Rupiah Melemah ke Rp18.074 per Dolar AS, Ini Sentimen Pemicunya
JAKARTA, investortrust.id – Nilai tukar rupiah bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (23/10/2026). Rupiah terkoreksi 0,08% ke level Rp 18.074 per dolar AS di tengah meningkatnya sentimen penghindaran risiko (risk-off) global.
Ekonom Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Selain itu, eskalasi geopolitik di Timur Tengah dan memburuknya kondisi fiskal Prancis turut menjadi sentimen yang membayangi pergerakan rupiah.
Baca Juga
Ekspansi Tambang, Abadi Nusantara (PACK) Siapkan Dua Aksi Koporasi Jumbo Ini
“Dan memburuknya kondisi fiskal di Prancis. Namun rupiah umumnya masih akan dipengaruhi sentimen di pasar ekuitas domestik, yang apabila masih membaik akan bisa mendukung rupiah,” ujar Lukman.
Pelemahan rupiah terjadi ketika sejumlah mata uang Asia lainnya juga bergerak negatif. Yen Jepang melemah 0,03%, rupee India terkoreksi 0,38%, ringgit Malaysia turun 0,01%, dolar Singapura melemah 0,02%, dan baht Thailand terkoreksi 0,13%. Sebaliknya, won Korea Selatan menguat 0,26% dan peso Filipina naik 0,13%.
Sentimen penghindaran risiko global turut tercermin dari penurunan tajam imbal hasil obligasi pemerintah AS atau Treasury. Investor beralih ke aset yang dianggap lebih aman di tengah aksi jual saham yang dipicu kekhawatiran terhadap pembiayaan industri AI dan lonjakan harga minyak.
Baca Juga
IHSG Dibuka Naik Tipis ke 5.397, Saham ARTA dan STRK Melesat
Pada Kamis (22/10/2026), imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun merosot lebih dari 17 basis poin menjadi 4,972%. Penurunan ini menjadi yang terbesar dalam satu hari sejak 10 Maret 2023.
Level tersebut juga menandai pertama kalinya sejak 23 September imbal hasil obligasi acuan AS itu turun di bawah 5%. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor dua tahun turun lebih dari 16 basis poin menjadi 4,659%. Adapun imbal hasil obligasi bertenor 30 tahun merosot lebih dari 14 basis poin menjadi 5,296%.
Imbal hasil obligasi AS bertenor dua tahun lebih erat mengikuti ekspektasi kebijakan suku bunga jangka pendek Federal Reserve (The Fed), sedangkan tenor 30 tahun lebih sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan risiko jangka panjang.
