Saat Asing Terus Jual Saham, Mirae Ungkap Strategi Investasi untuk Hadapi IHSG Bearish
JAKARTA, investortrust.id – Ambruknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga kembali menembus ke bawah level 5.000 menjadi tantangan sekaligus peluang bagi investor untuk menyusun strategi investasi.
IHSG sesi I ditutup anjlok 2,62% ke 4.963, Selasa (3/11/2026), Pelemahan IHSG juga tercermin dari mayoritas saham yang diperdagangkan. Sebanyak 542 saham terkoreksi, hanya 94 saham menguat, sedangkan 79 saham lainnya bergerak stagnan.
Di tengah tekanan jual asing yang masih konsisten, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M Nafan Aji Gusta menyarankan, investor mulai mencermati saham-saham berfundamental solid, berharga undervalued, serta menunjukkan sinyal pembalikan arah (reversal) untuk menangkap peluang di tengah gejolak pasar.
Baca Juga
IHSG Makin Terpuruk Jatuh ke 4.963, Analis Sebut Tren Penurunan Belum Selesai
“Fokus pada saham-saham yang dinilai undervalued, fokus pada saham-saham yang menunjukkan indikasi pembalikan arah (reversal), terapkan juga manajemen risiko secara disiplin,” pesan Nafan.
Terkait kejatuhan IHSG ke bawah 5.000, dia mengatakan, akibat aksi jual bersih (net sell) investor asing yang berlangsung secara konsisten. Selain arus keluar dana asing, pelemahan nilai tukar rupiah juga menjadi tantangan bagi pasar saham domestik. Rupiah yang berada di kisaran Rp18.156 per dolar AS berpotensi meningkatkan persepsi risiko investasi di Indonesia.
“Tekanan terhadap IHSG masih cukup besar karena konsistensi net sell asing secara harian. Selain itu, pelemahan Rupiah yang berada di kisaran Rp 18.156 per dolar AS turut menjadi tantangan karena dapat meningkatkan persepsi risiko investasi di pasar domestik,” tegas Nafan melalui pesan singkat.
Menurut Nafan, terdapat sejumlah sentimen domestik yang memengaruhi pergerakan IHSG. Selain aksi jual investor asing dan pelemahan rupiah, pelaku pasar juga mencermati perkembangan reformasi pasar modal serta menantikan evaluasi MSCI berikutnya pada 11 November 2026.
Baca Juga
PMI Manufaktur Tertinggi dalam 31 Bulan, Menperin: Industri RI Bergerak ke Arah Lebih Baik
Meski demikian, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup solid dan berpotensi menjadi penopang pasar saham. Hal tersebut tercermin dari inflasi Indonesia pada Oktober 2026 yang melandai menjadi 3,23% secara tahunan (year on year/yoy). Selain itu, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus US$3,36 miliar per September 2026.
Indikator lainnya adalah indeks aktivitas manufaktur atau Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur yang meningkat menjadi 54,0 dari sebelumnya 52,4. Posisi tersebut menunjukkan sektor manufaktur masih berada di zona ekspansi.
Faktor Eksternal
Dari eksternal, pelaku pasar turut mencermati pemilihan umum paruh waktu Amerika Serikat (US midterm elections) pada 3 November 2026. Hasil pemilu tersebut akan menentukan konfigurasi kekuatan politik di Kongres AS sekaligus memengaruhi arah kebijakan pemerintahan Donald Trump. Sejumlah sektor yang berpotensi terdampak antara lain industri teknologi, pembangunan infrastruktur pusat data, kebijakan fiskal, pertahanan, dan kesehatan.
Nafan menjelaskan, apabila Partai Demokrat berhasil menguasai DPR maupun Senat, pengawasan terhadap perusahaan teknologi dan investasi pusat data berpotensi meningkat. Kondisi tersebut dapat memunculkan ketidakpastian baru bagi saham-saham berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
“Apabila Partai Demokrat berhasil menguasai DPR maupun Senat, terdapat potensi peningkatan pengawasan terhadap perusahaan teknologi dan investasi pusat data, sehingga dapat memunculkan ketidakpastian baru bagi saham-saham AI,” ungkap Nafan.
Baca Juga
Data Center Cikarang Full Booked! NeutraDC Siapkan Ekspansi Besar-besaran
Kendati demikian, Nafan mengingatkan bahwa dampak pemilu AS perlu dicermati secara proporsional. Sebab, fundamental ekonomi dan kinerja korporasi tetap menjadi faktor utama yang menentukan arah pasar dalam jangka menengah hingga panjang.
Sentimen positif lainnya datang dari pasar komoditas. Harga minyak mentah Brent sempat melemah sekitar 7,6% menjadi US$104,81 per barel. Penurunan ini meredakan sebagian kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi energi.
Pelemahan harga minyak dipicu harapan penyelesaian diplomatik konflik AS-Israel dengan Iran yang berpotensi mengurangi risiko gangguan pasokan minyak global. Jika harga energi dapat terus terkendali, tekanan inflasi berpeluang berkurang sehingga memberikan ruang lebih besar bagi stabilitas kebijakan moneter.
