Stimulus China Tekan Laju IHSG BEI, tapi 10 Saham Ini Tetap Menarik
JAKARTA, investortrust.id – Kebijakan China menerbitkan stimulus untuk menggairahkan kembali pasar modal, peningkatan sektor property, dan pertumbuhan ekonomi justru berakibat negatif terhadap hampir seluruh pasar Asia, termasuk Indonesia. Meski demikian stimulus tersebut dinilai tak menghentikan laju indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam 12 bulan ke depan.
Kebijakan baru tersebut membuat mayoritas pasar saham Asia anjlok. Di sisi lain, indeks bursa saham Shanhai dan Hang Seng justru melesat masing-masing8,06% dan 0,33%. Bahkan, kebijakan baru ini juga membuat arus dana ke luar dari sejumlah pasar saham Asia, termasuk Indonesia.
Analis Sucor Sekuritas Arief Putra menyebutkan bahwa kebijakan China tersebut membuat arus modal asing masuk ke pasar modal Indonesia tiba-tiba terhenti dan berbalik ke luar (net sell). Hal ini terlihat dari rata-rata net sell harian saham dalam tiga hari terakhir rata-rata berkisar Rp 1,89 triliun.
Baca Juga
Stimulus Tiongkok Jadi Sentimen Positif Penguatan Pasar Eropa
“Pemodal asing, sebelum pengumuman stimulus di China, menempatkan pasar saham Indonesia yang paling diuntungkan atas kecenderung pemangkasa suku bunga global. Hal ini tercermin dari net buy harian saham berkisar Rp 900 miliar hingga Rp 1 triliun sejak awal Agustus hingga akhir September 2024,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, hari ini.
Meski kebijakan China tersebut berhasil menarik aliran dana asing masuk ke negara tersebut, Sucor Sekuritas menyebutkan, pasar modal Indonesia tetap menarik didukung sejumlah factor. Di antaranya, pelantikan presiden dan wakil presiden baru, berlanjutnya program penguatan daya beli Masyarakat menengah dan bawah, dan masih tingginya gairah pasar saham saat ini.
Sumber: Sucor Sekuritas
“Pasar saham Indonesia juga didukung rencana pemerintah baru untuk menciptakan pasar modal sebagai sumber pertumbuhan baru ekonomi,” terangnya. Hal ini mendorong Sucor Sekuritas untuk tetap mempertahankan proyeksi penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ke level 8.418 untuk 12 bulan ke depan.
Sedangkan 10 saham pilihan terdiri atas tiga saham pilihan teratas BBRI, BMRI, dan HMSP. Penurunan harga ketiga saham tersebut menjadi peluang tepat untuk mulai mengakumulasi. Sisanya tujuh saham pilihan lainnya adalah BBCA, MYOR, CMYR, JSMR, AKRA, EXCL, dan CTRA.
Stimulus China
China baru saja meluncurkan sejumlah stimulus untuk memulihkan kepercayaan pasar saham, penguatan kembali sektor property, dan mendukung pertumbuhan perekonomian. Usai stimulus ini diluncurkan,indeks saham Shanghai melambung sebanyak 8,06% dan Hang Seng melesat 2,43% pada penutupan perdagangan kemarin.
Gubernur People's Bank of China (PBoC) meluncurkan sejumlah stimulus, seperti pemangkasan reserve requirement ratio atau giri wajib minimum bank dengan target 50 basis poin dalam waktu dekat dan mengeluarkan pinjaman senilai 1 triliun yuan atau sekitar US$ 142,21 miliar ke pasar.
Baca Juga
Selain itu, bank sentral China akan memangkas suku bunga reverse repo tujuh hari sebesar 0,2 poin menjadi 1,5%. Langkah ini bertujuan untuk membuat suku bunga fasilitas pinjaman jangka menengah (MLF) dan suku bunga dasar pinjaman (LPR) lebih rendah.Bank sentral juga mendorong bank-bank komersial untuk menurunkan suku bunga hipotek (KPR) yang sudah dengan tujuan mendongkrak kembali sektor properti. Begitu juga dengan uang muka pembelian rumah diturunkan.
Sedangkan dari sisi pasar saham, pemerintah menerbitkan panduan untuk mendorong dana jangka menengah dan panjang memasuki pasar saham. Pemerintah juga mendorong merger, akuisisi, dan reorganisasi. Bank sentral China juga memperkenalkan dua alat baru untuk meningkatkan transaksi di pasar modal, seperti penyediaan dana hingga 300 miliar yuan dalam bentuk pinjaman murah PBoC kepada bank-bank komersial untuk mendanai pembelian dan buyback saham di pasar modal.
Grafik IHSG

