Inflasi Turun, Kurs Rupiah Ditutup Menguat ke 16.094/USD Jelang Akhir Pekan
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih menunjukkan tren terapresiasi, usai The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuan AS pada Rabu (1/5/2024) lalu dan rilis data inflasi Indonesia April 2024 month to month turun. Dalam penutupan perdagangan menjelang akhir pekan, Jumat (3/5/2024), rupiah menguat tajam 108 poin ke level Rp 16.094/USD berdasarkan pantauan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia.
Menguatnya kurs rupiah terhadap greenback juga terlihat dalam pantauan perdagangan spot antarbank. Dilansir dari Yahoo Finance, hingga Jumat pukul 15.20 WIB rupiah, menguat 99 poin ke Rp 16.080/USD. Sebelumnya, mata uang Garuda berada di posisi Rp 16.179/USD saat penutupan perdagangan kemarin (2/5/2024).
"Melemahnya dolar memberikan ruang bernapas bagi mata uang regional, termasuk rupiah. Itu terlihat dolar AS masih mengalami penurunan besar, (di tengah) prospek Fed Funds Rate tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama," kata analis forex Ibrahim Assuaibi dalam keterangan di Jakarta, Jumat (3/5/2024).
Data nonfarm payrolls AS, yang akan dirilis pada hari Jumat (3/5/2024) waktu setempat, diprakirakan akan menjadi faktor lebih lanjut dalam prospek penentuan suku bunga negara adidaya itu ke depan. Kemudian ia menjelaskan, tanda-tanda kekuatan yang terus-menerus di pasar tenaga kerja memberi The Fed lebih banyak ruang untuk mempertahankan suku bunga higher-for-longer.
"Bank sentral (AS) baru-baru ini memperingatkan bahwa hal itu kemungkinan akan tetap terjadi dalam jangka pendek. Dengan inflasi yang tinggi juga memberi sedikit alasan bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga," kata Ibrahim.
Kemudian ia juga mengatakan The Fed telah mengisyaratkan tidak berniat menaikkan suku bunga lebih lanjut, meski inflasi di negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu tinggi.
Rilis Indeks Harga Konsumen Domestik
Sementara itu, Badan Pusat Statistik telah merilis inflasi indeks harga konsumen (IHK) pada April 2024. Bank Indonesia menilai inflasi tetap terjaga dalam kisaran sasaran 2,5±1%. Inflasi IHK April 2024 tercatat sebesar 0,25 persen (mtm), dan secara tahunan menjadi 3% (year on year).
BI menilai hal itu berkat kerja sama yang apik antara pemerintah dan BI yang telah menjaga inflasi, melalui kebijakan moneter yang konsisten dan sinergi yang erat. Konsistensi ini didukung oleh Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan di berbagai daerah.
Baca Juga
Perkasa! Keputusan The Fed Bikin Kurs Rupiah Dekati Rp 16.000/USD
“BI menilai inflasi inti tetap terjaga, meski inflasi inti pada April 2024 sebesar 0,29% mtm lebih tinggi dari bulan sebelumnya 0,23% (mtm). Ini seiring dengan kenaikan permintaan musiman pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri, serta didorong oleh peningkatan harga komoditas global, khususnya komoditas emas,” kata Direktur Departemen Komunikasi BI Fadjar Majardi dalam keterangan usai rilis data inflasi Indonesia oleh Badan Pusat Statistik (BPS), di Jakarta, 2 Mei 2024.
Selain emas perhiasan, komoditas yang menjadi kontribusi utama dari inflasi inti pada April 2024 yang sebesar 0,29% (mtm) adalah minyak goreng dan gula pasir.
Kelompok administered prices mengalami kenaikan inflasi. Ini terutama dipengaruhi oleh kenaikan tarif angkutan udara dan antarkota, serta sigaret kretek mesin.
Sedangkan kelompok volatile food mengalami deflasi sebesar 0,31% (mtm) pada bulan yang sama. Ini terutama disebabkan oleh penurunan harga cabai merah, beras, dan telur ayam ras.

