Kepercayaan Konsumen Melemah, Mirae Asset Soroti Pola Belanja Makin Defensif
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Mirae Asset Sekuritas Indonesia mencermati penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) selama tiga bulan terakhir. Penurunan ini menjadi sinyal peningkatan kehati-hatian rumah tangga di tengah ketidakpastian ekonomi dan tekanan global.
IKK tercatat turun menjadi 122,9 pada Maret 2026 dari 125,2 pada Februari, sekaligus menjadi level terendah dalam lima bulan terakhir. Meski masih berada di zona optimistis (di atas 100), tren ini dinilai mencerminkan pelemahan ekspektasi ke depan dibandingkan kondisi saat ini.
Baca Juga
Autopedia (ASLC) Siapkan Buyback Rp 20 Miliar, Manajemen Nilai Harga Saham Masih Undervalued
Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Novani Karina Saputri menjelaskan, penurunan tersebut mulai memengaruhi pola konsumsi masyarakat. Pelemahan paling dalam terjadi pada ekspektasi aktivitas usaha yang turun 5,4 poin, diikuti ekspektasi lapangan kerja yang melemah 3,7 poin, serta ekspektasi pendapatan yang turun 3,0 poin.
“Penurunan IKK selama tiga bulan berturut-turut menunjukkan ekspektasi konsumen yang terus melemah. Meski masih di atas 100, konsumsi rumah tangga tetap menopang pertumbuhan, namun dengan pola yang lebih defensif,” ujar Novani di Jakarta, Selasa (14/4/2026).
Menurutnya, belanja masyarakat kini cenderung difokuskan pada kebutuhan pokok, sementara pembelian barang tahan lama dan diskresioner mulai tertahan.
Baca Juga
IKK Nasional Tetap Optimistis, Tetapi Melambat, Kesenjangan Daya Tahan Konsumen Masih Lebar
Tekanan lebih besar terlihat pada kelompok menengah ke atas dengan pengeluaran bulanan Rp 2,1-4 juta dan di atas Rp 5 juta yang lebih sensitif terhadap perubahan kondisi makro. Di sisi lain, meningkatnya porsi konsumsi pada kelompok berpendapatan rendah mengindikasikan mulai tertekannya daya beli segmen rentan.
Novani menambahkan, kondisi pasar tenaga kerja menjadi faktor kunci yang memengaruhi kepercayaan konsumen saat ini. Tekanan tersebut diperburuk oleh inflasi energi dan pelemahan nilai tukar rupiah yang mendorong kenaikan harga barang impor, sehingga menggerus daya beli riil.
Pemulihan konsumsi ke depan dinilai sangat bergantung pada stabilitas lapangan kerja, pengendalian inflasi, serta kejelasan arah kebijakan fiskal.

