Akhir Pekan, Rupiah Ditutup Menguat
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah ditutup menguat pada perdagangan akhir pekan, Jumat (01/03/2024) sore. Mata uang Garuda ditutup menguat 15 poin ke level Rp 15.704 per dolar Amerika Serikat, dibandingkan penutupan hari sebelumnya Rp 15.719.
Menguatnya nilai tukar mata uang rupiah, menurut Direktur Utama PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi, didorong oleh sentimen data indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE), yang menempatkan penurunan suku bunga di bulan Juni mendatang sebagai fokus. Indeks Personal Consumption Expenditure (PCE) ini menjadi ukuran inflasi pilihan Federal Reserve di AS.
"Namun, risiko tetap ada. Sementara data menunjukkan pada Kamis, indeks harga PCE turun seperti yang diharapkan pada Januari lalu. Angka tersebut memicu harapan bahwa inflasi akan turun dalam beberapa bulan mendatang, dan memberikan dorongan yang cukup bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga pada Juni nanti," ungkap Ibrahim, Jumat (01/03/2024).
Namun, lanjut Ibrahim, alat CME Fedwatch menunjukkan para pedagang hanya sedikit meningkatkan ekspektasi mereka terhadap penurunan suku bunga pada Juni nanti. Sementara, pertaruhan untuk mempertahankan suku bunga tetap stabil.
Sejumlah pejabat Fed juga memperingatkan bahwa inflasi yang tinggi akan membuat bank sentral tidak terburu-buru untuk mulai melonggarkan kebijakannya, yang menunjukkan bahwa kenaikan inflasi di masa depan kemungkinan akan mengurangi prospek penurunan suku bunga di Juni 2024.
Manufaktur Cina Terus Menyusut
Sedangkan data resmi PMI menunjukkan sektor manufaktur Tiongkok menyusut selama lima bulan berturut-turut di Februari lalu. Menurut Ibrahim, data yang lemah tersebut sebagian besar mengimbangi data yang menunjukkan beberapa perbaikan dalam aktivitas nonmanufaktur, meskipun peningkatan ini sebagian besar disebabkan oleh belanja konsumen yang lebih tinggi selama liburan Tahun Baru Imlek. Tren seperti ini mungkin akan berkurang dalam beberapa bulan mendatang.
Survei swasta terpisah menunjukkan, sektor manufaktur Cina berkembang pada Februari lalu. Namun, data resmi menunjukkan bahwa perusahaan manufaktur terbesar Cina masih berada di bawah tekanan akibat lemahnya permintaan lokal dan luar negeri.

