Margin Keuntungan Pulih, Prospek Tiga Saham Peternakan dan Pakan Ayam Dikerek Naik
JAKARTA, investortrust.id – BRI Danareksa Sekuritas menaikkan prospek keuangan dan saham emiten sektor peternakan ayam hingga pakan ternak. Tingkat pertumbuhan laba bersih emiten ini diperkirakan mencapai 36% sepanjang tahun ini.
Hal ini mendorong BRI Danareksa Sekuritas menaikkan prospek saham emiten ini menjadi overweight. Saham PT Charoend Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) direkomendasikan beli dengan target Rp 5.900, saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) direkomendasikan beli dengan target harga Rp 1.500, dan PT Malindo Feedmill Indonesia Tbk (MAIN) direkomendasikan beli dengan target harga Rp 850.
Baca Juga
Pekan ke-3 April, Harga Daging Ayam, Bawang Merah hingga Daging Sapi Melonjak
“Kami memperkirakan margin keuntungan emiten sektor poultry akan meningkat, seiring dengan penurunan harga bahan baku dan stabilnya harga jual daging ayam di pasaran,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas Victor Stefano dan Wilastita Muthian Sofi dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, hari ini.
Berdasarkan data, margin keuntungan pakan ayam telah mulai kembali ke level sebelum pandemi berkisar 11%, dibandingkan posisi saat ini sekitar 9%. Margin keuntungan optimistis tercapai setelah dampal El nino mulau turun ditunjukkan dengan penurunan harga jagung dalam beberapa bulan terakhir.
Begitu juga dengan harga bungkil kedelai, bahan baku pembuatan pakan ternak, telah turun mencapai 27% menjadi US$ 346 per ton saat ini. Angka tersebut lebih rendah dari asumsi mencapai US$ 411 per ton sepanjang 2024. Adapun harga ayam relative stabil dalam beberapa bulan terakhir.
Baca Juga
Emiten Ayam Goreng Nelongso (BAIK) Bidik Pertumbuhan Laba 70%
“Sejumlah faktor tersebut memperkuat keyakinan terhadap pulihnya margin keuntungan penjualan pakan ternak. Dengan demikian target kenaikan margin sebanyak 90 bps tahun 2024 optimistis tercapai,” tulisnya.
Selain faktor penurunan harga bahan baku, BRI Danareksa Sekuritas mengungkap, terjadinya penurunan impor induk ayam (GPS) yang berimbas terhadap keseimbangan suplai dan permintaan ayam. Penurunan impor setelah pemerintah memangkas turun kuota impor PGS dari 660 ribu ekor menjadi 560 ribu ekor atau pemangkasa sebanyak 15%.
Terkait pergerakan harga saham poultry, BRI Danareksa Sekuritas mencatatkan, harga saham emiten peternakan ayam saat ini sudah tak mencerminkan fundamental dan tren perbaikan kinerja keuangan. Hal ini menjadi peluang besar terhadap saham sektor ini.
Grafik Saham CPIN, JPFA, dan MAIN Ytd

