Mirae Asset Pasang Sikap Selektif Saham Bank Waspadai Tekanan Asing dan Kenaikan Biaya Dana
JAKARTA, investortrust.id – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia merekomendasikan investor untuk selektif memilih saham perbankan di tengah tekanan jual investor asing, pelemahan nilai tukar rupiah, dan kenaikan biaya dana yang berpotensi menekan margin bunga bersih atau net interest margin (NIM).
Di tengah ketidakpastian terkait usulan reklasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI, Mirae Asset tetap berpandangan positif terhadap saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS). Keduanya dinilai memiliki faktor pendukung pertumbuhan di tengah tantangan likuiditas dan pendanaan perbankan.
Baca Juga
Kredit dan Efisiensi Jadi Katalis, Target Saham Bank Mandiri (BMRI) Direvisi Naik!
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan tekanan jual asing dan pelemahan rupiah menjadi faktor penting yang perlu dicermati pelaku pasar. “Kondisi tersebut juga meningkatkan pentingnya selektivitas investor dalam memilih saham perbankan dengan fundamental pendanaan yang kuat,” ujar Rully, Selasa (27/10/2026).
Pada perdagangan sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 1,22%, mengoreksi sebagian kenaikan pada pekan sebelumnya. Investor asing kembali mencatatkan net sell harian yang meningkat hingga melampaui Rp2 triliun. Sementara itu, rupiah ditutup di atas Rp18.100 per dolar AS.
Menurut Rully, pelemahan kedua aset tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap prospek investasi dan kerentanan eksternal Indonesia. Meski pembelian investor domestik sejauh ini membantu menyerap arus dana keluar asing (outflow), peningkatan tekanan jual memunculkan pertanyaan mengenai keberlanjutan dukungan tersebut.
Baca Juga
Konsisten Buyback Saham, BRI (BBRI) Optimistis Fundamental dan Pertumbuhan Jangka Panjang
“Dengan ketidakpastian MSCI yang belum mereda dan tekanan eksternal yang meningkat, kami tetap berhati-hati. Arus dana asing dan stabilitas rupiah akan semakin menentukan kemampuan IHSG mempertahankan pemulihannya,” jelas Rully.
Di tengah volatilitas pasar, perkembangan fundamental perbankan juga menjadi perhatian. Berdasarkan analisis riset Mirae Asset, pertumbuhan kredit perbankan melambat menjadi 12,7% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada September 2026, dibandingkan 13,3% pada Agustus 2026. Di sisi lain, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) membaik menjadi 8,2% secara tahunan dengan total dana mencapai Rp9.896 triliun.
