Saham Dharma (DRMA) Pilihan Teratas, Berikut Pertimbangan Analis
JAKARTA, investortust.id – Samuel Sekuritas Indonesia tetap mempertahankan rekomendasi saham PT Astra Interantional Tbk (ASII) dan PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA). Target tersebut mempertimbangkan realisasi penjualan otomotif nasional hingga Oktober 2023.
Berdasarkan data, penjualan mobil turun sebanyak 1,8% menjadi 836.048 unit sampai Oktober 2023. Meski demikian Samuel Sekuritas Indonesia tetap optimistis terhadap target penjualan sebanyak 1 juta unit mobil tahun ini. Sedangkan penjualan sepeda motor melesat sebanyak 26,2% menjadi 5,2 juta unit hingga bulan yang sama.
Baca Juga
Laba Turun 54%, Ini Penjelasan Dirut Indo Tambangraya (ITMG)
Tak hanya itu, Samuel Sekuritas menyebutkan, penjualan BEV tumbuh signifikan menjadi 12.286 unit sampai Oktober 2023, dibandingkan periode sama tahun lalu sebanyak 5.958 unit. Penjualan kendaraan jenis HEV juga melesat menjadi 40.555 unit sampao Oktober 2023, dibandingkan periode sama tahun lalu 1.982 unit.
“Seiring dengan penerimaan pasar yang baik terhadap produk hybrid, kami memperkirakan penjualan mobil HEV bisa mencapai 5% terhadap total penjualan mobil nasional tahun ini,” tulis analis Samuel Sekuritas Ashalia FItri dan Pebe Peresia dalam riset yang diterbitkan kemarin.
Lalu, bagaimana dampaknya terhadap saham emiten properti? Ashali dan Pebe mengatakan, gambaran pola penjualan otomotif demikian akan mengungtungkan saham ASII dan DRMA. Saham ASII direkomendasikan beli dengan target harga Rp 7.600. Sedangkan saham DRMA menjadi pilihan teratas dengan target harga Rp 1.900 dengan rekomendasi beli.
Baca Juga
Serap Capex Rp 35 Triliun, Astra International (ASII) Ungkap Penggunaannya
Katalis positif saham DRMA datang dari mulai terkonsolidasi hasil akuisisi PT Trimitra Chitrahasta dengan target kontribusi senilai Rp 700 miliar, berjalannya pabrik mobil baru untuk memproduksi komponen suspension member untuk Toyota New Yaris Cross, dan mulai masuk ke industri EV melalui komponen (battery pack) dan charging station.
“Rekomendasi tersebut mempertimbangkan kenaikan kinerja DRMA, yaitu pertumbuhan pendapatan menjadi Rp 4,2 triliundan laba bersih senilai Rp 519 miliar. Angka tersebut sudah memperhitungkan one-off gain dari negative goodwill hasil akuisisi Trimitra Chitrahasta,”terangnya.

