Margin Pakan Tertekan, Mirae Asset Ungkap Prospek Saham CPIN
JAKARTA, investortrust.id – Mirae Asset Sekuritas Indonesia memangkas target harga saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dari Rp3.550 menjadi Rp3.300. Meski target harga diturunkan, Mirae Asset tetap merekomendasikan beli saham emiten perunggasan tersebut karena prospek pemulihan kinerja pada kuartal IV-2026 masih terbuka.
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andreas Saragih menjelaskan, penyesuaian target harga saham CPIN terutama dipengaruhi penurunan valuasi perseroan dalam beberapa bulan terakhir. Kekhawatiran MSCI terhadap transparansi pasar dinilai turut menekan kepercayaan investor sehingga berdampak pada penurunan multiple valuasi saham.
“Karena kekhawatiran MSCI atas transparansi pasar memukul kepercayaan investor dan multiple yang lebih rendah telah menurunkan rata-rata lima tahun,” tulis Andreas dalam risetnya, Selasa (3/11/2026).
Baca Juga
AMPI Dukung Bahlil Larang Ekspor SDA Transit di Negara Perantara: Demi Kedaulatan
Dalam menentukan target harga terbaru, Mirae Asset menggunakan basis valuasi tahun buku 2027 dengan target multiple 1,5 standar deviasi di bawah rata-rata EV/EBITDA lima tahun. Dengan pendekatan tersebut, saham CPIN kini dihargai sebesar 4,7 kali EV/EBITDA berdasarkan estimasi 2027, lebih rendah dibandingkan valuasi sebelumnya sebesar 5,5 kali berdasarkan estimasi 2026.
Kendati menurunkan target harga, Mirae Asset tidak mengubah proyeksi kinerja keuangan CPIN untuk 2026 dan 2027. Pasalnya, realisasi kinerja perseroan selama sembilan bulan pertama 2026 masih sejalan dengan ekspektasi analis maupun konsensus pasar.
Sepanjang Januari-September 2026, CPIN membukukan pendapatan Rp60,2 triliun atau tumbuh 19% secara tahunan (year on year/yoy). Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk (PATMI) meningkat 54% yoy menjadi Rp5,2 triliun. Sementara itu, EBITDA tumbuh 30,7% yoy menjadi Rp7,8 triliun.
Pencapaian tersebut masing-masing telah mencapai 75% dari estimasi pendapatan, 76% dari proyeksi PATMI, dan 74% dari target EBITDA Mirae Asset untuk sepanjang 2026.
Peluang Pemulihan Margin
Meski kinerja kumulatif masih sesuai ekspektasi, CPIN menghadapi tekanan pada segmen pakan ternak selama kuartal III-2026. Permintaan yang melemah membuat perseroan kesulitan meneruskan kenaikan biaya bahan baku kepada konsumen melalui penyesuaian harga jual pakan.
Tekanan tersebut semakin terasa di tengah kenaikan harga jagung yang rata-rata mencapai Rp6.584 per kilogram pada kuartal III-2026, meningkat 24,9% yoy.
Baca Juga
Harga Minyak Turun Dua Hari Beruntun, Pasar Menanti Kesepakatan AS-Iran
Pendapatan segmen pakan sebenarnya masih tumbuh 39,7% yoy menjadi Rp7,4 triliun. Namun, margin laba operasional (operating profit margin/OPM) justru turun menjadi 12,5%, level terendah sejak kuartal III-2022.
Akibatnya, laba operasional segmen pakan hanya mencapai Rp923 miliar, tumbuh tipis 0,9% yoy dan terkoreksi 25,5% secara kuartalan.
Kendati demikian, Mirae Asset melihat peluang pemulihan margin pakan pada kuartal IV-2026. Peningkatan konsumsi ayam menjelang libur akhir tahun diperkirakan memberikan ruang bagi produsen untuk menaikkan harga jual pakan. Secara historis, rata-rata OPM segmen pakan pada kuartal IV dalam lima tahun terakhir mencapai 26,6%. Angka tersebut lebih tinggi 5,7 poin persentase dibandingkan rata-rata kuartal III sebesar 20,9%.
