Bansos Mengucur, Potensi Cuan Saham Mayora (MYOR) Makin Gurih
JAKARTA, investortrsut.id – Kucuran bantuan sosial tunai pemerintah untuk mendorong daya beli masyarakat, diyakini menjadi angin segar bagi emiten berbasis consumers goods.
Diantara jajaran emiten consumer, PT Mayora Indah Tbk (MYOR) diperkirakan bakal paling menikmati sentimen peningkatan daya beli masyarakat. Untuk itu, saham MYOR menjadi rekomendasi beli teratas analis.
Analis PT Panin Sekuritas Andhika Audrey termasuk yang menyematkan rekomendasi buy untuk saham MYOR. Target price yang dipasang Audrey cukup tinggi, Rp 3.300 per saham. Naik dari target sebelumnya Rp 3.200.
Artinya ada potential upside sekitar 36% atas saham MYOR dari posisi harga saham ini pada level Rp 2.420.
Baca Juga
Panin Sekuritas Rekomendasikan Saham ADHI, AMRT, BBTN dan HRTA
Target price terbaru MYOR mengimplikasikan price earning ratio 24,6 kali di tahun 2024, setara dengan 0,25 standar deviasi rata-rata PE 5 tahun terakhir.
Diakui Audrey, pemilihan umum merupakan momen bagi pemerintah untuk memacu subsidi. Khusus subsidi tunai, pemerintah menggelontorkan BLT Rp 200 ribu per bulan untuk 18 juta KPM serta Program Keluarga Harapan (PKH) untuk 10 juta KPM.
Kemudian bantuan sosial penyaluran 10 kg/bulan beras kepada 21,3 juta KPM. Penyaluran ini memasuki tahap pertama di tahun 2024 yakni pada periode Januari, Februari dan Maret. Sementara itu realisasi anggaran Perlinsos 2023 mencapai Rp 443,4 triliun dengan target anggaran perlinsos di tahun 2024 sebesar Rp 496,8 triliun atau naik 12% YoY.
Baca Juga
Di luar stimulus subsidi, MYOR gencar melakukan ekspansi dengan meningkatkan kapasitas produksi sebesar 10% dari total kapasitas. Perseroan juga diuntungkan dengan normalisasi harga gula dan bahan baku lainnya yang kemudian memangkas ongkos produksi, berujung pada kenaikan margin laba Perseroan.
Perbaikan marjin kotor terjadi terlihat pada periode September 2023 di level 26,7%, bandingkan dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 21,4%. Sedangkan dari sisi marjin operasi tercatat naik 12,2% dari sebelumnya 6,6%) yang disebabkan oleh turunnya freight cost, karena normalisasi ongkos kirim seiring langkanya kontainer pada masa pandemi.
‘’Porsi freight terhadap sales pre covid sebesar 1-2% namun pada saat Covid-19 dapat mencapai 2-3% dari total penjualan,’’ ulas Audrey dikutip dari riset yang diterbitkan, Senin (15/01/2024).
Baca Juga
Sektor Konsumer Menjelang 2024, Pilihan Teratas Saham ICBP dan MYOR
Karena itu, meski mencatatkan penurunan volume penjualan, namun kinerja Perseroan masih dapat ditopang oleh peningkatan marjin yang meningkat.
MYOR tercatat membukukan laba bersih kumulatif per September 2023 sebesar Rp 2,02 triliun, tumbuh 86,4% YoY. Kenaikan laba bersih ini sejalan dengan hasil penjualan Perseroan sebesar Rp 22,8 triliun, tumbuh 3% YoY serta peningkatan marjin dari normalisasi harga bahan baku yang telah mengalami normalisasi.
Sedangkan dari sisi volume penjualan tercatat penurunan 4,8% yoy menjadi 596 ribu ton. “Kami mengestimasi penurunan volume masih akan terjadi hingga akhir 2023 dikarenakan stimulus dari pemerintah yakni penyaluran berbagai bansos masih belum merata hingga 2023, membuat daya beli masyarakat akar rumput (grassroot) masih relatif suffer,’’ kata Audrey.
Proyeksi 2024
Seiring potensi pelemahan daya beli yang berlangsung pada 2023 lalu, Manajemen MYOR merevisi turun pertumbuhan top line menjadi 3%-5% untuk tahun 2023, namun dari sisi bottom line Perseroan laba bersih sebesar Rp 2,7 – Rp 2,9 triliun di 2023. Perolehan laba didukung oleh marjin perseroan yang lebih baik.
Sementara untuk tahun 2024, Perseroan mengantisipasi peningkatan daya beli masyarakat dengan membangun 2 pabrik pengolahan biskuit dan wafer yang berada di Jayanti serta Pasuruan dengan besaran alokasi investasi hingga Rp 4 triliun, yang diestimasi akan beroperasi pada kuartal II-2024.
“Patut diketahui selama 2023 Perseroan belum melakukan penyesuaian harga (ASP) dari produk Perseroan, namun rencananya pada 2024 Perseroan akan melakukan adjustment produk dengan melihat kondisi ekonomi domestik yang ada,’’ urainya. Bila ini dilakukan kinerja Perseroan akan terdampak lebih positif.

