Mirae Asset: Belanja Masyarakat Naik, Porsi Tabungan Terus Tergerus
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Kemampuan keuangan rumah tangga Indonesia semakin tertekan, seiring meningkatnya porsi pendapatan untuk konsumsi dan menyusutnya alokasi tabungan. Kondisi ini menjadi sinyal bahwa ruang keuangan masyarakat semakin terbatas, meskipun kepercayaan konsumen masih berada di zona optimistis.
Dalam riset yang dirilis Rabu (14/10/2026), analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Novani Karina Saputri mencatat, porsi pendapatan masyarakat yang digunakan untuk konsumsi meningkat dari 72,3% pada Mei 2026 menjadi 74,9% pada September 2026. Sebaliknya, porsi pendapatan yang dialokasikan untuk tabungan turun dari 17,5% menjadi 15,4% dalam periode yang sama. Penurunan tersebut berlangsung selama lima bulan berturut-turut.
Mirae Asset menilai peningkatan porsi konsumsi di tengah penurunan alokasi tabungan menunjukkan rumah tangga menghadapi ruang keuangan yang semakin sempit. “Rumah tangga mempertahankan konsumsi dengan ruang yang semakin terbatas untuk menabung,” tulis Novani dalam risetnya, Rabu (14/10/2026).
Baca Juga
Tekanan tersebut terutama terlihat pada kelompok masyarakat dengan pengeluaran bulanan Rp 3,1-5 juta. Pada kelompok pengeluaran Rp 3,1-4 juta, porsi konsumsi meningkat 2,4 poin persentase menjadi 75%. Sementara itu, kelompok pengeluaran Rp 4,1-5 juta mencatat kenaikan 2 poin persentase menjadi 74,3%.
Di tengah tekanan keuangan rumah tangga, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) masih berada di zona optimistis pada level 118,1 pada September 2026. Namun, indeks tersebut sedikit menurun dibandingkan posisi 118,5 pada Agustus 2026. Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) justru meningkat dari 127,6 menjadi 128,7. Sebaliknya, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) turun dari 109,4 menjadi 107,5, mencerminkan melemahnya penilaian masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini.
Mirae Asset menilai optimisme konsumen belum cukup untuk memastikan pemulihan konsumsi yang lebih luas. Perbaikan tersebut masih membutuhkan dukungan peningkatan pendapatan, kondisi ketenagakerjaan, dan realisasi penjualan.
“Optimisme konsumen masih menjadi indikator yang dinamis dan memerlukan konfirmasi dari peningkatan pendapatan, lapangan kerja, serta penjualan aktual sebelum dapat menandakan pemulihan konsumsi yang lebih luas,” terangnya.
Baca Juga
Survei BI: Konsumsi Masyarakat Naik, Tabungan Turun pada Agustus 2026
Indikasi pemulihan terlihat dari pertumbuhan Indeks Penjualan Riil (IPR) Bank Indonesia yang mencapai 1,1% secara tahunan pada Juli 2026, kemudian meningkat menjadi 1,3% pada Agustus 2026. Capaian tersebut membaik setelah penjualan ritel terkontraksi 3% pada Juni 2026.
Secara bulanan, penjualan ritel pada Agustus 2026 tumbuh 0,8%, berbalik dari penurunan 0,1% pada Juli 2026. Meski demikian, Mirae Asset menilai perbaikan tersebut masih terbatas dan belum mencerminkan penguatan permintaan yang merata.
Hal ini terlihat dari perbedaan kinerja penjualan antarproduk. Penjualan pakaian merosot 12,4% secara tahunan pada Agustus 2026, sedangkan peralatan informasi dan komunikasi turun 10,9%. Penjualan perlengkapan rumah tangga juga terkoreksi 5,2%.
Sebaliknya, penjualan makanan, minuman, dan tembakau tumbuh 2,6%, sementara kendaraan bermotor dan aksesori meningkat 3,9%. Perbedaan tersebut menunjukkan pertumbuhan penjualan masih terkonsentrasi pada beberapa kelompok barang.
Baca Juga
IHSG Ditutup Rebound 0,29%, Sebanyak 6 Saham Ditutup ARA Dipimpin Saham TRON
Tekanan daya beli juga berpotensi meningkat seiring inflasi umum September 2026 yang mencapai 3,28% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan inflasi inti sebesar 2,84%.
Menurut Mirae Asset, apabila kenaikan harga terkonsentrasi pada kebutuhan rutin yang sulit dihindari, rumah tangga berpotensi mempertahankan belanja kebutuhan pokok dengan mengurangi pengeluaran yang tidak mendesak atau menekan tabungan.
Kredit Konsumsi Melambat
Dari sisi pembiayaan, pertumbuhan kredit konsumsi perbankan tercatat sebesar 5,07% secara tahunan pada Agustus 2026. Angka tersebut jauh di bawah pertumbuhan kredit perbankan secara keseluruhan yang mencapai 13,65%.
Mirae Asset menilai pertumbuhan kredit konsumsi tersebut belum memberikan konfirmasi kuat bahwa pembiayaan perbankan telah mendorong percepatan belanja rumah tangga.
Baca Juga
Survei SNLIK 2026: 62,51% Masyarakat Tahu Simpanan Bank Dijamin LPS
Sementara itu, rasio kredit bermasalah bruto atau gross non-performing loan (NPL) masih terkendali di level 2,11%. Namun, rasio kredit berisiko atau loan at risk (LaR) meningkat dari 8,39% menjadi 8,56%.
Menyikapi kondisi tersebut, Mirae Asset mempertahankan pendekatan selektif terhadap saham perbankan dengan mengutamakan bank yang memiliki likuiditas memadai dan kualitas aset yang tangguh.
Untuk obligasi pemerintah dan reksa dana pendapatan tetap, Mirae Asset menyarankan investor mempertahankan investasi yang memberikan pendapatan berkala dengan durasi terbatas. Perpanjangan jatuh tempo investasi dapat dilakukan secara bertahap seiring membaiknya inflasi dan stabilitas rupiah.
