Rupiah Melemah Terhadap Dolar AS, Posisi ke Rp 17.612 per Dolar AS
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (11/9/2026). Rupiah melemah 0,37% ke posisi Rp 17.612 per dolar AS.
Pantauan dari papan data Bloomberg, sejumlah mata uang di kawasan Asia bergerak melemah terhadap dolar AS. Yen Jepang berhenti melanjutkan penguatan, dengan melemah 0,02%. Rupee India melemah 0,36%, ringgit Malaysia melemah 0,26%, peso Filipina melemah 0,29%. Sementara itu, baht Tailan bergerak melemah 0,16%.
Di tengah pelemahan tersebut, yuan China menguat 0,02% dan dolar Hong Kong menguat 0,01%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mengatakan indeks dolar AS atau DXY menguat 0,23% menjadi 99,05. Ini didukung oleh kenaikan imbal hasil US Treasury dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
Indeks Harga Produsen (PPI) AS meningkat 0,4% secara month-on-month (mom) pada Agustus 2026, sesuai dengan konsensus, tetapi meningkat lebih cepat dibandingkan 0,1% pada periode sebelumnya.
Sementara itu, PPI secara tahunan meningkat menjadi 5,4% dari 4,8%. Pasar akan mencermati data CPI AS malam ini, dengan inflasi umum (headline) diperkirakan sebesar 0,4% mom dan 3,4% secara tahunan, sementara inflasi inti diperkirakan sebesar 0,2% secara bulanan dan 2,4% secara tahunan.
Baca Juga
Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed kembali meningkat, dengan pasar kini memperkirakan probabilitas sekitar 70% untuk kenaikan 25 basis poin pada pertemuan FOMC 15–16 September, naik dari sekitar 62% sebelum rilis data PPI.
Data ketenagakerjaan yang kuat, tekanan inflasi yang lebih tinggi dalam pipeline, serta kembali meningkatnya tekanan harga energi memperkuat alasan bagi The Fed untuk mengetatkan kebijakan moneter. Namun, data CPI malam ini tetap menjadi katalis terakhir yang paling penting menjelang pertemuan tersebut.
Harga minyak mentah Brent melonjak 6,34% menjadi US$ 107,6 per barel, level tertinggi sejak Mei, setelah serangan yang semakin intensif terhadap kapal dan infrastruktur energi kembali mengganggu jalur pasokan melalui Selat Hormuz dan Laut Merah.
Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran mengambil alih Pelabuhan Mocha di Yaman, sementara lalu lintas kapal tanker di kawasan Teluk masih terbatas. Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya guncangan pasokan energi yang berkepanjangan serta tekanan inflasi global tambahan.
