BCA (BBCA) Dipatok Rp 8.600, Potensi Cuan Saham BCA Masih 70% Lebih?
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dipertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp 8.600 didukung pemulihan net interest margin (NIM), pertumbuhan kredit yang lebih cepat, serta perbaikan kualitas aset hingga kuartal III-2026. Target harga ini juga mempertimbangkan proyeksi laba dan valuasi BBCA yang relatif tidak berubah.
Adapun pada perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pagi ini, Rabu (28/10/2026), saham BBCA terpantau menguat Rp 150 (3,06%) ke level Rp 5.050. Saham BBCA menjadi penahan kejatuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) pagi ini.
BRI Danareksa Sekuritas dalam rsiet pagi ini menyebutkan bahwa rekomendasi beli saham BBCA dengan target harga Rp 8.600 menggunakan metode Gordon Growth Model (GGM) dengan asumsi cost of equity (CoE) 8% dan nilai wajar price to book value (PBV) 3,5 kali. Target ini juga mempertimbangkan Kinerja BBCA pada kuartal III-2026 yang solid, yaitu laba bersih Rp 15,7 triliun pada kuartal III, tumbuh 6% secara kuartalan (quarter-on-quarter/QoQ) dan 9% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Baca Juga
Laba BCA (BBCA) Naik 4,2% Tembus Rp 45,2 Triliun di Kuartal III 2026, Kredit Tumbuh 12,6%
Dengan demikian, laba bersih BBCA selama sembilan bulan pertama 2026 mencapai Rp 45,2 triliun, meningkat 4% YoY. Realisasi tersebut setara dengan 75% dari proyeksi laba tahun penuh 2026 yang disusun analis maupun konsensus. Salah satu faktor utama yang menopang kinerja BBCA adalah pemulihan NIM. NIM bank saja (bank-only) meningkat 30 basis poin secara kuartalan menjadi 5,6% pada kuartal III-2026, didorong oleh penyesuaian suku bunga kredit korporasi.
Imbal hasil kredit korporasi meningkat 80 basis poin dari titik terendah pada April 2026 menjadi 7,5%. Sementara itu, biaya dana (cost of fund/CoF) tetap stabil di level 1,2%. Perbaikan tersebut mendorong pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) tumbuh 5% QoQ dan 6% YoY menjadi Rp22,5 triliun.
Pendapatan nonbunga juga meningkat 5% QoQ dan 6% YoY, terutama ditopang pendapatan perdagangan yang melonjak 31% secara kuartalan. Hasilnya, laba operasional sebelum pencadangan (pre-provision operating profit/PPOP) naik 5% QoQ dan 3% YoY menjadi Rp20,1 triliun, dengan rasio biaya terhadap pendapatan (cost to income ratio/CIR) sebesar 33,4%. Di sisi pencadangan, beban provisi bersih relatif stabil di kisaran Rp 0,7 triliun. Rasio biaya kredit (cost of credit/CoC) juga bertahan di level 0,3%.
Baca Juga
BCA (BBCA) Optimistis Pertumbuhan Kredit 2026 Tembus Double Digit
Faktor penopang berikutnya adalah pertumbuhan kredit yang solid, terutama dari segmen korporasi. Total kredit BBCA mencapai Rp1.062 triliun pada akhir September 2026, meningkat 3% QoQ dan 12% YoY. Kredit korporasi tumbuh 3% QoQ dan 21% YoY, didorong sektor telekomunikasi, infrastruktur, teknologi informasi, ketenagalistrikan, dan pertanian.
Manajemen BBCA menaikkan panduan pertumbuhan kredit tahun penuh 2026 menjadi 10–11%, dari sebelumnya 8–10%. Namun, manajemen tetap mempertahankan panduan NIM sebesar 5,4–5,6%, CIR sekitar 31%, serta CoC bruto sebesar 40–60 basis poin. NIM diperkirakan bergerak stabil hingga sedikit meningkat apabila Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga.
Meski mempertahankan rekomendasi beli saham BBCA, BRI Danareks Sekuritas mengungkap sejumlah Risiko yang perlu diperhatikan investor. Di antarnaya, pertumbuhan laba yang moderat, ruang kenaikan NIM yang terbatas, serta potensi arus dana asing keluar dari pasar saham.
