Sejumlah Faktor Ini Ditengarai Pemicu Sepinya Transaksi IDX Carbon hingga Kini
JAKARTA, investortrust.id - Pengamat Sosial Lingkungan dan Ekonomi Hanafi Sofyan Guciano mengungkapkan pemicu utama sepinya transaksi bursa karbon atau IDX Carbon, karena produk ini dipromosikan pemerintah bukan datang dari pelaku pasar.
Sebagaimana diketahui sebelumnya, Presiden Republik Indonesia ke-7 Joko Widodo telah resmi meluncurkan bursa karbon di main hall Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 26 September 2023.
Baca Juga
BEI Bantah Transaksi IDX Carbon Rendah, Justru Terbesar di Asia
"Pasar itu lima rumusnya, ada pembeli, ada penjual, ada barang, ada harga, dan kontrak. Nah kelima-limanya belum jelas. Misalnya pembeli, pembeli itu tidak diwajibkan, karena tidak ada reward and punishment," kata Hanafi dalam FGD ESG dengan tema “Urgensi Implementasi ESG di Kalangan Korporasi di Indonesia” di Kantor Investortrust, Jakarta, Rabu (20/11/2024).
Alasan berikutnya, kata Hanafi, barang atau produknya tidak jelas dimiliki oleh siapa. "Katanya punya provinsi Kalimantan Timur, tetapi masyarakatnya tidak kebagian, Pemerintah pusatnya tidak kebagian. Akhirnya pembeli mengatakan nanti leakage. Kamu menjual sesuatu yang tidak ada additionality, maka berbahaya buat saya, reputasi saya," tegas Hanafi.
Alasan lainnya terkait sertifikasi barang, Hanafi menekankan, jika sertifikasi tersebut berasal dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) atau sertifikasi lokal, pelaku pasar tidak akan mempercayainya, sehingga minimnya peluang investor asing.
"Lalu terkait harga, kalau carbon tax kita cuma berapa dolar, orang akan ketawa. Investor luar negeri kan inginnya US$ 20 atau US$ 30, karena memang disertifikasi bagus. Tapi kalau disertifikasinya lokal, pasarnya lokal, bahkan tidak ada reward and punishment," terang dia.
Baca Juga
Menkeu Siapkan Aturan Teknis Perdagangan Karbon Lintas Batas
Terakhir kontrak transaksinya masih minim, Hanafi mengutarakan, seharusnya menjelang akhir tahun transaksi tersebut lebih meningkat, namun hal ini tidak nampak pada bursa karbon Indonesia. "Biasanya tuh kalau menjelang akhir tahun, transaksinya banyak, tapi ini tidak kelihatan di bursa karbon kita," ucap Hanafi.
Sebagai informasi, berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sejak diluncurukan 2023 lalu hingga 15 November 2024 tercatat 92 pengguna jasa yang mendapatkan izin dengan total volume transaksi sebesar 904.901 CO2e dengan akumulasi nilai sebesar Rp 50,457 miliar.

