Saham ISAT dan EXCL Jadi Unggulan di Tengah Awal Siklus Investasi 5G, Bagaimana Prospeknya?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – BRI Danareksa Sekuritas menilai industri telekomunikasi Indonesia mulai memasuki era implementasi 5G yang sesungguhnya. Implementasi ini berpeluang mendongkrak kinerja keuangan sektor ini, meski demikian monetisasi dari era implementasi ini akan berlangsung secara bertahap.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan menjelaskan bahwa emiten telekomunikasi juga didukung atas biaya spektrum 5G yang lebih terkendali, karena alokasi frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz yang relatif seimbang kepada TLKM, ISAT, dan EXCL. Biaya spektrum diperkirakan mencapai Rp 35,8 miliar per MHz untuk pita 700 MHz dan Rp28,5 miliar per MHz untuk pita 2,6 GHz.
“Dengan skema pembayaran satu kali di muka yang lebih ringan, dampak terhadap TLKM diperkirakan hanya sekitar 3,2-4,6% dari EBITDA 2026, lebih rendah dibandingkan ISAT dan EXCL yang mencapai 6,1-9,4%. Dengan demikian beban keuangan operator akan terbantu oleh skema pembayaran spektrum satu kali di muka,” tulis riset tersebut.
Baca Juga
IHSG Cenderung Lanjutkan Penguatan, Tiga Saham Dipimpin BMRI Layak Dilirik
Terkait belanja modal (capex) 5G, BRI Danareksa Sekurtias menyebutkan, diprediksi cenderung meningkat, meski intensitasnya diperkirakan lebih rendah, dibandingkan negara lain di kawasan. Penambahan investasi dibutuhkan untuk mendongkrak penetrasi koneksi 5G di Indonesia yang saat ini masih di bawah 10% dengan cakupan jaringan sekitar 26%, sehingga fase percepatan pembangunan jaringan baru akan dimulai.
Meski demikian, monetisasi 5G dinilai masih menjadi tantangan. Pengalaman regional menunjukkan peningkatan pendapatan justru terbanak berasal dari migrasi pelanggan ke paket yang lebih tinggi, dibandingkan kenaikan tarif data. Di Indonesia, paket 5G saat ini masih dipasarkan dengan diskon sekitar 5,4%, dibandingkan paket 4G sejenis dan memiliki data yield 43% lebih rendah.
Oleh karena itu, monetisasi implementasi 5G masih bergantung pada perluasan cakupan jaringan, peningkatan jumlah pengguna 5G, dan penetrasi perangkat yang mendukung teknologi tersebut. Hal ini mendorong BRI Danareksa untuk meningkatkan pandangan taktis tiga bulan ke depan menjadi overweight saham sektor telekomunikasi dengan pilihan saham PT Indosat Tbk (ISAT) dan PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) sebagai pilihan utama. Sementara itu, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) tetap dipertahankan pada peringkat Neutral.
Baca Juga
Selat Hormuz Siap Dibuka Kembali, Minyak Brent Terjun di Bawah US$ 80
BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan saham ISAT dengan target harga Rp 3.000, EXCL dengan target harga Rp 3.700, dan TLKM dengan target harga Rp 3.750. Saham ISAT menjadi pilihan utama didukung valuasi murah dengan EV/EBITDA 2026 sebesar 3,9 kali atau sekitar 1,7 standar deviasi di bawah rata-rata tiga tahun terakhir. Selain itu, target pertumbuhan EBITDA 2026 sebesar 5,6% secara tahunan masih dipertahankan.
Adapun, saham EXCL dinilai menawarkan profil risiko dan imbal hasil yang semakin menarik karena sebagian besar biaya integrasi pascamerger telah tercermin dalam harga saham. Sinergi dari proses merger diperkirakan mulai terealisasi pada 2027. Saham TLKM tetap dipertahankan pada rekomendasi Neutral karena prospek pertumbuhan jangka pendek yang lebih lemah.
