan DimSum Bond dan Kangaroo Bond Pemerintah dalam mata uang RMB dan AUD untuk membantu likuiditas nasional dan keberlanjutan dari pemotongan suku bunga Bank Indonesia,” pungkasnya.

