Usai Tetapkan Harga Rights Issue Ini, Saham Pyridam (PYFA) Terbang ARA
JAKARTA, investortrust.id – PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) menetapkan harga pelaksanaan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau rights issue senilai Rp 100 per saham, sehingga total dana yang bakal diraup mencapai Rp 1,07 triliun.
Perseroan bakal menerbitkan sebanyak 10,70 miliar atau setara dengan 95,24% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Sedangkan rasio rihgts issue saham tersbeut berada dalam rentang 1:20. Selain itu diterbitkan sebanyak 178,36 juta waran seri I dengan harga tebus Rp 800 per saham. Nantinya setiap 60 HMETD melekat satu waran.
Baca Juga
Pyridam Farma (PYFA) Berbalik Rugi Rp 85,22 Miliar Tahun 2023
Berdarkan prospektus perseroan diungkap bahwa seluruh dana hasil penerbitan saham baru tersebut akan digunakan untuk setoran modal ke anak ushannya, yaitu PAPL, yang kemudian akan digunakan untuk mengakuisisi Probiotec Limited, yaitu perusahaan di Australia.
Pyridam merupakan perusahaan farmasi yang mayoritas sahamnya dikendalikan Rejuve Global mencapai 40,48%. Sisanya dikuasai DBS Bank Ltd 7,75%, PT Global Investment 5,5%, dan sisanya masyarakat. Rejuve Global sebagai pengendali akan melaksanakan haknya dalam rights issue kali ini.
Jadwal Pelaksanaan Rights Issue PYFA
Sedangkan harga saham PYFA pada perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (5/4/2024), melesat hingga auto reject atas (ARA) dengan kenaikan Rp 205 (24,55%) menjadi Rp 1.044. Lompatan harga tersebut terjadi setelah perseroan menetapkan harga rights isue saham perseroan.
Laporan kinerja keuangan perseroan tahun 2023 mencatatkan rugi tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 85,22 miliar, dibanding periode yang sama tahun buku 2022 dengan laba tahun berjalan Rp 275,24 miliar.
Baca Juga
Pyridam Farma (PYFA) Terbitkan Obligasi Rp 400 Miliar, Tawarkan Kupon 9,50%
Posisi rugi yang dibukukan membuat perseroan mencatat rugi per saham dasar sebesar Rp 159,27. Berbanding terbalik dari periode yang sama tahun 2022 yang mencatatkan laba per saham dasar sebesar Rp 514,39.
Rugi tersebut dipicu perlambatan penjualan menjadi Rp 702,06 miliar tahun 2023, turun 1,81% secara year on year (yoy) menjadi Rp 715,42 miliar. Sementara beban pokok penjualan turun menjadi Rp 406,75 miliar dari Rp 464,58 miliar. Alhasil laba kotor yang dibukukan Perseroan mencapai Rp 295,31 miliar pada tahun buku 2023, naik dari Rp 250,84 miliar pada tahun 2022.

