Rupiah Menguat Jelang Akhir Pekan, Ditutup di Rp 16.194/USD
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat jelang akhir pekan, Jumat (10/1/2025). Jisdor Bank Indonesia (BI) mencatat kurs rupiah menguat 44 poin (0,27%) untuk ditutup di level Rp 16.194/USD. Diketahui pada penutupan perdagangan terakhir, Jisdor BI mencatat kurs rupiah berada pada posisi Rp 16.238/USD.
Sementara itu kurs rupiah yang ditransaksikan antarbank juga terapresiasi terhadap dolar AS. Kurs rupiah bergerak menguat 15 poin (0,09%) ke level Rp 16.180/USD. Sebelumnya Yahoo Finance mencatatkan kurs rupiah berada pada posisi Rp 16.195/USD.
Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, pasar gelisah menjelang data penggajian nonpertanian untuk bulan Desember, yang akan dirilis hari Jumat, yang kemungkinan akan menjadi faktor dalam prospek suku bunga AS. Data penggajian secara konsisten telah melampaui ekspektasi selama setahun terakhir, di tengah ketahanan yang berkelanjutan di pasar tenaga kerja.
"Tren ini memberi Fed lebih banyak ruang untuk mempertimbangkan pemotongan suku bunga di masa mendatang," kata Ibrahim melalui keterangan tertulis, Jumat (10/1/2025).
Baca Juga
Jelang Akhir Pekan Rupiah Bergerak Menguat ke Level Rp 16.183/USD
Risalah rapat bank sentral bulan Desember menunjukkan minggu ini bahwa para pembuat kebijakan berhati-hati dalam memangkas suku bunga lebih lanjut, di tengah inflasi yang lesu dan tanda-tanda ketahanan di pasar tenaga kerja. Pejabat Fed juga terlihat mengungkapkan beberapa kekhawatiran atas tekanan inflasi dari kebijakan proteksionis dan ekspansif di bawah Presiden terpilih Donald Trump.
"Ketidakpastian atas rencananya diperkirakan akan meningkat menjelang pelantikannya pada tanggal 20 Januari," tandasnya.
Dari pasar Asia, data inflasi China yang lemah yang dirilis pada hari Kamis memicu taruhan bahwa Beijing akan didorong untuk membuka lebih banyak stimulus, terutama langkah-langkah fiskal yang bertujuan untuk menopang pengeluaran swasta.
Ancaman kenaikan tarif perdagangan AS juga diperkirakan akan mendorong Beijing untuk memberikan lebih banyak stimulus guna melindungi ekonomi China, yang telah bergulat dengan pertumbuhan yang lesu selama bertahun-tahun.

