Keputusan Indonesia Masuk BRICS Ditengarai Jadi Salah Satu Biang Kerok Kejatuhan IHSG Sepekan Terakhir, Kok Bisa?
JAKARTA, investortrust.id – Salah satu penekan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam lima hari terakhir lebih dari 7% ke level 6.531,99 hingga penutupan perdagangan saham Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (11/2/2025), adalah sentimen bergabungnya Indonesia pada organisasi kerja sama ekonomi antaranggota negara berkembang, yakni Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan (BRICS).
Salah satu tujuan berdirinya organisasi tersebut adalah mengurangi ketergantungan pada mata uang Dolar Amerika Serikat (AS). “Ketika Indonesia memutuskan untuk masuk ke BRICS, dunia atau beberapa fund asing melihat Indonesia tidak terlalu independen dalam kasus ini,” jelas Pengamat Pasar Modal Hans Kwee pada Focus Group Discussion (FGD) Best Stock Awards 2025 bersama Investortrust.id, Selasa (11/2/2025).
Baca Juga
Ancaman Trump Tarif 100% ke BRICS, Bagaimana Dampak ke Indonesia?
Sementara menurut Hans, Trump sangat memperhatikan negara-negara yang mau mengganti pasokan Dolar AS dengan mata uang lain. Sebab, Amerika merupakan eksportir dolar terbesar dunia.
“Ketika Dolar diganti, itu akan jadi masalah bagi AS. Makanya Trump mengancam akan mengenakan tarif pada negara-negara yang berusaha bergabung dengan BRICS. Jadi itu salah satu yang menyebabkan dana asing bergerak keluar dari Indonesia,” tegas dia.
Masih dari sentimen global, keputusan perang dagang yang diambil Trump juga dikhawatirkan pelaku pasar, akan mengganggu perdagangan global dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Dampak akhir dari kebijakan itu, bisa memengaruhi Indonesia sebagai negara eksportir komoditas, dengan China sebagai salah satu pasar tujuan terbesarnya.
Hans menilai, kebijakan yang dipakai Trump dan data indikator pertumbuhan ekonomi AS menunjukkan bahwa ekonomi negara adidaya tersebut tetap kuat. Angka pengangguran AS turun 5%, dengan inflasi yang diekspektasikan berada pada tingkat 4,3%. “Ini membuat keraguan bahwa Fed mungkin tidak akan cepat melakukan pemotongan bunga,” simpulnya.
Baca Juga
Pemerintah India Beri Kisi-Kisi Raih Keuntungan Bergabung dengan BRICS
Dari dalam negeri, Hans memandang bahwa pelaku pasar kurang menangkap ide Presiden Prabowo pada beberapa program pemerintah. Menurutnya, pelaku pasar menganggap bahwa pemotongan anggaran kementerian dan lembaga dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi, karena menghilangkan sebagian bantuan konsumsi dari pemerintah.
Di sisi lain, 30% dari pemotongan anggaran sekitar Rp 300 triliun tersebut,rencananya dialokasikan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Keputusan ini dikhawatirkan memperlebar defisit anggaran dan menambah penerbitan surat utang baru yang mendorong imbal hasil (yield) lebih tinggi. “Jadi agak bercampur ada faktor global dan dalam negeri,” pungkasnya.

